Kenali Gejala Diabetes

  • 31 Jul 2026 19:53 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID,Gorontalo - Gula darah atau glukosa darah merupakan salah satu komponen penting yang dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi utama untuk menjalankan berbagai aktivitas. Setiap makanan yang mengandung karbohidrat, baik nasi, kentang, jagung, roti, umbi-umbian, sayuran, buah-buahan, maupun madu, akan diolah oleh sistem pencernaan menjadi glukosa. Selanjutnya, glukosa tersebut diserap oleh usus halus dan dialirkan melalui pembuluh darah menuju seluruh sel tubuh untuk digunakan sebagai bahan bakar dalam menjalankan berbagai fungsi organ.

Dilansir dari laman keslan.kemkes.go.id keselamatan dan Kesehatan Laboratorium (Keslan) Kementerian Kesehatan RI, tidak semua glukosa langsung digunakan sebagai energi. Sebagian akan disimpan dalam bentuk glikogen di hati dan otot sebagai cadangan energi yang sewaktu-waktu dapat digunakan ketika tubuh membutuhkan tambahan tenaga. Proses penyimpanan dan penggunaan glukosa ini berlangsung secara alami dan dikendalikan oleh dua hormon penting yang diproduksi pankreas, yaitu insulin dan glukagon.

Insulin berfungsi membantu glukosa masuk ke dalam sel tubuh sehingga dapat dimanfaatkan sebagai energi. Sebaliknya, glukagon berperan meningkatkan kadar gula darah ketika tubuh kekurangan glukosa, misalnya saat berpuasa atau melakukan aktivitas fisik yang berat. Kedua hormon tersebut bekerja secara seimbang untuk menjaga kadar gula darah tetap berada dalam batas normal.

Apabila keseimbangan tersebut terganggu, kadar gula darah dapat menjadi terlalu rendah atau terlalu tinggi. Kondisi kadar gula darah yang rendah disebut hipoglikemia. Seseorang yang mengalami hipoglikemia biasanya akan merasakan gejala seperti tubuh gemetar, berkeringat dingin, lemas, sulit berkonsentrasi, hingga kehilangan kesadaran apabila tidak segera ditangani.

Sebaliknya, kadar gula darah yang terlalu tinggi atau hiperglikemia dapat berlangsung tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Namun, apabila kondisi ini terjadi secara terus-menerus dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat, maka dapat berkembang menjadi penyakit diabetes melitus. Penyakit ini termasuk salah satu Penyakit Tidak Menular (PTM) yang jumlah penderitanya terus meningkat di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Akibatnya, kadar glukosa dalam darah meningkat dan dalam jangka panjang dapat merusak berbagai organ tubuh, seperti jantung, ginjal, mata, pembuluh darah, hingga sistem saraf.

Secara umum, diabetes melitus dibedakan menjadi tiga jenis utama. Pertama adalah diabetes melitus tipe 1, yaitu penyakit yang disebabkan oleh reaksi autoimun sehingga sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel pankreas yang menghasilkan insulin. Kondisi ini umumnya muncul sejak usia anak-anak atau remaja dan membutuhkan terapi insulin seumur hidup.

Jenis kedua adalah diabetes melitus tipe 2 yang merupakan jenis paling banyak ditemukan. Diabetes tipe ini terjadi karena tubuh mengalami resistensi insulin atau produksi insulin tidak mencukupi kebutuhan tubuh. Gaya hidup yang kurang sehat, obesitas, kurang aktivitas fisik, serta pola makan tinggi gula dan lemak menjadi faktor yang berperan besar terhadap munculnya diabetes tipe 2.

Sementara itu, diabetes melitus gestasional merupakan diabetes yang muncul selama masa kehamilan, biasanya pada trimester kedua atau ketiga. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian khusus karena dapat meningkatkan risiko komplikasi bagi ibu maupun bayi apabila tidak dikendalikan dengan baik.

Diabetes sering kali berkembang secara perlahan sehingga banyak penderita tidak menyadari dirinya telah mengalami penyakit tersebut. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengenali berbagai gejala yang sering muncul. Gejala klasik diabetes dikenal dengan istilah "3P", yaitu poliuria atau sering buang air kecil, polidipsia atau sering merasa haus, dan polifagia yaitu rasa lapar yang berlebihan meskipun sudah makan.

