Waspada Bediding, Siang Panas Malam Menggigil

  • 26 Agt 2026 10:22 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Perubahan suhu yang terasa kontras antara siang dan malam kembali menjadi perhatian masyarakat saat musim kemarau. Siang hari bisa terasa panas dan terik, sementara menjelang malam hingga pagi udara berubah cukup dingin. Kondisi seperti ini kerap disebut masyarakat sebagai bediding, yakni fenomena ketika suhu udara malam hingga pagi terasa lebih dingin dibanding biasanya, sementara siang hari kembali menghangat bahkan terasa menyengat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, bediding merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi pada musim kemarau. Kondisi ini tidak perlu dikaitkan dengan fenomena aphelion. Faktor meteorologis seperti masuknya massa udara kering dari Australia, berkurangnya tutupan awan, serta rendahnya kelembapan udara justru memiliki peran penting dalam membuat suhu malam hingga pagi terasa lebih dingin.

Pada musim kemarau, langit yang lebih cerah membuat panas dari permukaan bumi lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer pada malam hari. Minimnya awan dan uap air menyebabkan panas tersebut tidak banyak tertahan di dekat permukaan. Akibatnya, suhu udara dapat turun cukup signifikan menjelang dini hari hingga pagi. Kondisi ini umumnya lebih terasa di wilayah dataran tinggi, pedalaman, maupun kawasan yang minim tutupan awan.

Sementara itu, pada siang hari matahari kembali memanaskan permukaan bumi. Inilah yang membuat masyarakat dapat merasakan perbedaan suhu yang cukup mencolok dalam satu hari, pagi terasa dingin, kemudian siang berubah panas dan terik. Jadi, kondisi “siang panas, malam menggigil” bukan berarti cuaca sedang mengalami keanehan, melainkan dapat menjadi bagian dari karakter cuaca pada periode kemarau.

Fenomena serupa juga berpotensi dirasakan masyarakat Gorontalo. Berdasarkan pembaruan prediksi BMKG, sebagian besar wilayah Gorontalo mulai memasuki musim kemarau pada Juli 2026, dengan sejumlah wilayah diperkirakan mengalami puncak kemarau pada Agustus hingga September. BMKG juga mencatat Gorontalo termasuk wilayah yang mengalami musim kemarau pada periode Agustus 2026.

Data prakiraan BMKG untuk wilayah Gorontalo pada 26 Agustus 2026 menunjukkan suhu minimum di sejumlah wilayah berada di kisaran sekitar 20–24 derajat Celsius, sementara suhu maksimum pada siang hari dapat mencapai sekitar 30–32 derajat Celsius. Kondisi tersebut menggambarkan adanya rentang suhu harian yang cukup terasa, meskipun intensitasnya dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Perubahan suhu yang cukup ekstrem juga perlu diantisipasi dari sisi kesehatan. Masyarakat dapat menjaga kondisi tubuh dengan mengenakan pakaian yang sesuai ketika beraktivitas pada malam dan pagi hari, menjaga asupan cairan, serta menghindari paparan panas berlebihan pada siang hari. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa suhu panas dapat meningkatkan risiko kelelahan akibat panas dan heatstroke, terutama pada bayi, lansia, pekerja luar ruangan, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu.

Karena itu, masyarakat Gorontalo tidak perlu panik ketika menghadapi udara yang lebih dingin pada malam atau pagi hari selama musim kemarau. Yang terpenting adalah memahami bahwa bediding merupakan fenomena cuaca yang dapat terjadi secara alami. Masyarakat juga disarankan mengikuti informasi prakiraan dan peringatan dini BMKG, terutama ketika kondisi kemarau semakin kering, sekaligus menyesuaikan aktivitas dan menjaga kesehatan menghadapi perbedaan suhu antara siang dan malam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....