Badan Pegal Tak Selalu Boleh Dipijat
- 31 Jul 2026 19:52 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID,Gorontalo - Rasa pegal pada tubuh merupakan keluhan yang hampir pernah dialami setiap orang. Aktivitas yang padat, bekerja dalam posisi yang sama dalam waktu lama, kurang beristirahat, hingga olahraga dengan intensitas tinggi sering kali menjadi penyebab munculnya rasa nyeri dan pegal di berbagai bagian tubuh. Keluhan ini dapat dirasakan di leher, bahu, punggung, pinggang, lengan, pergelangan tangan, betis, bahkan hingga seluruh tubuh sehingga mengganggu produktivitas sehari-hari.
Di Indonesia, pijat menjadi salah satu solusi yang paling populer untuk mengatasi badan pegal. Banyak orang memilih pijat karena dianggap mampu meredakan ketegangan otot dan memberikan rasa nyaman dalam waktu singkat. Namun, para ahli mengingatkan bahwa tidak semua kondisi pegal boleh diatasi dengan pijat. Pada beberapa kasus, pijat justru dapat memperburuk kondisi apabila penyebab pegal berasal dari cedera, peradangan, infeksi, atau gangguan kesehatan tertentu.
Karena itu, memahami penyebab rasa pegal menjadi langkah pertama sebelum menentukan cara penanganan yang tepat. Pegal dapat muncul akibat kelelahan otot setelah berolahraga, posisi duduk atau berdiri yang tidak ergonomis, kurang bergerak dalam waktu lama, stres, kurang tidur, hingga kekurangan nutrisi tertentu seperti vitamin D dan magnesium. Selain itu, beberapa penyakit seperti infeksi virus, gangguan saraf, radang sendi, hingga gangguan sirkulasi darah juga dapat menimbulkan keluhan pegal pada tubuh.
Apabila penyebabnya hanya kelelahan otot ringan atau aktivitas fisik, terdapat berbagai cara sederhana yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah untuk membantu meredakan keluhan tersebut.
Salah satu langkah pertama adalah memberikan kompres pada bagian tubuh yang terasa pegal. Kompres dingin dianjurkan apabila pegal muncul setelah olahraga berat atau cedera ringan. Kompres ini sebaiknya dilakukan dalam kurun waktu 24 hingga 48 jam pertama karena mampu membantu mengurangi pembengkakan dan peradangan pada jaringan otot.
Setelah melewati dua hari, kompres hangat menjadi pilihan yang lebih tepat. Suhu hangat membantu melebarkan pembuluh darah sehingga aliran darah menuju otot menjadi lebih lancar. Kondisi tersebut dapat mempercepat proses pemulihan sekaligus mengurangi rasa kaku dan nyeri yang masih dirasakan.
Selain itu, memperbaiki postur tubuh juga sangat penting, terutama bagi pekerja kantoran yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer. Duduk dengan posisi yang kurang tepat dapat memberikan tekanan berlebih pada leher, bahu, dan punggung sehingga memicu nyeri otot.
Penggunaan kursi ergonomis, pengaturan tinggi meja kerja yang sesuai, serta posisi layar komputer sejajar dengan pandangan mata dapat membantu mengurangi risiko tersebut. Tak kalah penting, setiap 30 hingga 60 menit seseorang dianjurkan berdiri sejenak, berjalan ringan, atau melakukan peregangan sederhana agar sirkulasi darah tetap lancar dan otot tidak mengalami ketegangan berkepanjangan.
Olahraga secara rutin juga menjadi salah satu cara efektif untuk mengurangi sekaligus mencegah badan pegal. Meski terdengar bertolak belakang, aktivitas fisik yang dilakukan dengan teknik yang benar justru mampu meningkatkan kekuatan otot, memperbaiki fleksibilitas tubuh, dan melancarkan aliran darah.
Beberapa jenis olahraga ringan yang direkomendasikan antara lain berjalan kaki, berenang, bersepeda santai, yoga, maupun senam peregangan. Aktivitas tersebut membantu mengurangi ketegangan otot sekaligus meningkatkan kebugaran tubuh secara keseluruhan. Namun, olahraga sebaiknya dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan agar tidak memicu cedera.
