Tragedi 26 April 1986: Awal Bencana Nuklir Chernobyl
- 25 Apr 2026 15:59 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo – Sejarah mencatat adalah Bencana Chernobyl terjadi pada 26 April 1986 di reaktor nomor 4, dekat kota Pripyat, Ukraina (saat itu bagian dari Uni Soviet). Insiden bermula saat dilakukan uji coba sistem pendinginan. Pada sekitar pukul 01.00 dini hari, terjadi lonjakan daya yang tidak terkendali. Ketika operator mencoba melakukan penghentian darurat, justru terjadi peningkatan energi yang sangat besar hingga menyebabkan reaktor pecah dan memicu ledakan uap.
Ledakan tersebut melepaskan material radioaktif, termasuk grafit yang terbakar, ke atmosfer. Kebakaran berlangsung selama hampir satu minggu, menyebarkan partikel radioaktif ke wilayah luas, tidak hanya di sekitar lokasi tetapi juga ke Eropa. Sekitar 60% dari debu radioaktif dilaporkan jatuh di Belarus.
Evakuasi penduduk tidak dilakukan segera. Sekitar 36 jam setelah kejadian, pemerintah Soviet menetapkan zona eksklusi sejauh 10 km dan mengevakuasi sekitar 49.000 orang, terutama dari Pripyat. Namun, pada awalnya informasi kepada publik sangat terbatas. Bahkan, ada anjuran bahwa warga seharusnya tetap di dalam rumah terlebih dahulu karena arah angin membuat kondisi kota relatif lebih aman saat itu.
Seiring meningkatnya kontaminasi, zona evakuasi diperluas menjadi 30 km dalam waktu seminggu, memaksa tambahan sekitar 68.000 orang meninggalkan rumah mereka. Total pengungsi jangka panjang mencapai sekitar 135.000 orang, dan meningkat menjadi sekitar 350.000 orang dalam periode 1986–2000.
Dampak bencana ini sangat besar, baik dari sisi lingkungan, kesehatan, maupun ekonomi. Rusia, Ukraina, dan Belarus harus menanggung biaya besar untuk dekontaminasi serta kompensasi bagi korban. Selain itu, rencana pembangunan reaktor baru, termasuk reaktor 5 dan 6 di Chernobyl, dibatalkan.
Secara global, tragedi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan energi nuklir. Bencana ini juga membuka kelemahan budaya keselamatan di industri nuklir Soviet. Upaya pemerintah yang awalnya menutupi kejadian justru memicu tuntutan transparansi (glasnost), yang kemudian berkontribusi pada reformasi besar hingga runtuhnya Uni Soviet.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....