Lampu Menyala saat Tidur Bisa Ganggu Hormon Tubuh
- 11 Jun 2026 19:39 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID ,Gorontalo - Tidur dengan lampu menyala bagi sebagian orang mungkin sudah menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Ada yang merasa lebih nyaman, lebih aman, atau bahkan sulit terlelap jika kamar dalam kondisi gelap. Namun, kebiasaan yang terlihat sepele ini ternyata dapat memberikan dampak terhadap kualitas tidur dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Hal tersebut dijelaskan oleh seorang perawat bernama Rizal melalui akun media sosial X @afrkml. Dalam unggahannya, ia menanggapi pertanyaan yang kerap muncul mengenai apakah tidur dengan lampu menyala aman dilakukan setiap malam.
Menurut Rizal, pilihan tidur dalam kondisi terang atau gelap memang kembali pada kenyamanan masing-masing individu. Meski demikian, ia menegaskan bahwa para ahli kesehatan umumnya lebih menyarankan tidur di ruangan yang minim cahaya atau gelap karena berkaitan erat dengan proses biologis tubuh saat beristirahat.
Salah satu alasan utamanya adalah pengaruh cahaya terhadap produksi hormon melatonin. Hormon ini berfungsi mengatur ritme sirkadian atau jam biologis tubuh yang mengendalikan kapan seseorang merasa mengantuk dan kapan harus terjaga.
Ketika kamar tidur tetap terang, tubuh dapat menganggap kondisi tersebut sebagai tanda bahwa waktu istirahat belum tiba. Akibatnya, produksi melatonin menjadi terhambat sehingga kualitas tidur berpotensi menurun. Tidak hanya berasal dari lampu kamar, paparan cahaya dari layar ponsel, tablet, maupun televisi juga dapat memberikan efek yang serupa.
Gangguan pada produksi melatonin juga dapat berdampak pada peningkatan hormon kortisol atau hormon stres. Dalam kondisi normal, kadar kortisol seharusnya menurun saat malam hari agar tubuh dapat beristirahat secara optimal. Namun, apabila kadar hormon ini tetap tinggi, berbagai fungsi tubuh dapat terganggu, termasuk yang berkaitan dengan kesehatan jantung dan sistem pembuluh darah.
Selain memengaruhi hormon, cahaya saat tidur juga berpotensi mengganggu fase REM (Rapid Eye Movement), yaitu salah satu tahap tidur yang sangat penting bagi proses pemulihan tubuh dan otak. Pada fase inilah otak melakukan berbagai proses penting, mulai dari pengolahan memori hingga pemulihan fungsi kognitif.
Ketika fase REM terganggu, seseorang mungkin tetap mendapatkan waktu tidur yang cukup secara durasi, tetapi kualitas tidurnya menurun. Akibatnya, tubuh tidak memperoleh istirahat yang optimal. Kondisi ini sering ditandai dengan tubuh yang terasa lelah, pegal, kurang bertenaga, atau tidak segar saat bangun di pagi hari.
Rizal mengingatkan bahwa tidur yang sehat tidak hanya diukur dari berapa lama seseorang terlelap, tetapi juga dari kualitas tidur yang diperoleh. Karena itu, menciptakan lingkungan tidur yang nyaman, tenang, dan minim cahaya menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat membantu tubuh menjalankan proses pemulihan secara maksimal selama malam hari.
Dengan membiasakan tidur dalam kondisi ruangan yang gelap, tubuh dapat memproduksi hormon yang dibutuhkan secara alami dan menjalani siklus tidur yang lebih baik. Kebiasaan sederhana ini diyakini dapat mendukung kesehatan fisik maupun mental dalam jangka panjang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....