Studi Kaitkan Plastik dengan 2 Juta Bayi Prematur di Dunia
- 03 Mei 2026 11:34 WIB
- Gorontalo
Poin Utama
- DEHP plastik dikaitkan dengan bayi prematur.
- Ftalat dapat masuk tubuh ibu hamil.
- Paparan plastik berisiko bagi kesehatan bayi.
RRI.CO.ID, Gorontalo - Zat pelentur plastik kini memicu alarm baru bagi kesehatan ibu hamil. Studi NYU Langone mengaitkannya dengan hampir dua juta kelahiran prematur pada 2018.
Bahan kimia itu bernama di-2-etilheksilftalat atau DEHP. Senyawa ini termasuk kelompok ftalat yang banyak dipakai dalam produk plastik lentur.
Peneliti memperkirakan paparan DEHP berkontribusi pada 1,97 juta kelahiran prematur global. Angka itu setara lebih dari delapan persen kasus prematur dunia pada 2018.
Studi tersebut juga mengaitkan paparan DEHP dengan kematian sekitar 74.000 bayi baru lahir. Temuan ini membuat isu plastik bukan hanya persoalan lingkungan.
| Baca juga: Wajan Teflon Rusak Lepas Mikroplastik |
DEHP terdapat dalam kosmetik, deterjen, pengusir serangga, dan produk rumah tangga lain. Zat ini dapat masuk tubuh melalui makanan, udara, debu, atau air.
Penulis utama studi, Sara Hyman, menilai pengurangan paparan sangat penting bagi wilayah rentan. Ia menyebut langkah itu dapat mencegah kelahiran dini dan masalah kesehatan berikutnya.
“Temuan kami menyoroti bahwa mengurangi paparan dapat membantu mencegah kelahiran dini,” kata Hyman. Ia juga menekankan pentingnya perlindungan bagi ibu hamil di daerah berisiko.
Tim peneliti menghitung paparan DEHP pada masyarakat di 200 negara dan wilayah. Mereka memakai data survei dari Amerika Serikat, Eropa, Kanada, dan kawasan lain.
| Baca juga: Manfaat Buah Blewah bagi Kesehatan Tubuh |
Hasil analisis menunjukkan beban terbesar berada di Timur Tengah dan Asia Selatan. Kawasan itu mencakup 54 persen estimasi penyakit akibat prematur terkait DEHP.
Peneliti juga menguji DiNP, bahan pengganti DEHP yang umum dipakai industri. Hasilnya, DiNP tetap dikaitkan dengan sekitar 1,88 juta kelahiran prematur.
Penulis senior studi, Dr. Leonardo Trasande, menilai aturan parsial tidak cukup. “Mengatur ftalat satu per satu tidak akan menyelesaikan masalah yang lebih besar,” ujarnya.
Trasande menyebut dunia sedang memainkan “Whac-A-Mole” berbahaya dengan bahan kimia plastik. Ia mendorong pengawasan lebih kuat terhadap seluruh kelompok aditif plastik.
Studi ini relevan bagi Indonesia karena paparan plastik terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Indonesia juga memiliki sekitar 600.000 kelahiran prematur setiap tahun menurut kajian klinis.
Bagi keluarga, pesan utama penelitian ini adalah kewaspadaan terhadap plastik sekali pakai. Ibu hamil juga perlu memperhatikan kemasan makanan, produk perawatan, dan kebersihan rumah.
Laporan NYU Langone menyebut temuan ini terbit secara daring pada Selasa, 31 Maret 2026. Studi tersebut dimuat dalam jurnal eClinicalMedicine.
Berita ini diolah dan disunting dengan melibatkan teknologi AI.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....