Nyeri Perut Tak Selalu Maag
- 21 Jul 2026 14:20 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo – Nyeri perut merupakan salah satu keluhan kesehatan yang paling sering dialami masyarakat. Namun, tidak semua nyeri perut disebabkan oleh penyakit maag atau dispepsia. Kolik abdomen dan dispepsia sama-sama menimbulkan rasa sakit di perut, tetapi keduanya memiliki penyebab, lokasi nyeri, hingga penanganan yang berbeda. Memahami perbedaan tersebut penting agar pengobatan yang dilakukan lebih tepat dan tidak berisiko memperburuk kondisi.
Kolik abdomen merupakan nyeri yang biasanya terasa tajam, datang dan pergi (hilang-timbul), serta sering muncul di bagian bawah atau samping perut. Rasa nyeri dapat menjalar ke punggung atau selangkangan, terutama bila berkaitan dengan batu ginjal atau batu saluran kemih. Selain itu, kolik juga dapat disebabkan oleh batu empedu, sumbatan usus, atau kejang otot saluran pencernaan. Kondisi ini umumnya disertai keluhan mual, muntah, perut kembung, hingga sulit buang air besar, tergantung penyebab yang mendasarinya.
Sementara itu, dispepsia atau yang sering disebut masyarakat sebagai maag merupakan kumpulan gejala berupa rasa tidak nyaman di ulu hati atau perut bagian atas. Keluhan yang umum dirasakan antara lain cepat kenyang, perut terasa penuh setelah makan, kembung, mual, sendawa, hingga sensasi panas atau nyeri di ulu hati. Menurut kriteria Rome IV yang menjadi acuan internasional dalam diagnosis gangguan saluran cerna fungsional, dispepsia bukan hanya disebabkan oleh peningkatan asam lambung, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh gangguan pergerakan lambung, infeksi Helicobacter pylori, hingga interaksi antara otak dan saluran cerna.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dispepsia merupakan masalah kesehatan yang cukup umum. Jurnal yang diterbitkan di PubMed menyebutkan prevalensi dispepsia di masyarakat berkisar antara 20 hingga 40 persen, serta menjadi alasan sekitar 3–5 persen kunjungan pasien ke layanan kesehatan primer. Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa gangguan ini tidak boleh dianggap sepele, terutama bila keluhan berlangsung lama atau semakin sering kambuh.
Para ahli mengingatkan bahwa masyarakat sebaiknya tidak langsung mengonsumsi obat maag setiap kali mengalami nyeri perut. Sebab, nyeri akibat kolik abdomen memerlukan penanganan sesuai penyebabnya. Misalnya, batu ginjal mungkin membutuhkan terapi khusus, sedangkan sumbatan usus dapat menjadi kondisi gawat darurat yang memerlukan tindakan medis segera. Sebaliknya, pemberian obat penurun asam lambung tidak akan mengatasi penyebab kolik abdomen.
Selain mengenali lokasi dan karakter nyeri, masyarakat juga perlu mewaspadai tanda bahaya atau alarm symptoms. Gejala seperti muntah darah, tinja berwarna hitam, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, anemia, demam tinggi, nyeri perut yang sangat hebat, hingga kesulitan menelan merupakan kondisi yang memerlukan pemeriksaan medis sesegera mungkin. Pemeriksaan lebih lanjut, seperti tes laboratorium, USG, CT Scan, atau endoskopi dapat dilakukan sesuai indikasi klinis.
Pencegahan juga berperan penting dalam menjaga kesehatan saluran cerna. Menerapkan pola makan teratur, membatasi makanan terlalu pedas, berlemak, dan berkafein, menghindari rokok serta konsumsi alkohol, menjaga berat badan ideal, berolahraga secara rutin, dan mengelola stres dapat membantu mengurangi risiko terjadinya dispepsia. Sementara itu, menjaga kecukupan cairan tubuh juga penting untuk menurunkan risiko terbentuknya batu saluran kemih yang dapat memicu kolik abdomen.
Dengan demikian, meskipun sama-sama menimbulkan nyeri perut, kolik abdomen dan dispepsia merupakan dua kondisi yang berbeda. Mengenali ciri khas masing-masing penyakit dapat membantu masyarakat memperoleh penanganan yang tepat, menghindari penggunaan obat yang tidak sesuai, serta mencegah komplikasi yang lebih serius. Apabila keluhan berlangsung terus-menerus atau disertai tanda bahaya, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan tetap menjadi langkah terbaik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....