Jejak Armada Magellan Mengawali Hubungan Spanyol dengan Tidore Bersejarah
- 22 Jul 2026 13:15 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo - Ambisi Kerajaan Spanyol untuk menemukan jalur baru menuju sumber rempah-rempah dunia melahirkan salah satu ekspedisi pelayaran paling bersejarah. Ekspedisi yang dipimpin Ferdinand Magellan itu menjadi pelayaran pertama yang berhasil membuka jalur menuju Kepulauan Rempah di Nusantara dan menjadi awal hubungan antara Spanyol dengan Kesultanan Tidore.
Pada tahun 1519, Raja Charles V menyetujui rencana pelayaran Ferdinand Magellan untuk mencari rute baru menuju Maluku. Berdasarkan catatan Antonio Pigafetta yang dikutip dalam The First Voyage Around The World: An Account of Magellan's Expedition karya Theodore J. Cachey Jr., ekspedisi tersebut berangkat dari Sevilla menggunakan lima kapal, yakni Trinidad, San Antonio, Victoria, Concepcion, dan Santiago.
Magellan memimpin armada dari kapal Trinidad, didampingi para kapten Juan de Cartagena, Gaspar de Quesada, Luis de Mendoza, dan Giovanni Serrano yang memimpin kapal lainnya. Setelah sempat berlabuh lebih dari sebulan di Sanlucar de Barrameda, armada memulai pelayaran panjang melintasi Samudra Atlantik.
Perjalanan menuju Asia diwarnai berbagai tantangan. Armada diterjang badai selama hampir dua bulan yang menyebabkan kapal-kapal mengalami kerusakan dan sebagian besar persediaan makanan serta logistik hilang. Kondisi tersebut memaksa Magellan mengurangi jatah makanan dan air minum bagi seluruh awak kapal demi mempertahankan kelangsungan ekspedisi.
Cobaan semakin berat ketika armada singgah di Teluk San Julian, Argentina, pada 31 Maret 1520. Di lokasi tersebut terjadi pemberontakan yang melibatkan tiga kapal, yakni San Antonio, Concepcion, dan Victoria. Para pemberontak berupaya mengambil alih armada dan berniat kembali ke Spanyol. Namun Magellan berhasil memadamkan pemberontakan setelah melakukan perlawanan. Sejumlah awak kapal kemudian diadili dan dijatuhi hukuman berat.
Ekspedisi terus berlanjut hingga mencapai Kepulauan Filipina. Pada 31 Maret 1521, Magellan menancapkan salib di Mazaua sebagai simbol klaim wilayah bagi Kerajaan Spanyol. Armada kemudian tiba di Cebu dan menjalin hubungan baik dengan Sultan Humabon yang dibaptis menjadi Don Carlos.
Namun hubungan tersebut berubah ketika Lapu-Lapu, penguasa Pulau Mactan, menolak mengakui kekuasaan Spanyol. Magellan memimpin serangan ke Mactan, tetapi gugur dalam pertempuran pada 27 April 1521 setelah terkena panah beracun.
Meski kehilangan pemimpinnya, misi menuju Kepulauan Rempah tidak dihentikan. Perjalanan dilanjutkan oleh dua kapal yang tersisa, yaitu Trinidad dan Victoria. Setelah singgah selama 35 hari di Borneo untuk memulihkan kondisi awak dan mengisi logistik, armada kembali berlayar menuju Maluku.
Pada 8 November 1521, para awak kapal akhirnya melihat empat pulau besar di Maluku Utara, yaitu Ternate, Tidore, Moti, dan Makian. Menurut catatan sejarah, kedatangan itu disambut dengan sorak-sorai seluruh awak kapal yang melepaskan tembakan meriam sebagai ungkapan kegembiraan setelah menempuh perjalanan panjang.
Sehari kemudian, Sultan Al-Mansur dari Tidore menyambut kedatangan armada Spanyol. Antonio Pigafetta mencatat bahwa rombongan Magellan diterima dengan baik oleh Sultan Tidore, menandai awal hubungan diplomatik dan perdagangan antara kedua pihak.
Di Tidore, armada Spanyol memuat cengkeh dalam jumlah besar sebelum meninggalkan Maluku pada Desember 1521. Meski kapal Trinidad mengalami kerusakan dan sebagian awak tertinggal di Tidore, kapal Victoria yang dipimpin Juan Sebastian de Elcano berhasil kembali ke Spanyol dengan membawa rempah-rempah yang nilainya mampu menutupi seluruh biaya ekspedisi.
Sejarawan M. Adnan Amal dalam Kepulauan Rempah-Rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250–1950 menyebutkan bahwa kedatangan armada Spanyol di Tidore menjadi tonggak awal hubungan politik dan perdagangan antara Kesultanan Tidore dan Spanyol. Hubungan tersebut terus berlangsung selama lebih dari satu abad, meskipun kerap menghadapi persaingan dan tekanan dari Portugis, hingga akhirnya berakhir pada tahun 1663.
Ekspedisi Magellan tidak hanya tercatat sebagai pelayaran keliling dunia pertama, tetapi juga menjadi bagian penting dalam sejarah Nusantara karena membuka babak baru interaksi antara bangsa Eropa dan kerajaan-kerajaan di Kepulauan Rempah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....