Gorontalo Terasa Sejuk Pagi Hari, Ini Faktor Penyebabnya
- 26 Agt 2026 10:26 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo — Udara yang terasa lebih sejuk pada pagi hingga malam hari mulai dirasakan masyarakat Gorontalo di tengah berlangsungnya musim kemarau. Kondisi tersebut berkaitan dengan dinamika atmosfer dan karakteristik cuaca pada musim kemarau, ketika tutupan awan cenderung berkurang dan proses pendinginan permukaan berlangsung lebih efektif pada malam hingga menjelang pagi.
Berdasarkan prakiraan BMKG, kondisi cuaca di Gorontalo pada periode akhir Agustus 2026 masih dipengaruhi dominasi musim kemarau.
BMKG menyebut kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, meski hujan lokal tetap berpeluang terjadi di sejumlah daerah. Kondisi ini juga meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan di wilayah yang mengalami curah hujan rendah.
Salah satu faktor penting yang memengaruhi kondisi tersebut adalah penguatan Monsun Australia. Pola angin ini membawa massa udara yang relatif lebih kering ke wilayah Indonesia dan berkontribusi terhadap berkurangnya pembentukan awan. BMKG menjelaskan bahwa penguatan Monsun Australia dapat membawa massa udara kering sekaligus mengurangi tutupan awan, sehingga radiasi matahari pada siang hari dapat lebih maksimal.
Berkurangnya tutupan awan juga berpengaruh terhadap suhu pada malam hari. Saat langit relatif cerah, panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah dilepaskan ke atmosfer. Akibatnya, suhu permukaan dan udara di dekat permukaan dapat menurun menjelang dini hari hingga pagi. Inilah salah satu alasan mengapa udara pagi dapat terasa lebih dingin dibandingkan siang hari, meskipun suhu kemudian kembali meningkat ketika matahari mulai menghangatkan permukaan.
Kondisi udara yang lebih kering juga menjadi bagian dari karakter musim kemarau. Ketika kandungan uap air dan pembentukan awan berkurang, perbedaan suhu antara siang dan malam dapat terasa lebih nyata. Namun, tingkat kelembapan tidak selalu rendah sepanjang waktu. Kelembapan dapat berubah menurut waktu, lokasi, suhu, kondisi awan, serta kedekatan wilayah dengan sumber air.
Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Dalam prakiraan BMKG untuk periode akhir Agustus 2026, kedua fenomena tersebut disebut menjadi faktor yang mendukung kondisi kering di sebagian besar wilayah Indonesia. Kombinasi faktor iklim tersebut dapat memperkuat karakter musim kemarau dan mengurangi peluang terbentuknya hujan dalam skala luas.
Sementara itu, pengaruh angin dari arah Australia juga perlu dipahami secara tepat. Pada periode kemarau, pola angin timuran atau Monsun Australia memang menjadi salah satu penanda penting musim kering di Indonesia. BMKG menjelaskan bahwa peralihan dari angin baratan atau Monsun Asia menuju angin timuran atau Monsun Australia merupakan bagian dari proses masuknya musim kemarau 2026.
Meski udara pagi terasa lebih sejuk, masyarakat Gorontalo tidak perlu menganggap kondisi tersebut sebagai tanda bahwa seluruh wilayah mengalami suhu ekstrem rendah. Suhu dan kelembapan dapat berbeda antara satu lokasi dengan lokasi lainnya, termasuk antara wilayah perkotaan, pesisir, dataran rendah dan daerah yang lebih tinggi. Karena itu, masyarakat disarankan menjadikan informasi resmi BMKG sebagai rujukan utama, terutama ketika merencanakan aktivitas luar ruangan, perjalanan, maupun kegiatan pertanian di tengah musim kemarau.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....