Prof. Agustino Zulys Soroti Viral LCC dalam Sains, Juri dan Ahli Pun Bisa Salah

  • 14 Mei 2026 12:51 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo: Viralnya pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat (LCC) yang menjadi sorotan publik turut mendapat perhatian dari Guru Besar FMIPA UI, Prof. Agustino Zulis. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, ia menyoroti pentingnya sikap ilmiah dalam menyikapi perbedaan pendapat dan kemungkinan terjadinya kesalahan, termasuk dalam sebuah kompetisi akademik.

Dalam penjelasannya, Prof. Zulys menyebut manusia pada dasarnya tidak pernah sepenuhnya objektif karena otak memiliki kecenderungan yang dikenal sebagai cognitive biases atau bias berpikir. Menurutnya, seseorang yang dianggap ahli, senior, juri, atau memiliki jabatan tertentu sering kali otomatis dipersepsikan paling benar oleh banyak orang.

Padahal, kata dia, dalam dunia sains ukuran kebenaran bukan ditentukan oleh siapa yang berbicara, melainkan berdasarkan data dan fakta yang dapat diuji. Ia menegaskan bahwa doktor, profesor, hingga ilmuwan besar pun tetap bisa melakukan kesalahan.

Prof. Zulys juga menyinggung tentang confirmation biases, yakni kecenderungan manusia mencari informasi yang mendukung ego atau pendapatnya sendiri. Kondisi itu, lanjutnya, membuat seseorang bisa menjadi defensif ketika dikoreksi di depan umum karena otak menganggap kritik sebagai ancaman.

“Ketika emosi meningkat, kemampuan logika dapat menurun sementara. Akibatnya, seseorang menjadi sulit menerima koreksi,” ungkapnya dalam penjelasan tersebut.

Ia menilai, justru sikap rendah hati menjadi salah satu ciri utama sains yang sesungguhnya. Sebuah teori, kata dia, harus terbuka untuk diuji dan bahkan bisa dinyatakan keliru apabila ditemukan teori baru yang lebih baik. Konsep ini dikenal dalam filsafat ilmu sebagai falsifikasi yang dipopulerkan filsuf terkenal Karl Popper.

Sebagai contoh, ia mengingatkan bahwa sejarah ilmu pengetahuan mencatat banyak teori besar yang terus diperbarui. Albert Einstein disebut pernah merevisi pandangannya, sementara teori atom berkembang dari postulat Dalton hingga mekanika kuantum modern.

Menurutnya, kesalahan dalam sebuah kompetisi seperti LCC merupakan hal yang bisa saja terjadi. Karena itu, ia mengajak masyarakat agar tidak mudah merasa paling benar hanya karena memiliki posisi atau jabatan lebih tinggi.

Ia juga memberi pesan kepada generasi muda agar tidak takut menyampaikan pendapat berbeda kepada pihak yang lebih senior, selama dilakukan dengan adab, data, dan sikap saling menghormati.

“Karena kecerdasan seorang ilmuwan bukan berarti bebas dari kesalahan, tetapi mau menerima koreksi dan mengakui kekeliruan,” tutupnya dalam unggahan tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....