Peneliti IAIN Dorong Pelestarian Jagung Lokal Sebagai Identitas Daerah
- 09 Mei 2026 14:03 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo – Kegiatan diseminasi hasil penelitian bertajuk Kala Milu Siram Pulo – Menguning; Hikayat Binthe-Jagung Molamahu Benteng Pangan Hulondalo digelar di Manna Café and Resto, Sabtu 9 Mei 2026. Kegiatan ini menghadirkan akademisi, pemerhati budaya, serta masyarakat yang peduli terhadap pelestarian pangan dan budaya lokal Gorontalo.
Ketua peneliti sekaligus Dosen IAIN Sultan Amai Gorontalo, Momy Hunowu menjelaskan bahwa penelitian tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap semakin langkanya jagung pulo yang menjadi bahan utama Bindhe Biluhuta khas Gorontalo. Menurutnya, tim peneliti menemukan masih ada komunitas masyarakat yang secara khusus memproduksi jagung pulo untuk dipasarkan kepada pelanggan tetap yang menggunakan bahan tersebut untuk membuat Bindhe Biluhuta, baik dijual di warung maupun dikonsumsi di rumah tangga.
“Kami melakukan penelitian tentang Bindhe biluhuta yang berbasis Bindhe Pulo yang sudah langkah di Gorontalo tapi itu masih dicari dan kami menemukan ada satu komunitas yang melakukan produksi jagung pulo yang khusus mereka jual ke pasar-pasar,” ujar Momy
Ia menuturkan, penelitian tersebut dilakukan karena Bindhe Biluhuta telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda, namun dokumentasi dan referensi ilmiah mengenai jagung pulo sebagai identitas kuliner khas Gorontalo masih sangat terbatas.
Penelitian yang didanai oleh LPDP dan Indonesian itu kemudian menghasilkan berbagai produk akademik, mulai dari buku setebal hampir 400 halaman, video dokumenter hingga jurnal ilmiah yang kini mulai disebarluaskan kepada masyarakat melalui kegiatan diseminasi.
“Alhamdulillah kami mendapat bantuan sehingga penelitian ini dilakukan secara maksimal dan menghasilkan buku yang tebal hampir 400 halaman kemudian ada video dokumenter dan jurnal yang kemudian bisa kami diseminasikan ke masyarakat Gorontalo,” katanya
Momy berharap hasil penelitian tersebut tidak berhenti pada aspek akademik semata, tetapi dapat menjadi perhatian pemerintah dalam menyusun kebijakan pelestarian pangan dan budaya lokal Gorontalo.
Menurutnya, jagung pulo merupakan bagian dari identitas daerah, terutama dalam kuliner Bindhe Biluhuta, sehingga perlu ada program nyata untuk mempertahankan keberadaannya agar tetap eksis sebagai ciri khas Gorontalo.
“Harapannya pemerintah bisa punya program-program yang dapat mempertahankan warisan lokal ini yaitu Bindhe biluhuta tetap eksis sebagai ciri khas Gorontalo,” tambahnya

Sementara itu, pemerhati budaya Gorontalo Ali Mobiliu menilai diseminasi hasil penelitian tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat literasi budaya dan pangan lokal di Gorontalo. Ia mengapresiasi lahirnya karya tulis ilmiah yang mendokumentasikan sejarah dan nilai budaya jagung lokal Gorontalo secara mendalam, sehingga dapat menjadi sumber referensi dan inspirasi bagi generasi mendatang.
Menurut Ali, jagung tidak hanya dipandang sebagai komoditas pertanian semata, tetapi juga mengandung nilai historis, budaya, dan ekonomi yang perlu dikembangkan melalui keberpihakan kebijakan pemerintah.
“Sejak tahun 2004 Gorontalo dikenal dengan jagung hibrida, tetapi dalam buku ini justru diangkat jagung lokal Gorontalo yang punya nilai historis, budaya, dan ekonomi yang harus dikembangkan,” ujarnya.
“Pengembangan jagung Pulo ini membutuhkan keberpihakan dan ada intervensi interferensi kebijakan lah dan pemerintah untuk mendorong misalnya bagaimana memproduksi jagung khas Gorontalo ini kembali lestari, kemudian mendorong pengembangan kuliner khas yang berbahan baku jagung,” tegas Ali
Ia berharap pemerintah dapat mendorong kembali pelestarian dan produksi jagung khas Gorontalo, sekaligus memperkuat pengembangan kuliner berbahan baku jagung lokal agar tetap hidup di tengah masyarakat dan memiliki nilai ekonomi yang berkelanjutan. (RA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....