Kenali Beda Masuk Angin dan Angin Duduk

  • 28 Mar 2026 22:31 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Istilah “masuk angin” dan “angin duduk” sering digunakan masyarakat untuk menggambarkan kondisi kesehatan yang mirip. Padahal, keduanya memiliki perbedaan mendasar, terutama dari segi penyebab dan tingkat bahayanya. Kesalahan dalam memahami dua kondisi ini dapat berakibat fatal, terutama jika gejala serius diabaikan.

Masuk angin bukanlah istilah medis resmi, melainkan istilah umum di Indonesia untuk menggambarkan kondisi tubuh tidak enak badan. Gejalanya biasanya meliputi meriang, pegal-pegal, sakit kepala, hingga gangguan pencernaan seperti diare dan sering buang angin. Kondisi ini umumnya ringan dan bisa membaik dengan istirahat serta perawatan sederhana.

Sementara itu, angin duduk merupakan istilah awam dari angina pektoris, yaitu kondisi medis serius yang berkaitan dengan jantung. Angin duduk terjadi akibat berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otot jantung karena penyempitan pembuluh darah koroner.

Gejala angin duduk ditandai dengan nyeri dada seperti ditekan atau tertindih benda berat. Rasa nyeri ini bahkan bisa menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, hingga punggung. Selain itu, penderita juga dapat mengalami sesak napas, pusing, mual, hingga keringat dingin.

Berbeda dengan masuk angin yang cenderung ringan, angin duduk berpotensi menjadi kondisi darurat medis. Jika tidak ditangani dengan cepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi serangan jantung yang mengancam nyawa.

Tenaga medis mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan keluhan nyeri dada. Banyak kasus menunjukkan gejala angin duduk sering disalahartikan sebagai masuk angin biasa, sehingga penanganan menjadi terlambat. Padahal, angina dapat muncul tiba-tiba, terutama saat beraktivitas atau stres.

Untuk mencegah risiko angin duduk, masyarakat dianjurkan menjaga pola hidup sehat seperti rutin berolahraga, menghindari rokok, serta mengontrol tekanan darah dan kadar kolesterol. Langkah ini penting untuk menjaga kesehatan jantung dan mencegah penyumbatan pembuluh darah.

Masyarakat juga diimbau segera mencari pertolongan medis jika mengalami nyeri dada yang tidak biasa, terutama jika disertai sesak napas atau keringat dingin. Penanganan cepat menjadi kunci utama dalam mencegah komplikasi yang lebih serius.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....