Akademisi UNG Ungkap Kandungan Berbahaya dalam Vape

  • 05 Jun 2026 15:35 WIB
  •  Gorontalo


Gorontalo – Penggunaan rokok elektronik atau vape yang semakin populer di kalangan remaja menjadi perhatian berbagai kalangan, termasuk akademisi. Dalam program bincang santai RRI bertajuk “Berani Hidup Sehat: Tantangan Generasi Z di Era Rokok Digital”, narasumber dari kalangan akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Lia Amalia, S.KM., M.Kes. menjelaskan bahwa vape bukan sekadar menghasilkan uap beraroma, tetapi mengandung berbagai zat kimia yang dapat berdampak pada kesehatan.

Menurut akademisi UNG tersebut, banyak masyarakat, khususnya remaja, masih menganggap vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Padahal, cairan atau e-liquid yang digunakan dalam vape mengandung sejumlah bahan kimia yang ketika dipanaskan akan berubah menjadi aerosol yang kemudian dihirup pengguna. (World Health Organization)

Ia menjelaskan bahwa salah satu kandungan utama vape adalah nikotin, zat yang bersifat adiktif dan dapat menyebabkan ketergantungan. Nikotin diketahui dapat memengaruhi perkembangan otak remaja, konsentrasi, serta meningkatkan risiko kecanduan. (World Health Organization)

Selain nikotin, vape juga mengandung propilen glikol (Propylene Glycol/PG) dan gliserin nabati (Vegetable Glycerin/VG) yang berfungsi sebagai pelarut dan pembentuk uap. Meskipun kedua bahan ini umum digunakan dalam industri makanan dan kosmetik, pemanasan pada suhu tinggi dapat menghasilkan senyawa lain yang berpotensi membahayakan saluran pernapasan. (NCBI)

“Banyak orang hanya melihat asapnya yang harum, tetapi tidak mengetahui bahwa di dalam aerosol vape terdapat berbagai zat kimia yang masuk langsung ke paru-paru,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sejumlah penelitian menemukan adanya senyawa kimia seperti formaldehida, asetaldehida, dan akrolein yang dapat terbentuk selama proses pemanasan cairan vape. Beberapa senyawa tersebut diketahui dapat mengiritasi saluran napas, merusak jaringan paru-paru, bahkan dikategorikan sebagai zat yang berpotensi menyebabkan kanker apabila terpapar dalam jangka panjang. (NCBI)

Selain itu, cairan vape umumnya mengandung zat perisa (flavoring) untuk menghasilkan berbagai aroma buah, minuman, maupun makanan. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa beberapa bahan perisa tertentu dapat menimbulkan risiko kesehatan ketika dihirup secara terus-menerus. (World Health Organization)

Lia tersebut menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah meningkatnya penggunaan vape di kalangan generasi muda yang sering kali dipengaruhi tren media sosial dan lingkungan pergaulan. Oleh karena itu, edukasi mengenai kandungan serta dampak kesehatan vape perlu terus dilakukan agar masyarakat dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang benar.

“Generasi muda harus memahami bahwa vape bukan hanya uap air biasa. Ada berbagai zat kimia yang masuk ke tubuh ketika digunakan. Karena itu, kesadaran untuk menjaga kesehatan perlu menjadi prioritas,” katanya.

Ia berharap generasi muda lebih kritis terhadap berbagai tren yang berkembang dan memilih gaya hidup sehat sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan. Menurutnya, pemahaman yang baik mengenai kandungan dan risiko penggunaan vape dapat menjadi langkah awal untuk mencegah meningkatnya ketergantungan nikotin di kalangan remaja.

Berdasarkan berbagai kajian kesehatan, kandungan utama vape meliputi nikotin, propilen glikol, gliserin nabati, bahan perisa, serta sejumlah senyawa kimia yang dapat terbentuk saat proses pemanasan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa aerosol vape dapat mengandung zat-zat berbahaya yang berpotensi berdampak pada kesehatan pengguna maupun orang di sekitarnya. (World Health Organization)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....