Studi: Bangun Pagi dan Aktif Kurangi Risiko ALS

  • 28 Mar 2026 09:57 WIB
  •  Gorontalo
Poin Utama
  • Orang yang terbiasa bangun pagi memiliki risiko ALS 20 persen lebih rendah dibandingkan orang yang begadang.
  • Aktivitas fisik yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko ALS 26 persen lebih rendah, sementara tidur 6 hingga 8 jam juga terkait risiko lebih rendah.
  • Temuan ini masih bersifat awal karena baru akan dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Academy of Neurology pada Jumat, 18 April 2026 hingga Rabu, 22 April 2026.

RRI.CO.ID, Gorontalo - Bangun pagi dan rutin bergerak ternyata berkaitan dengan risiko ALS yang lebih rendah. Studi besar ini juga menyorot pentingnya tidur cukup bagi kesehatan saraf.

ALS adalah penyakit saraf progresif yang merusak sel saraf di otak dan sumsum tulang belakang. Penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan total dan sering berujung kematian dalam dua hingga lima tahun.

Penelitian ini dirilis pada Selasa, 25 Februari 2026 sebagai studi pendahuluan. Hasilnya akan dipresentasikan dalam pertemuan tahunan American Academy of Neurology di Chicago dan secara daring.

Tim peneliti melacak kesehatan lebih dari 502 ribu orang dengan usia rata-rata 57 tahun. Peserta direkrut pada 2006 hingga 2010 lalu diikuti selama rata-rata 14 tahun.

Selama masa tindak lanjut, sebanyak 675 peserta mengembangkan ALS. Jumlah itu setara sekitar 0,14 persen dari seluruh peserta penelitian.

Sebanyak 277.620 peserta tergolong tipe bangun pagi, sedangkan 166.361 lainnya termasuk tipe begadang. Setelah penyesuaian faktor lain, kelompok bangun pagi memiliki risiko ALS 20 persen lebih rendah.

Peneliti juga menemukan aktivitas fisik yang lebih tinggi terkait risiko ALS 26 persen lebih rendah. Tidur malam selama 6 hingga 8 jam pun dikaitkan dengan risiko yang lebih kecil.

Peneliti Hong-Fu Li mengatakan temuan ini masih perlu ditelaah lebih jauh. Ia menilai gaya hidup sehat berpotensi menjadi strategi untuk membantu menekan risiko ALS.

Solusi yang dapat diterapkan ialah menjaga jam tidur lebih teratur dan membatasi kebiasaan begadang. Aktivitas fisik rutin, seperti berjalan, bersepeda, atau olahraga ringan, juga layak dipertahankan setiap pekan.

Tidur cukup sekitar 6 hingga 8 jam setiap malam juga menjadi langkah yang masuk akal. Namun, temuan ini belum membuktikan sebab-akibat sehingga bukan jaminan pencegahan mutlak.

Karena itu, hasil studi ini harus dibaca sebagai sinyal awal yang menjanjikan. Kesimpulan final baru lebih kuat setelah dipublikasikan dalam jurnal yang ditinjau sejawat.

Berita ini diolah dan disunting dengan melibatkan teknologi AI.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....