Anak Jalan Jinjit: Normal atau Waspada?

  • 11 Apr 2026 13:48 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID,Gorontalo _ Berjalan dengan jari kaki atau jinjit merupakan salah satu fase yang cukup umum dialami anak-anak, khususnya saat mereka sedang belajar berjalan. Pada tahap awal perkembangan motorik, anak cenderung mengeksplorasi berbagai cara untuk menjaga keseimbangan tubuhnya, termasuk dengan berjalan jinjit. Kondisi ini sering kali membuat orang tua khawatir, padahal dalam banyak kasus, hal tersebut merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang anak. Seiring waktu, ketika koordinasi otot dan keseimbangan anak semakin matang, kebiasaan berjalan jinjit biasanya akan berkurang dan akhirnya hilang dengan sendirinya.

Meski demikian, perhatian orang tua tetap diperlukan jika kebiasaan ini berlangsung lebih lama dari yang seharusnya. Anak yang terus berjalan jinjit hingga usia batita atau bahkan lebih besar perlu mendapatkan pemantauan lebih lanjut. Selain berpotensi meningkatkan risiko terjatuh, kebiasaan ini juga bisa memengaruhi kepercayaan diri anak, terutama ketika mereka mulai berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Berdasarkan data dari Cleveland Clinic yang dikutip oleh haibunda.com, sekitar 2 persen anak dengan perkembangan normal masih menunjukkan kebiasaan berjalan jinjit di usia 5 tahun. Namun, angka ini meningkat signifikan hingga 41 persen pada anak dengan gangguan atau keterlambatan perkembangan.

Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan anak terus berjalan jinjit. Salah satu penyebab yang paling umum adalah kebiasaan yang terbentuk sejak awal belajar berjalan. Namun, dalam beberapa kasus, kondisi ini berkaitan dengan faktor medis tertentu. Misalnya, tendon Achilles yang pendek dapat membuat tumit anak sulit menyentuh permukaan tanah, sehingga anak cenderung berjalan dengan jari kaki. Selain itu, gangguan neurologis seperti cerebral palsy juga dapat memengaruhi tonus otot dan postur tubuh anak, sehingga memicu pola berjalan yang tidak biasa.

Penyakit genetik seperti distrofi otot juga dapat menjadi penyebab anak berjalan jinjit. Pada kondisi ini, serat otot mengalami kerusakan secara bertahap sehingga melemah seiring waktu. Biasanya, anak dengan kondisi ini sempat berjalan normal sebelum akhirnya menunjukkan perubahan pola berjalan. Selain itu, gangguan spektrum autisme juga sering dikaitkan dengan kebiasaan berjalan jinjit. Anak dengan autisme umumnya mengalami perbedaan dalam kemampuan komunikasi, interaksi sosial, serta respons sensorik terhadap lingkungan, yang dapat memengaruhi cara mereka berjalan.

Dalam menangani anak yang berjalan jinjit, pendekatan yang dilakukan akan disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahan kondisi tersebut. Tenaga medis umumnya akan memulai dengan metode non-bedah sebagai langkah awal. Salah satu terapi yang paling umum adalah terapi fisik, di mana anak akan dilatih untuk meregangkan otot betis dan meningkatkan fleksibilitas serta jangkauan gerak kaki. Terapi ini juga dapat membantu memperbaiki pola berjalan anak secara bertahap.

Selain terapi fisik, penggunaan alat bantu seperti ortotik pergelangan kaki juga dapat direkomendasikan. Alat ini berfungsi untuk menjaga posisi kaki tetap berada pada sudut yang ideal, sehingga membantu otot dan tendon beradaptasi dengan posisi berjalan yang benar. Dalam beberapa kasus, dokter juga akan menerapkan metode pengamatan selama periode tertentu untuk melihat apakah kebiasaan berjalan jinjit dapat membaik secara alami tanpa intervensi khusus.

Jika diperlukan, tindakan medis lain juga bisa dilakukan, seperti pemberian suntikan botox atau toksin botulinum untuk melemahkan otot betis yang terlalu tegang. Dengan kondisi otot yang lebih rileks, proses peregangan menjadi lebih mudah dilakukan. Selain itu, terapi menggunakan lensa prisma juga dapat membantu meningkatkan persepsi tubuh anak terhadap lingkungan sekitarnya, sehingga membantu koordinasi gerakan menjadi lebih baik.

Metode terapi lainnya yang tidak kalah penting adalah terapi sensorik vestibular. Terapi ini bertujuan untuk merangsang sistem keseimbangan tubuh anak yang berada di telinga bagian dalam. Dengan stimulasi yang tepat, anak dapat memiliki kontrol tubuh yang lebih baik, termasuk dalam hal berjalan. Terapi ini biasanya dilakukan oleh terapis okupasi atau fisioterapis yang berpengalaman dalam menangani gangguan perkembangan anak.

Peran orang tua dalam memantau dan mendukung tumbuh kembang anak sangatlah penting. Orang tua disarankan untuk tidak langsung panik ketika melihat anak berjalan jinjit, namun tetap waspada terhadap tanda-tanda lain yang mungkin menyertai, seperti keterlambatan bicara, kesulitan berinteraksi, atau gangguan koordinasi. Konsultasi dengan tenaga medis seperti dokter anak atau terapis tumbuh kembang sangat dianjurkan jika kebiasaan ini berlangsung dalam jangka waktu lama atau semakin sering terjadi.

Dengan pemahaman yang tepat dan penanganan yang sesuai, kebiasaan berjalan jinjit pada anak dapat diatasi secara optimal. Deteksi dini menjadi kunci penting untuk memastikan anak mendapatkan intervensi yang tepat sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal, baik dari segi fisik maupun sosial.




Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....