Ribuan kasus HIV AIDS di Gorontalo, akses ARV jadi prioritas

  • 08 Mei 2026 17:40 WIB
  •  Gorontalo

RRI. CO. ID Gorontalo: Kasus HIV/AIDS di Gorontalo menunjukkan angka yang patut menjadi perhatian serius. Hingga April 2026, tercatat sebanyak 1.538 kasus, dengan kondisi yang beragam—sebagian pasien masih menjalani kehidupan dengan pengobatan, sementara lainnya telah meninggal dunia. Data ini menjadi pengingat bahwa penanganan HIV/AIDS bukan hanya soal angka, tetapi juga menyangkut keberlanjutan hidup dan kualitas kesehatan para penyintas.

Upaya penanganan terus dilakukan, salah satunya melalui terapi Antiretroviral therapy atau ARV bagi Orang Dengan HIV (ODIV). Program pengobatan ini umumnya berlangsung selama 3 hingga 6 bulan dan bertujuan menekan jumlah virus dalam tubuh agar tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih parah. Terapi ARV juga terbukti membantu meningkatkan harapan hidup pasien jika dilakukan secara rutin dan terkontrol.

Menurut Sri Wahyuni Haluti selaku Tim Kerja Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Gorontalo, pihaknya terus berupaya memastikan ketersediaan obat bagi pasien. Salah satu strategi yang diterapkan adalah pemberian obat dengan sistem Multi Month Dispensing (MMD), di mana pasien dapat menerima stok obat hingga enam bulan sekaligus.

Hal ini mempermudah pasien dalam mengakses pengobatan, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan mobilitas atau akses ke fasilitas kesehatan.Namun demikian, untuk kasus baru, pemberian ARV tidak langsung dilakukan dalam jumlah besar. Pasien yang telah dinyatakan negatif dari skrining penyakit penyerta seperti Tuberkulosis akan diberikan obat dalam jumlah terbatas terlebih dahulu. Langkah ini dilakukan untuk memantau reaksi tubuh terhadap obat, sehingga tenaga medis dapat segera mengambil tindakan jika muncul efek samping. Pendekatan ini menjadi bagian penting dalam memastikan keamanan dan efektivitas terapi.

Selain pengobatan, edukasi menjadi kunci utama dalam penanganan HIV/AIDS. Pihak KPA terus memperkuat pemahaman masyarakat dan pasien terkait pentingnya kepatuhan dalam menjalani terapi. Ketika terjadi kekosongan stok di layanan tertentu, langkah cepat dilakukan melalui realokasi obat antar fasilitas kesehatan.

Upaya ini terbukti mampu menjaga kesinambungan pengobatan pasien sehingga tidak terputus, dan kondisi tersebut berhasil ditangani tanpa berlangsung lama.

Di sisi lain, tantangan dalam distribusi obat ARV masih menjadi pekerjaan rumah. Keterbatasan stok seringkali dipengaruhi oleh sistem pengadaan dari pusat yang harus melalui proses tender dengan waktu yang cukup panjang. Dalam masa penantian tersebut, distribusi obat ke daerah biasanya dilakukan dalam jumlah terbatas. Kondisi ini menuntut koordinasi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah agar kebutuhan obat dapat terpenuhi tepat waktu, sehingga penanganan HIV/AIDS di Gorontalo tetap berjalan optimal dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....