Membungkus Tangkai Pisang Bantu Perlambat Proses Pematangan Buah

  • 20 Jul 2026 10:22 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Pisang merupakan salah satu buah yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, termasuk di Gorontalo. Selain rasanya yang manis dan kaya nutrisi, pisang juga dikenal sebagai buah klimakterik, yaitu buah yang tetap mengalami proses pematangan setelah dipanen. Akibatnya, pisang sering kali cepat menguning, lembek, hingga akhirnya membusuk jika tidak disimpan dengan benar. Salah satu cara sederhana yang banyak dilakukan masyarakat adalah membungkus bagian tangkai pisang menggunakan plastik.

Cara tersebut bukan sekadar mitos. Sejumlah penelitian menjelaskan bahwa pisang menghasilkan gas etilen (ethylene), yaitu hormon alami tumbuhan yang berperan dalam mengatur proses pematangan buah. Produksi gas etilen akan meningkat setelah buah dipanen dan menjadi pemicu utama perubahan warna kulit, tekstur, aroma, serta rasa pisang. Semakin tinggi konsentrasi gas etilen di sekitar buah, semakin cepat pula proses pematangannya.

Bagian tangkai atau mahkota pisang menjadi salah satu titik utama keluarnya gas etilen. Dengan membungkus area tersebut menggunakan plastik atau plastik pembungkus makanan, pelepasan gas etilen ke lingkungan sekitar dapat sedikit ditekan. Selain itu, pembungkusan juga membantu mengurangi penguapan air pada tangkai sehingga kesegaran buah dapat bertahan lebih lama dibandingkan jika tangkai dibiarkan terbuka.

Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa cara ini tidak menghentikan proses pematangan sepenuhnya. Pembungkusan tangkai hanya memperlambat laju pematangan selama beberapa hari, tergantung tingkat kematangan pisang saat dibeli, suhu penyimpanan, serta kondisi lingkungan. Oleh karena itu, metode ini lebih tepat disebut sebagai upaya memperpanjang masa simpan, bukan menghentikan proses pematangan.

Selain membungkus tangkai, penyimpanan pisang juga perlu memperhatikan suhu ruangan. Pisang sebaiknya disimpan pada tempat yang sejuk, kering, dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Menyimpan pisang di bawah sinar matahari langsung atau di dekat sumber panas justru akan mempercepat produksi gas etilen sehingga buah lebih cepat matang dan membusuk.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah tidak menyimpan pisang berdekatan dengan buah klimakterik lain seperti apel, alpukat, mangga, pepaya, tomat, maupun pir. Buah-buah tersebut juga menghasilkan gas etilen yang dapat mempercepat proses pematangan pisang. Sebaliknya, jika ingin mempercepat pematangan pisang yang masih hijau, menyimpannya bersama apel atau tomat dapat menjadi pilihan alami.

Menurut United States Department of Agriculture (USDA), pisang merupakan sumber kalium, vitamin B6, vitamin C, serat pangan, dan antioksidan yang baik bagi tubuh. Sementara itu, berbagai publikasi ilmiah mengenai fisiologi pascapanen menjelaskan bahwa pengelolaan gas etilen merupakan salah satu kunci utama dalam mempertahankan kualitas buah selama penyimpanan. Informasi serupa juga dijelaskan oleh University of California Agriculture and Natural Resources (UC ANR) serta Royal Horticultural Society (RHS) yang menyebutkan bahwa pengendalian paparan etilen dapat membantu memperpanjang umur simpan berbagai jenis buah klimakterik.

Bagi masyarakat Gorontalo yang dikenal memiliki beragam varietas pisang lokal, seperti pisang gapi, pisang raja, dan pisang kepok, penerapan cara sederhana ini dapat menjadi solusi praktis untuk mengurangi pemborosan pangan di tingkat rumah tangga. Meski bukan metode yang sempurna, membungkus tangkai pisang dengan plastik merupakan langkah mudah, murah, dan didukung prinsip ilmiah dalam mengendalikan pelepasan gas etilen sehingga buah tetap segar lebih lama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....