GERD dan Kecemasan Picu Ketakutan saat Makan

  • 26 Apr 2026 21:42 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo - Bagi banyak orang, makan merupakan kegiatan yang identik dengan kenikmatan. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi penderita Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) maupun maag kronis. Alih-alih merasa nyaman, mereka justru kerap diliputi kekhawatiran setiap kali hendak makan.

Rasa cemas itu bukan tanpa alasan. Gejala seperti nyeri di ulu hati, sensasi sesak napas, hingga ketidaknyamanan setelah makan sering muncul dan membuat penderita merasa waswas. Kondisi ini menunjukkan adanya keterkaitan yang kuat antara gangguan sistem pencernaan dan kesehatan mental.

Dalam sebuah forum diskusi kesehatan, para pakar menyebut fenomena ini sebagai “lingkaran setan” antara GERD dan kecemasan. Ketika gejala kambuh, kecemasan meningkat. Sebaliknya, stres yang berlebihan juga dapat memperparah kondisi lambung.

Praktisi kesehatan Dera Nur Tresna mengungkapkan bahwa pendekatan diet yang terlalu ketat justru bisa berdampak negatif. Berdasarkan pengalamannya merawat anggota keluarga dengan GERD, pola makan yang terlalu dibatasi dan cenderung hambar dapat menurunkan selera makan sekaligus memicu stres pada pasien.

Sementara itu, dr. Ratri Saumi menjelaskan bahwa GERD terjadi akibat gangguan pada katup esofagus yang menyebabkan asam lambung naik ke kerongkongan. Ia menekankan bahwa asam lambung sebenarnya memiliki peran penting dalam membantu proses pencernaan, khususnya dalam memecah protein.

Menurutnya, masalah muncul ketika asam tersebut bergerak ke area yang tidak seharusnya. “Asam lambung itu penting untuk mencerna protein, tetapi menjadi masalah saat naik ke kerongkongan,” ujarnya.

Lebih lanjut, saat terjadi iritasi pada lambung, tubuh akan mengirimkan sinyal ke otak melalui mekanisme gut-brain axis. Proses ini memperkuat hubungan antara kondisi fisik dan respons emosional, yang pada akhirnya dapat memperburuk kecemasan pada penderita.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....