Studi: Milenial dan Gen Z Lebih Rentan Psikosis

  • 23 Feb 2026 09:23 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo - Studi baru mencatat kasus gangguan psikotik, termasuk skizofrenia, meningkat pada Milenial dan Gen Z. Kenaikan ini muncul lebih dini, dan kasus baru melonjak pada remaja.

Laporan itu terbit di Canadian Medical Association Journal. Tim menilai kelompok kelahiran 1980-an ke atas lebih sering mengalami psikosis.

Kasus baru psikosis naik 60 persen pada usia 14 hingga 20 tahun. Tren itu terbaca pada periode 1997 sampai 2023. Kenaikan mulai terlihat pada kohort kelahiran 1980-an.

Studi mendefinisikan Milenial lahir 1981 sampai 1996. Gen Z mencakup kelahiran 1997 sampai 2012. Tim membandingkannya dengan generasi yang lahir lebih awal.

Peneliti melacak kesehatan mental lebih dari 12 juta orang di provinsi itu. Mereka meneliti kelahiran 1960 sampai 2009, lalu menandai diagnosis gangguan psikotik. Lebih dari 152.000 orang menerima diagnosis tersebut.

Gangguan psikotik dapat memicu delusi, misalnya merasa televisi mengirim pesan khusus. Pasien juga dapat mengalami halusinasi, seperti mendengar suara yang memerintah. Tim merujuk National Institute of Mental Health untuk contoh gejala.

Angka kasus baru naik dari 62,5 per 100.000 pada 1997. Nilainya mencapai 99,7 per 100.000 pada 2023. Peningkatan paling jelas terjadi pada kelompok usia muda.

Kelahiran 2000 sampai 2004 mencatat tingkat psikosis 70 persen lebih tinggi. Tim membandingkannya dengan kelahiran 1975 sampai 1979. Diagnosis naik hampir 38 persen pada kelahiran 1990 sampai 1994.

Peneliti utama Daniel Myran menyebut penyebab tren ini belum jelas. Ia berkata, “Kami belum tahu pendorongnya, dan tidak ada satu penjelasan.” Ia menilai penjelasan yang kuat penting bagi pencegahan dan dukungan dini.

Myran memimpin riset kedokteran keluarga dan komunitas di Rumah Sakit Umum North York. Ia menyebut pasien psikosis sering memiliki masalah kesehatan lain. Kondisi ini meningkatkan risiko kematian pada usia muda.

Tim mengusulkan penyalahgunaan zat sebagai penjelasan potensial utama. Myran berkata, “Ganja, stimulan, halusinogen, dan obat sintetis dapat berperan.” Ia menautkan penggunaan zat usia muda dengan munculnya dan memburuknya psikosis.

Peneliti juga menyinggung orang tua yang lebih tua dan kurang sehat. Mereka menyebut tekanan finansial keluarga serta perpindahan rumah dapat menambah stres. Tim menilai pengalaman negatif masa kanak-kanak mungkin lebih sering dialami.

Tim menambahkan dokter mungkin kini lebih baik mendeteksi dan mendiagnosis psikosis. Mereka meminta riset lanjutan untuk menilai peran tiap faktor secara terukur.

Temuan ini mendorong layanan kesehatan menyiapkan skrining dan dukungan awal bagi remaja. Penulis juga meminta uji pencegahan, termasuk edukasi risiko penyalahgunaan zat.

Berita ini diolah dan disunting dengan melibatkan teknologi AI.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....