Jauhkan Ponsel Demi Tidur Berkualitas

  • 23 Jul 2026 22:46 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Kebiasaan meletakkan telepon genggam (HP) di samping bantal atau dekat kepala saat tidur masih sering dilakukan banyak orang. Alasan yang paling umum adalah agar alarm mudah didengar, mengisi daya semalaman, atau sekadar memudahkan mengecek notifikasi ketika terbangun. Meski terlihat sepele, para ahli menyarankan agar kebiasaan tersebut mulai dikurangi karena berpotensi memengaruhi kualitas tidur dan keselamatan pengguna.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gangguan tidur akibat keberadaan HP di dekat tempat tidur lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan menggunakan layar sebelum tidur dibandingkan paparan gelombang radio (radiofrekuensi) dari perangkat itu sendiri. Cahaya biru (blue light) dari layar dapat menekan produksi hormon melatonin, yaitu hormon yang membantu tubuh merasa mengantuk. Akibatnya, seseorang menjadi lebih sulit tidur, waktu tidur berkurang, dan kualitas istirahat menurun.

Di sisi lain, hingga saat ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa bukti ilmiah yang tersedia belum menunjukkan adanya dampak kesehatan yang konsisten akibat paparan medan elektromagnetik (EMF) dari telepon seluler pada tingkat penggunaan normal. Efek utama gelombang radio dari ponsel adalah pemanasan jaringan dalam jumlah yang sangat kecil dan masih berada di bawah batas aman yang ditetapkan oleh pedoman internasional.

Klaim bahwa tidur dengan HP di dekat kepala dapat langsung menyebabkan kerusakan otak, sakit kepala kronis, atau gangguan serius akibat radiasi hingga kini juga belum memiliki bukti ilmiah yang kuat. Bahkan, tinjauan ilmiah berskala besar yang didukung WHO pada 2024 menyimpulkan belum ditemukan hubungan antara penggunaan telepon seluler dengan peningkatan risiko kanker otak. Meski demikian, penelitian jangka panjang tetap terus dilakukan mengikuti perkembangan teknologi komunikasi.

Walaupun demikian, bukan berarti pengguna boleh mengabaikan aspek keselamatan. Mengisi daya HP di atas kasur, bantal, atau selimut dapat menghambat pelepasan panas sehingga perangkat menjadi lebih cepat panas. Dalam kondisi tertentu, terutama jika menggunakan charger atau baterai yang rusak maupun tidak asli, risiko korsleting hingga kebakaran dapat meningkat. Oleh karena itu, para ahli keselamatan listrik menyarankan agar proses pengisian daya dilakukan di permukaan yang keras dan memiliki sirkulasi udara yang baik.

Dokter spesialis tidur juga menilai bahwa keberadaan HP di dekat kepala sering kali memicu kebiasaan membuka media sosial, membalas pesan, atau melihat notifikasi saat malam hari. Aktivitas tersebut membuat otak tetap aktif sehingga waktu untuk memasuki fase tidur menjadi lebih lama. Dalam jangka panjang, kurang tidur diketahui dapat meningkatkan risiko gangguan konsentrasi, penurunan daya ingat, perubahan suasana hati, hingga meningkatkan risiko penyakit metabolik dan kardiovaskular.

Untuk mendapatkan tidur yang lebih berkualitas, masyarakat dianjurkan meletakkan HP setidaknya sekitar satu meter dari tempat tidur atau di meja samping, mengaktifkan mode pesawat bila perangkat hanya digunakan sebagai alarm, mematikan notifikasi yang tidak penting, serta menghindari penggunaan layar 30–60 menit sebelum waktu tidur. Langkah sederhana tersebut dinilai lebih efektif dalam menjaga kualitas tidur dibandingkan hanya berfokus pada kekhawatiran terhadap radiasi ponsel.

Dengan demikian, pesan utama yang perlu dipahami masyarakat bukanlah rasa takut berlebihan terhadap radiasi HP, melainkan membangun kebiasaan tidur yang sehat dan aman. Menjauhkan ponsel dari kepala saat tidur dapat membantu mengurangi gangguan akibat notifikasi, paparan cahaya layar, sekaligus meminimalkan risiko perangkat menjadi terlalu panas saat diisi daya. Kebiasaan sederhana ini menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas istirahat dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....