Maag Kronis, Kenali Tandanya
- 29 Jun 2026 21:04 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID,Gorontalo -Maag merupakan salah satu gangguan pencernaan yang paling sering dialami masyarakat. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai gastritis, yaitu peradangan pada lapisan lambung yang dapat terjadi secara tiba-tiba maupun berkembang secara perlahan hingga menjadi kronis. Meski sering dianggap sebagai penyakit ringan, maag kronis tidak boleh disepelekan karena dapat mengganggu kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari apabila tidak ditangani dengan baik.
Dilansir dari Siloam Hospitals, gastritis kronis dapat dipicu oleh berbagai faktor. Salah satu penyebab yang paling umum adalah infeksi bakteri Helicobacter pylori yang menyerang lapisan lambung. Selain itu, penggunaan obat golongan antiinflamasi nonsteroid (OAINS) seperti pereda nyeri dalam jangka panjang juga dapat mengikis lapisan pelindung lambung sehingga memicu peradangan. Pada beberapa kasus, gastritis kronis juga dapat disebabkan oleh reaksi autoimun, yaitu ketika sistem kekebalan tubuh justru menyerang sel-sel sehat pada lambung.
Selain faktor tersebut, pola hidup yang kurang sehat turut meningkatkan risiko seseorang mengalami maag kronis. Kebiasaan mengonsumsi makanan pedas, berlemak, atau terlalu asam secara berlebihan, sering terlambat makan, merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, serta stres yang tidak terkendali menjadi faktor yang dapat memperburuk kondisi lambung. Oleh karena itu, mengenali gejala sejak dini menjadi langkah penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Salah satu gejala yang paling sering dirasakan penderita maag kronis adalah nyeri pada perut bagian atas atau ulu hati. Rasa nyeri ini muncul akibat peradangan pada dinding lambung dan biasanya berlangsung lebih lama dibandingkan maag biasa. Sebagian penderita menggambarkan rasa sakit tersebut seperti terbakar, perih, atau tertusuk, terutama ketika perut kosong atau setelah mengonsumsi makanan tertentu. Pada kondisi kronis, keluhan ini sering kali datang berulang dan tidak mudah hilang tanpa pengobatan.
Gejala berikutnya adalah mual dan muntah. Peradangan pada lambung menyebabkan proses pencernaan menjadi terganggu sehingga memicu rasa mual yang muncul sebelum maupun setelah makan. Pada beberapa orang, mual dapat disertai muntah, terutama setelah mengonsumsi makanan pedas, makanan berminyak, gorengan, atau makanan dalam porsi berlebihan. Kondisi ini tentu dapat mengurangi kenyamanan dan membuat penderita kehilangan selera makan.
Selain mual, penderita maag kronis juga sering mengalami perut kembung. Peradangan yang terjadi pada lambung membuat produksi gas meningkat sehingga perut terasa penuh, begah, dan tidak nyaman. Gejala ini juga dapat dipicu oleh konsumsi makanan tertentu yang menghasilkan banyak gas, seperti bawang, kol, brokoli, kacang-kacangan, maupun susu bagi mereka yang memiliki intoleransi laktosa. Akibatnya, aktivitas sehari-hari menjadi terganggu karena rasa tidak nyaman yang terus dirasakan.
Penumpukan gas di dalam saluran pencernaan juga menyebabkan penderita menjadi lebih sering bersendawa. Sendawa sebenarnya merupakan mekanisme alami tubuh untuk mengeluarkan udara yang terperangkap di dalam lambung. Namun pada penderita maag kronis, frekuensi sendawa bisa meningkat dan terjadi berkali-kali dalam sehari. Meskipun dapat memberikan sedikit rasa lega, sendawa yang berulang tetap menjadi tanda bahwa sistem pencernaan sedang mengalami gangguan.
Gejala lain yang tidak kalah penting adalah mudah merasa kenyang saat makan. Peradangan pada lambung menyebabkan proses pengosongan lambung berlangsung lebih lambat sehingga makanan bertahan lebih lama di dalam lambung. Akibatnya, penderita sudah merasa kenyang meskipun baru mengonsumsi sedikit makanan. Kondisi ini sering disertai rasa begah, penuh, atau tidak nyaman setelah makan.
Karena sering merasa kenyang dan mengalami keluhan pada lambung, penderita maag kronis umumnya juga mengalami penurunan nafsu makan. Mereka cenderung menghindari makan karena khawatir rasa nyeri akan muncul kembali. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, tubuh akan kekurangan asupan nutrisi sehingga berat badan dapat menurun secara perlahan. Penurunan berat badan yang tidak direncanakan menjadi salah satu tanda bahwa gangguan lambung memerlukan perhatian lebih serius.
Meski berbagai gejala tersebut sering dikaitkan dengan maag kronis, para ahli mengingatkan bahwa keluhan seperti nyeri ulu hati, mual, kembung, atau cepat kenyang tidak selalu menandakan gastritis. Gejala serupa juga dapat ditemukan pada penyakit lain, seperti tukak lambung, gangguan empedu, penyakit pankreas, hingga penyakit refluks asam lambung atau GERD. Karena itu, diagnosis yang tepat hanya dapat ditegakkan melalui pemeriksaan oleh tenaga medis.
Untuk mengurangi risiko terjadinya maag kronis, masyarakat dianjurkan menerapkan pola hidup sehat. Langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain menghindari kebiasaan terlambat makan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta membatasi makanan pedas, berlemak tinggi, dan makanan yang mudah menghasilkan gas. Konsumsi minuman berkafein seperti kopi dan teh sebaiknya juga tidak berlebihan, terutama bagi mereka yang memiliki lambung sensitif.
Selain menjaga pola makan, masyarakat juga disarankan menghindari konsumsi minuman beralkohol serta berhenti merokok karena kedua kebiasaan tersebut dapat merusak lapisan pelindung lambung. Setelah makan, sebaiknya tidak langsung berbaring agar proses pencernaan berlangsung lebih baik dan mengurangi risiko naiknya asam lambung ke kerongkongan. Mengelola stres melalui olahraga, istirahat yang cukup, atau teknik relaksasi juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan.
Penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid dalam jangka panjang juga perlu mendapat perhatian. Obat-obatan seperti pereda nyeri sebaiknya digunakan sesuai anjuran dokter karena pemakaian yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko iritasi hingga peradangan pada lambung. Jika memang harus mengonsumsi obat tersebut dalam waktu lama, konsultasi dengan tenaga kesehatan sangat dianjurkan untuk meminimalkan efek samping pada saluran pencernaan.
Apabila keluhan maag muncul berulang, berlangsung selama berminggu-minggu, atau disertai gejala yang lebih serius seperti muntah darah, buang air besar berwarna hitam, penurunan berat badan yang drastis, atau nyeri hebat pada perut, penderita sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan. Penanganan yang cepat dan tepat dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih serius serta meningkatkan kualitas hidup penderita.
Menjaga kesehatan lambung merupakan investasi penting bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Dengan mengenali gejala sejak dini, menerapkan pola hidup sehat, serta tidak menunda pemeriksaan apabila keluhan terus berlanjut, risiko terjadinya maag kronis dapat ditekan sehingga aktivitas sehari-hari dapat tetap berjalan dengan nyaman dan produktif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....