Faktor nutrisi juga memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan otot. Kekurangan vitamin D, magnesium, maupun protein dapat menyebabkan otot lebih mudah lelah dan pegal. Vitamin D membantu menjaga fungsi otot dan tulang, sementara magnesium berperan dalam proses kontraksi dan relaksasi otot. Adapun protein dibutuhkan tubuh untuk memperbaiki jaringan otot yang mengalami kerusakan setelah beraktivitas.
Kebutuhan nutrisi tersebut dapat dipenuhi melalui konsumsi makanan bergizi, seperti sayuran hijau, kacang-kacangan, biji-bijian, pisang, telur, ikan sarden, ikan salmon, susu, yoghurt, hingga daging ayam tanpa lemak.
Selain makanan bergizi, minuman tradisional seperti wedang jahe juga dipercaya mampu membantu meredakan pegal. Jahe mengandung senyawa aktif bernama gingerol yang memiliki sifat antiinflamasi dan antioksidan. Senyawa tersebut membantu mengurangi peradangan pada otot dan sendi, sekaligus memberikan efek hangat yang membuat tubuh terasa lebih rileks.
Meski pijat menjadi pilihan yang sangat populer di masyarakat, penggunaannya tetap harus disesuaikan dengan kondisi tubuh. Pijat relatif aman apabila pegal disebabkan oleh stres, kelelahan setelah bekerja, postur tubuh yang kurang baik, atau aktivitas fisik yang berat. Teknik pijat yang tepat dapat membantu melancarkan sirkulasi darah, mengurangi ketegangan otot, dan memberikan efek relaksasi.
Sebaliknya, pijat sebaiknya tidak dilakukan apabila pegal disertai demam, memar, pembengkakan, luka terbuka, infeksi, atau nyeri hebat akibat cedera. Pada kondisi tersebut, tindakan pijat justru berpotensi memperparah peradangan dan memperlambat proses penyembuhan. Oleh karena itu, pemeriksaan medis menjadi pilihan yang lebih aman.
Istirahat yang cukup juga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan tubuh. Tidur selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam memberikan kesempatan bagi tubuh untuk memperbaiki jaringan otot yang rusak, menyeimbangkan hormon, serta memulihkan energi yang terkuras selama beraktivitas.
Jika berbagai cara alami belum mampu mengurangi rasa pegal, penggunaan obat pereda nyeri seperti paracetamol dapat dipertimbangkan sesuai aturan pakai. Penggunaan minyak gosok atau krim pereda nyeri juga dapat memberikan sensasi hangat yang membantu meredakan ketegangan otot sementara.
Namun, masyarakat diimbau tidak mengabaikan rasa pegal yang berlangsung lama. Segera berkonsultasi dengan dokter apabila keluhan disertai demam, kemerahan, pembengkakan, mati rasa, kelemahan anggota tubuh, kesulitan bergerak, atau tidak membaik meskipun telah melakukan perawatan mandiri selama lebih dari satu minggu. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan tidak ada penyakit serius yang menjadi penyebabnya.
Di era modern yang serba cepat seperti sekarang, stres juga menjadi salah satu faktor yang sering memicu munculnya keluhan pegal. Saat seseorang mengalami tekanan psikologis, tubuh akan meningkatkan ketegangan otot sebagai respons alami. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus tanpa diimbangi istirahat yang cukup, rasa pegal dapat muncul hampir di seluruh tubuh.
Karena itu, menjaga pola hidup sehat menjadi langkah terbaik untuk mencegah badan pegal. Mengatur waktu istirahat, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memenuhi kebutuhan cairan, menjaga postur tubuh saat bekerja, serta mengelola stres dengan baik merupakan kebiasaan sederhana yang dapat membantu menjaga kesehatan otot dan meningkatkan kualitas hidup. Dengan mengenali penyebab pegal sejak dini dan memilih penanganan yang tepat, masyarakat dapat terhindar dari risiko komplikasi sekaligus tetap menjalani aktivitas sehari-hari dengan nyaman dan produktif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....