Selain tiga gejala utama tersebut, penderita diabetes juga dapat mengalami mudah lelah, penglihatan kabur, berat badan menurun tanpa sebab yang jelas, luka yang sulit sembuh, sering mengalami infeksi, serta muncul rasa kesemutan, nyeri, atau mati rasa pada tangan dan kaki akibat gangguan saraf.

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami diabetes melitus. Kebiasaan merokok menjadi salah satu faktor yang dapat memperburuk sensitivitas insulin. Selain itu, kelebihan berat badan atau obesitas, kurang melakukan aktivitas fisik, memiliki riwayat keluarga dengan diabetes, serta gangguan toleransi glukosa juga meningkatkan peluang seseorang terkena penyakit ini.

Melihat tingginya angka kasus diabetes, Kementerian Kesehatan menjadikan penyakit ini sebagai salah satu fokus dalam program Skrining Penyakit Tidak Menular (PTM). Program tersebut bertujuan mendeteksi lebih dini faktor risiko maupun penyakit sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum muncul komplikasi yang lebih berat. Skrining PTM dapat dilakukan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk Puskesmas.

Pemeriksaan laboratorium menjadi langkah penting untuk mengetahui kondisi kadar gula darah seseorang. Pemeriksaan ini tidak hanya dilakukan ketika seseorang sudah mengalami gejala diabetes, tetapi juga dianjurkan bagi masyarakat yang memiliki faktor risiko maupun sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan berkala.

Salah satu pemeriksaan yang paling sering digunakan adalah Hemoglobin A1c (HbA1c). Pemeriksaan ini menggambarkan rata-rata kadar gula darah selama tiga bulan terakhir dengan mengukur jumlah glukosa yang menempel pada hemoglobin di dalam sel darah merah. Karena sel darah merah memiliki usia sekitar 120 hari, hasil HbA1c dapat memberikan gambaran pengendalian gula darah dalam jangka panjang. Pemeriksaan ini tidak memerlukan puasa terlebih dahulu, dengan nilai normal berkisar antara 5,7 hingga 6,4 persen.

Selain HbA1c, terdapat pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS) yang dilakukan tanpa persiapan puasa. Pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui kadar gula darah pada saat tertentu. Nilai normal gula darah sewaktu berada di bawah 200 mg/dL.

Pemeriksaan lainnya adalah Gula Darah Puasa (GDP), yaitu pemeriksaan yang dilakukan setelah seseorang berpuasa selama 10 hingga 12 jam. Nilai normal gula darah puasa berkisar antara 74 hingga 109 mg/dL. Pemeriksaan ini banyak digunakan untuk mendeteksi gangguan metabolisme glukosa sejak dini.

Selanjutnya terdapat pemeriksaan Gula Darah Dua Jam Postprandial (GD2JPP), yaitu pemeriksaan kadar gula darah dua jam setelah makan. Pemeriksaan ini membantu mengetahui kemampuan tubuh mengendalikan kadar gula setelah mengonsumsi makanan. Nilai normal pemeriksaan ini berada di bawah 140 mg/dL.

Sementara itu, Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) dilakukan dengan mengukur kadar gula darah setelah puasa, kemudian pasien diberikan larutan glukosa sebanyak 75 gram dan kadar gula darah diperiksa kembali dua jam kemudian. Pemeriksaan ini menjadi salah satu metode yang akurat untuk mendeteksi diabetes maupun prediabetes.

Pemeriksaan gula darah secara rutin memiliki manfaat besar, tidak hanya untuk mendeteksi diabetes sejak dini, tetapi juga untuk memantau keberhasilan pengobatan bagi penderita diabetes. Semakin cepat penyakit diketahui, semakin besar peluang mencegah komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, gangguan penglihatan hingga amputasi akibat kerusakan pembuluh darah.

Upaya pencegahan diabetes dapat dilakukan melalui penerapan pola hidup sehat. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang, membatasi asupan gula, garam, dan lemak, rutin berolahraga sedikitnya 150 menit setiap minggu, menjaga berat badan ideal, menghentikan kebiasaan merokok, mengelola stres, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala merupakan langkah sederhana yang terbukti efektif menurunkan risiko diabetes.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kadar gula darah dan melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan laboratorium, diharapkan angka kejadian diabetes melitus di Indonesia dapat ditekan. Gaya hidup sehat dan pemeriksaan rutin menjadi investasi penting untuk menjaga kualitas hidup sekaligus mencegah berbagai komplikasi penyakit di masa mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....