Benarkah Golongan Darah O, Lebih Sering Digigit Nyamuk?

  • 03 Mei 2026 20:36 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Pernah merasa menjadi orang yang paling sering digigit nyamuk saat berada di luar ruangan bersama teman-teman? Sementara orang lain tampak santai tanpa gangguan, Anda justru sibuk menepis nyamuk yang terus mendekat. Fenomena ini sering dikaitkan dengan istilah “darah manis”, namun penelitian ilmiah menunjukkan bahwa faktor biologis memang berperan dalam menentukan siapa yang lebih menarik bagi nyamuk.

Sejumlah penelitian menemukan bahwa nyamuk betina cenderung lebih tertarik pada orang dengan golongan darah tertentu, khususnya golongan darah O. Nyamuk betina membutuhkan protein dan zat besi dari darah manusia untuk membantu proses produksi telur. Karena itu, serangga ini memiliki kemampuan mendeteksi sinyal kimia dari tubuh manusia sebelum memutuskan untuk menggigit.

Salah satu penelitian yang banyak dijadikan rujukan berasal dari peneliti Jepang Yoshikazu Shirai dan dipublikasikan dalam Journal of Medical Entomology. Dalam penelitian tersebut, nyamuk spesies Aedes albopictus tercatat lebih sering hinggap pada individu bergolongan darah O dibandingkan golongan darah A. Golongan darah B berada di tingkat tengah dalam daya tarik terhadap nyamuk.

Para ilmuwan menjelaskan bahwa sekitar 80 persen manusia termasuk tipe “sekretor”, yakni individu yang mengeluarkan penanda kimia berupa antigen melalui kulit dan keringat. Penanda inilah yang diduga dapat dideteksi nyamuk sebagai petunjuk golongan darah seseorang. Selain itu, aroma tubuh juga berpengaruh besar terhadap ketertarikan nyamuk.

Faktor lain yang membuat seseorang lebih mudah digigit adalah produksi karbon dioksida (CO2). Nyamuk mampu mendeteksi CO2 dari napas manusia dalam jarak cukup jauh. Orang dengan metabolisme tinggi, seperti ibu hamil atau individu bertubuh besar, umumnya menghasilkan CO2 lebih banyak sehingga lebih mudah terdeteksi nyamuk.

Tak hanya itu, suhu tubuh dan aktivitas fisik juga menjadi faktor pendukung. Setelah berolahraga, tubuh menghasilkan asam laktat, amonia, serta senyawa lain melalui keringat yang sangat disukai nyamuk. Penelitian dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga menyebutkan bahwa nyamuk lebih tertarik pada suhu tubuh hangat dibandingkan suhu yang lebih rendah.

Warna pakaian juga ternyata turut memengaruhi risiko digigit nyamuk. Menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications, nyamuk lebih mudah tertarik pada warna gelap seperti hitam, merah, dan biru tua. Sebaliknya, warna terang seperti putih atau hijau muda cenderung kurang menarik perhatian nyamuk.

Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa golongan darah bukan satu-satunya penentu. Risiko terkena penyakit seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) atau malaria lebih dipengaruhi oleh keberadaan virus pada populasi nyamuk di lingkungan sekitar. Karena itu, penggunaan losion antinyamuk, pakaian tertutup, serta menjaga lingkungan bebas genangan air tetap menjadi langkah pencegahan paling efektif.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....