Fatty Liver, Ancaman yang Sering Terabaikan
- 21 Jul 2026 15:21 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo – Penyakit hati berlemak atau fatty liver kini menjadi salah satu gangguan kesehatan yang semakin mendapat perhatian dunia medis. Kondisi ini terjadi ketika lemak menumpuk secara berlebihan di dalam sel hati dan sering berkembang tanpa gejala yang jelas. Karena sifatnya yang "diam-diam", banyak penderita baru menyadari penyakit tersebut saat telah memasuki stadium lanjut.
Dalam istilah medis terbaru, penyakit ini dikenal sebagai Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD), yang sebelumnya lebih dikenal sebagai Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD). Penyakit ini berkaitan erat dengan gangguan metabolik seperti obesitas, diabetes tipe 2, kolesterol tinggi, hipertensi, serta resistensi insulin. Para ahli menyebut MASLD sebagai manifestasi hati dari sindrom metabolik yang kini meningkat di berbagai negara.
Data ilmiah menunjukkan bahwa fatty liver bukan lagi masalah kecil. Analisis Global Burden of Disease mencatat sekitar 1,27 hingga 1,3 miliar orang di dunia hidup dengan MASLD pada tahun 2021, dan angka tersebut terus meningkat dibandingkan satu dekade sebelumnya. Bahkan, prevalensi globalnya diperkirakan mencapai sekitar 15 persen hingga hampir 39 persen tergantung metode diagnosis dan populasi yang diteliti.
Fatty liver memang sering kali tidak menimbulkan gejala khas. Namun beberapa tanda yang kerap diabaikan antara lain mudah lelah, mengantuk setelah makan, penumpukan lemak di perut, rasa tidak nyaman pada perut kanan atas, sulit berkonsentrasi, serta gangguan gula darah. Karena gejalanya tidak spesifik, banyak kasus baru ditemukan saat pemeriksaan kesehatan rutin atau ketika sudah muncul komplikasi. Tingkat diagnosis penyakit ini pun masih tergolong rendah di berbagai negara.
Gaya hidup menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap peningkatan kasus fatty liver. Konsumsi gula berlebih, makanan ultra-proses, minuman tinggi fruktosa, kurang aktivitas fisik, kelebihan berat badan, tidur yang buruk, stres berkepanjangan, serta konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan risiko penumpukan lemak pada hati. Sejumlah penelitian juga menemukan bahwa kombinasi asupan lemak tinggi dan fruktosa dapat memicu peradangan, gangguan metabolisme, serta mempercepat terjadinya perlemakan hati.
Yang perlu diwaspadai, fatty liver tidak selalu berhenti pada tahap penumpukan lemak. Pada sebagian orang, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi peradangan hati atau MASH/NASH, kemudian fibrosis, sirosis, hingga kanker hati. Risiko komplikasi meningkat terutama pada penderita obesitas, diabetes, dan gangguan metabolik lainnya. Para peneliti juga mengingatkan bahwa remaja dan orang dewasa muda kini mulai mengalami peningkatan kasus akibat perubahan pola makan dan gaya hidup sedentari.
Kabar baiknya, fatty liver pada tahap awal masih dapat diperbaiki. Hingga saat ini, perubahan gaya hidup tetap menjadi terapi utama yang paling direkomendasikan. Menurunkan berat badan secara bertahap, meningkatkan aktivitas fisik, mengurangi konsumsi gula dan makanan olahan, memperbanyak serat, tidur cukup, serta mengendalikan stres terbukti membantu mengurangi penumpukan lemak dan peradangan pada hati. Penurunan berat badan sekitar 5–10 persen bahkan dapat memberikan perbaikan yang signifikan pada kondisi hati.
Masyarakat pun diimbau untuk tidak mudah percaya pada klaim obat instan atau produk "detoks hati" tanpa bukti ilmiah. Hingga kini, para ahli menegaskan bahwa pencegahan dan pengendalian fatty liver tetap bertumpu pada pola hidup sehat yang dilakukan secara konsisten. Deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan berkala juga menjadi langkah penting agar kerusakan hati dapat dicegah sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....