Waspada Virus Tikus Mematikan

  • 23 Mei 2026 12:47 WIB
  •  Gorontalo

Meningkatnya perhatian dunia terhadap kasus hantavirus membuat masyarakat semakin waspada terhadap keberadaan tikus di lingkungan sekitar. Penyakit yang berasal dari kelompok virus zoonosis ini diketahui dapat menular dari hewan pengerat, terutama tikus, kepada manusia dan berpotensi menyebabkan gangguan serius pada paru-paru maupun ginjal.

Hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru. Di Indonesia, virus ini telah lama menjadi perhatian para peneliti kesehatan sejak tahun 1980-an. Namun, meningkatnya informasi mengenai kasus hantavirus di sejumlah negara membuat masyarakat kembali menyoroti pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta mengendalikan populasi tikus di sekitar permukiman.

Kepala Laboratorium Entomologi Kesehatan Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof. Upik Kesumawati, menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus yang ditularkan melalui hewan pengerat dan memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi apabila tidak ditangani dengan cepat.

Menurut Upik, masyarakat tidak perlu panik berlebihan, namun tetap harus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan virus tersebut. Ia menegaskan bahwa tikus menjadi sumber utama penyebaran hantavirus karena virus dapat keluar melalui urine, feses, maupun air liur hewan tersebut.

“Virus ini memang sudah lama ada dan penyebab utamanya adalah tikus. Tetapi kami mengimbau masyarakat untuk tidak perlu khawatir berlebihan,” ujar Upik.

Penularan hantavirus pada manusia dapat terjadi ketika seseorang menghirup partikel debu yang telah terkontaminasi urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi. Risiko penularan biasanya meningkat pada lingkungan yang kotor, lembap, jarang dibersihkan, atau menjadi sarang tikus.

Selain melalui udara, penularan juga bisa terjadi akibat kontak langsung dengan kotoran tikus maupun makanan dan minuman yang telah terkontaminasi. Oleh karena itu, menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar menjadi langkah penting dalam memutus rantai penyebaran virus tersebut.

Berdasarkan pedoman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hantavirus umumnya menyebabkan dua sindrom utama pada manusia, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).

HPS merupakan jenis infeksi yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit ini dapat menyebabkan penumpukan cairan di paru-paru sehingga penderita mengalami kesulitan bernapas. Kondisi tersebut dapat berkembang dengan cepat dan berpotensi mengancam nyawa apabila tidak segera mendapatkan penanganan medis.

Sementara itu, HFRS lebih banyak menyerang ginjal dan pembuluh darah. Pada kondisi tertentu, penyakit ini dapat menyebabkan tekanan darah menurun drastis, kebocoran pembuluh darah, syok, hingga gagal ginjal akut.

Gejala awal hantavirus umumnya mirip dengan penyakit infeksi lainnya, sehingga sering kali sulit dikenali sejak dini. Penderita biasanya mengalami demam, sakit kepala, tubuh lemas, nyeri otot terutama di bagian paha, punggung, dan bahu, serta gangguan saluran pencernaan seperti mual dan muntah.

Namun, setelah empat hingga sepuluh hari, gejala dapat berkembang menjadi lebih serius. Pada kasus HPS, penderita dapat mengalami batuk dan sesak napas berat akibat penumpukan cairan di paru-paru. Kadar oksigen dalam darah juga dapat menurun secara drastis sehingga membutuhkan penanganan intensif di rumah sakit.

Sedangkan pada kasus HFRS, penderita dapat mengalami gangguan fungsi ginjal yang ditandai dengan berkurangnya produksi urine, tekanan darah rendah, hingga komplikasi serius lainnya.

Upik juga menyoroti salah satu jenis hantavirus yang kini menjadi perhatian dunia, yakni Andes virus. Jenis virus ini dilaporkan memiliki kemungkinan penularan antarmanusia, meskipun kasusnya tergolong sangat jarang terjadi.

Kondisi tersebut membuat para ahli kesehatan terus melakukan penelitian dan pemantauan terhadap perkembangan hantavirus di berbagai negara. Meski demikian, hingga saat ini penularan utama hantavirus tetap berasal dari paparan terhadap tikus yang terinfeksi.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan rumah, gudang, tempat penyimpanan makanan, dan area lain yang berpotensi menjadi sarang tikus. Sampah rumah tangga juga harus dikelola dengan baik agar tidak mengundang keberadaan hewan pengerat.

Selain itu, masyarakat diminta berhati-hati saat membersihkan area yang terdapat kotoran tikus. Membersihkan kotoran tikus secara sembarangan justru dapat meningkatkan risiko penularan virus.

“Jangan langsung menyapu atau menyedot debu sarang dan kotoran tikus yang kering karena partikel virus dapat beterbangan dan terhirup. Basahi terlebih dahulu area tersebut menggunakan larutan disinfektan,” jelas Upik dikutip dari laman resmi IPB University.

Masyarakat juga dianjurkan menggunakan sarung tangan dan masker saat membersihkan area yang dicurigai menjadi tempat aktivitas tikus. Setelah selesai membersihkan, tangan harus segera dicuci menggunakan sabun dan air mengalir untuk mengurangi risiko infeksi.

Selain menjaga kebersihan lingkungan, pengendalian populasi tikus juga menjadi langkah penting dalam mencegah penyebaran hantavirus. Menutup akses masuk tikus ke rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, dan membersihkan sisa makanan secara rutin dapat membantu mengurangi risiko keberadaan tikus di lingkungan rumah.

Apabila seseorang mengalami gejala demam disertai gangguan pernapasan atau gangguan ginjal setelah terpapar lingkungan yang terdapat kotoran tikus, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat agar mendapatkan penanganan lebih cepat.

Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hantavirus memang tergolong penyakit langka, tetapi memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi. Tingkat kematian akibat HPS dilaporkan dapat mencapai sekitar 40 persen, sedangkan HFRS berkisar antara 5 hingga 15 persen.

Karena itu, edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya hantavirus dan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan menjadi hal yang sangat penting. Dengan lingkungan yang bersih dan bebas dari tikus, risiko penyebaran penyakit zoonosis seperti hantavirus dapat ditekan sehingga kesehatan masyarakat tetap terjaga.







google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....