Fakta Jamur Pengubah Cuaca

  • 02 Mei 2026 19:25 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID,Gorontalo - Para ilmuwan sebenarnya telah lama mengetahui bahwa sejumlah bakteri tertentu mampu menghasilkan protein khusus yang dapat membantu air membeku pada suhu relatif tinggi, yakni sekitar minus 5 derajat Celsius. Proses ini dikenal sebagai nukleasi es, yaitu pembentukan inti kristal es yang menjadi langkah awal terbentuknya salju atau hujan di awan.

Namun, kemampuan serupa pada jamur sebelumnya masih menjadi misteri. Melalui penelitian mendalam, para ilmuwan akhirnya menemukan bahwa beberapa jenis jamur dari famili Mortierellaceae ternyata memiliki gen yang sangat mirip dengan gen InaZ, yang sebelumnya hanya ditemukan pada bakteri.

Gen tersebut diyakini diperoleh melalui proses yang disebut transfer gen horizontal, yaitu perpindahan materi genetik antarorganisme yang berbeda spesies. Dengan kata lain, nenek moyang jamur ini "meminjam" gen dari bakteri purba jutaan tahun lalu, kemudian mengembangkannya menjadi kemampuan biologis baru.

Untuk memastikan temuannya, para peneliti memindahkan gen tersebut ke dalam sel ragi. Hasilnya sangat mencengangkan. Sel ragi itu kemudian mampu membentuk es, membuktikan bahwa gen tersebut memang bertanggung jawab dalam menghasilkan protein pemicu pembekuan air.

Kemampuan ini diduga memberikan keuntungan besar bagi jamur dalam bertahan hidup. Salah satu teori menyebutkan bahwa protein pembentuk es membantu jamur memperoleh air dari udara. Pada lumut kerak, misalnya, protein tersebut dapat memicu pembentukan embun beku pada pagi hari, yang kemudian mencair dan menyediakan pasokan air sepanjang hari.

Lebih dari itu, protein-protein ini ternyata dapat terlepas ke atmosfer. Di sana, mereka bertindak sebagai inti es, membantu pembentukan kristal es di awan. Ketika kristal-kristal tersebut membesar, mereka akhirnya jatuh ke permukaan Bumi dalam bentuk hujan atau salju.

Mekanisme ini mirip dengan peran bakteri seperti Pseudomonas syringae, yang telah lama diketahui berpartisipasi dalam siklus air global. Namun, karena jamur mampu menghasilkan protein dalam jumlah yang sangat besar, kontribusinya terhadap pembentukan inti es di atmosfer diperkirakan jauh lebih signifikan.

Artinya, jamur mungkin memainkan peran yang selama ini kurang diperhitungkan dalam mengatur pola curah hujan di berbagai wilayah dunia.

Penemuan ini bukan hanya penting bagi dunia sains, tetapi juga berpotensi membawa manfaat praktis. Saat ini, teknologi modifikasi cuaca atau penyemaian awan umumnya menggunakan perak iodida, bahan kimia yang efektif namun kerap menimbulkan kekhawatiran terkait dampak lingkungan.

Protein alami yang dihasilkan jamur dapat menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan, lebih aman, dan berpotensi lebih efisien untuk digunakan dalam teknologi penyemaian awan di masa depan.

Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami sepenuhnya bagaimana jamur berinteraksi dengan atmosfer serta seberapa besar pengaruhnya terhadap sistem iklim global.

Temuan ini sekali lagi menunjukkan bahwa organisme mikroskopis yang tampak sederhana ternyata memiliki peran luar biasa dalam menjaga keseimbangan alam. Jamur, yang selama ini sering dianggap sepele, kini terbukti mungkin menjadi salah satu aktor penting dalam proses terbentuknya hujan di Bumi.(Sumber berita : tekno.sindonews.com )

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....