Minum Berdiri, Benarkah Berbahaya?

  • 24 Jul 2026 17:34 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Kebiasaan minum air putih sambil berdiri masih sering dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan. Mulai dari gangguan pencernaan, naiknya asam lambung, hingga dianggap dapat membebani ginjal. Namun, berdasarkan kajian ilmiah terbaru, sebagian klaim tersebut belum memiliki bukti ilmiah yang kuat. Para ahli menegaskan bahwa manfaat utama minum air putih berasal dari kecukupan cairan yang dikonsumsi, bukan semata-mata dari posisi tubuh saat minum.

Meski demikian, minum sambil duduk tetap dinilai lebih nyaman bagi sebagian orang. Posisi duduk membantu tubuh lebih rileks sehingga proses menelan terasa lebih stabil, terutama pada lansia, anak-anak, atau orang yang memiliki gangguan menelan. Selain itu, kebiasaan minum secara perlahan juga dapat mengurangi risiko tersedak dibandingkan minum terburu-buru sambil berjalan atau berdiri.

Terkait sistem pencernaan, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa minum sambil berdiri secara langsung menyebabkan gangguan lambung pada orang sehat. Namun, jika seseorang minum terlalu cepat dalam jumlah banyak, udara dapat ikut tertelan sehingga memicu rasa kembung, begah, atau sering bersendawa. Kondisi tersebut lebih dipengaruhi oleh cara minum daripada posisi berdiri itu sendiri.

Klaim bahwa minum sambil berdiri menyebabkan asam lambung naik juga perlu diluruskan. Penyakit refluks asam lambung atau GERD lebih banyak dipengaruhi oleh lemahnya katup antara lambung dan kerongkongan, pola makan, obesitas, konsumsi makanan tertentu, serta kebiasaan makan berlebihan. Posisi tubuh memang dapat memengaruhi pola refluks pada kondisi tertentu, tetapi belum ada bukti bahwa sekadar minum air putih sambil berdiri menjadi penyebab utama GERD.

Begitu pula dengan anggapan bahwa minum sambil berdiri dapat memperberat kerja ginjal. Hingga saat ini, tidak terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa posisi berdiri saat minum membuat fungsi penyaringan ginjal menjadi terganggu. Dokter menegaskan bahwa kesehatan ginjal lebih dipengaruhi oleh kecukupan asupan cairan, tekanan darah, kadar gula darah, pola hidup, dan penyakit penyerta dibandingkan posisi tubuh ketika minum.

Sementara itu, risiko tersedak memang dapat meningkat apabila seseorang minum tergesa-gesa, berbicara saat menelan, atau berjalan sambil minum. Pada kelompok tertentu seperti lansia dan penderita gangguan saraf, posisi tubuh yang stabil ketika minum sangat dianjurkan untuk membantu koordinasi proses menelan sehingga mengurangi kemungkinan cairan masuk ke saluran napas.

Para pakar kesehatan menyarankan masyarakat lebih memprioritaskan kebiasaan minum yang benar, yakni memenuhi kebutuhan cairan harian, minum secara perlahan, tidak terburu-buru, serta memilih air putih sebagai minuman utama. Duduk saat minum dapat menjadi pilihan yang lebih nyaman dan aman, terutama bagi individu dengan gangguan pencernaan atau kesulitan menelan. Namun, bagi orang sehat, minum sambil berdiri sesekali tidak terbukti menyebabkan kerusakan organ tubuh.

Dengan demikian, informasi mengenai dampak buruk minum sambil berdiri perlu disikapi secara bijak. Sebagian klaim yang beredar di media sosial masih berupa mitos dan belum didukung bukti ilmiah yang kuat. Yang jauh lebih penting adalah menjaga tubuh tetap terhidrasi, menerapkan pola makan sehat, serta berkonsultasi dengan tenaga medis apabila sering mengalami keluhan seperti nyeri ulu hati, refluks, atau kesulitan menelan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....