Sifilis Dikaitkan dengan Stroke dan Serangan Jantung
- 11 Mei 2026 08:40 WIB
- Gorontalo
Poin Utama
- Sifilis dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke dan serangan jantung.
- Studi JAMA menemukan pasien sifilis berisiko lebih tinggi mengalami aneurisma aorta.
- Deteksi dini sifilis penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang.
RRI.CO.ID, Gorontalo - Sifilis yang tidak diobati dapat berdampak serius pada kesehatan jantung Anda. Studi baru mengaitkan infeksi ini dengan stroke, serangan jantung, dan aneurisma aorta.
Penelitian ini terbit di JAMA Network Open pada April 2026. Studi tersebut menilai hubungan sifilis dengan sejumlah gangguan kardiovaskular serius.
Sifilis merupakan infeksi menular seksual yang disebabkan bakteri Treponema pallidum. Infeksi ini menyebar melalui kontak seksual dan dapat berkembang dalam beberapa tahap.
| Baca juga: Manfaat Keju untuk Kesehatan |
Pada tahap awal, sifilis sering ditandai luka kecil di lokasi infeksi. Luka dapat muncul di area kelamin, anus, rektum, bibir, atau mulut.
Luka sifilis awal sering tidak terasa nyeri, sehingga kerap tidak disadari. Pada tahap berikutnya, gejala dapat berupa ruam, demam, pembengkakan kelenjar, sakit tenggorokan, rambut rontok sebagian, nyeri otot, dan rasa lelah.
Pada fase laten, sifilis dapat tidak menunjukkan gejala. Namun, infeksi tetap berada di tubuh dan dapat berkembang menjadi komplikasi bila tidak diobati.
| Baca juga: Manfaat Kafein untuk Kesehatan |
Dalam studi terbaru, peneliti menggunakan data dari tiga rumah sakit di New Orleans. Mereka membandingkan 1.469 pasien sifilis dengan 7.345 orang tanpa infeksi selama 15 tahun.
Hasil studi menunjukkan pasien sifilis memiliki risiko lebih tinggi mengalami aneurisma atau diseksi aorta. Pasien juga berisiko lebih tinggi terkena stroke, serangan jantung, dan penyakit arteri perifer.
“Penyakit kardiovaskular adalah penyebab utama kematian di AS, dan dengan meningkatnya kasus sifilis baru-baru ini, hubungan ini perlu disadari oleh semua penyedia layanan kesehatan yang merawat pasien berisiko tinggi,” kata peneliti utama Eli Tsakiris.
Peneliti senior Dr. Amitabh Pandey mengatakan, sifilis dapat meningkatkan peradangan sistemik. Peradangan itu dapat memicu dan mempercepat proses yang memperburuk penyakit kardiovaskular.
Meski begitu, penelitian ini bersifat observasional. Peneliti belum dapat memastikan sifilis sebagai penyebab langsung stroke, serangan jantung, atau gangguan pembuluh darah.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat 23.347 kasus sifilis sepanjang 2024. Data yang dirilis pada Juni 2025 itu didominasi sifilis dini, yakni 19.904 kasus, serta 77 kasus sifilis kongenital dari ibu ke bayi.
Pemeriksaan dini penting dilakukan bila muncul luka, ruam, atau riwayat kontak seksual berisiko. Sifilis dapat diobati, tetapi komplikasi jangka panjang bisa lebih sulit ditangani.
Berita ini diolah dan disunting dengan melibatkan teknologi AI.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....