Peran Perempuan Pesisir dalam Pelestarian Teluk Gorontalo

  • 21 Des 2025 16:32 WIB
  •  Gorontalo

KBRN, Gorontalo : Teluk Gorontalo, yang dikenal sebagai salah satu kawasan dengan kekayaan hayati yang luar biasa, tidak hanya menjadi sumber kehidupan bagi ribuan jiwa yang tinggal di pesisirnya, tetapi juga menjadi pusat perhatian dalam upaya pelestarian Kawasan Konservasi Perairan (KKP). Namun, di balik upaya besar tersebut, ada satu kekuatan yang sering kali terabaikan, yaitu perempuan pesisir.

Menurut Prof. Dr. Femy Mahmud Sahami akademisi dari Fakultas Kelautan dan Ilmu Perikanan (FKTP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), perempuan pesisir memainkan peran yang sangat strategis dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut. Prof. Femy menjelaskan bahwa keterlibatan aktif perempuan dalam pengelolaan KKP bukan lagi sekadar pilihan, tetapi keharusan.

Dalam kegiatan Peningkatan Pelibatan Perempuan dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi di Perairan Wilayah Teluk Gorontalo, yang diselenggarakan oleh Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar, Prof. Femy menyoroti bagaimana peran perempuan pesisir sering kali dipandang sebelah mata. Padahal, menurutnya, perempuan pesisir adalah sosok multiperan yang sangat penting bagi keberlanjutan sumber daya alam.

"Perempuan pesisir bukan hanya pengelola rumah tangga. Mereka adalah penggerak ekonomi, penjaga pengetahuan lokal, sekaligus pendidik generasi masa depan. Kedekatan langsung mereka dengan laut setiap hari menjadikan mereka aktor kunci bagi keberlanjutan sumber daya kita," ujar Prof. Femy

Secara tradisional, perempuan pesisir telah lama menjadi benteng pertahanan keluarga. Mereka mengolah hasil tangkapan laut, menjaga ketahanan pangan, berdagang di pasar, serta mewariskan kearifan lokal terkait musim tangkap dan cara memanfaatkan laut secara bijak kepada anak-anak mereka. Keberadaan mereka sering kali menjadi penopang ekonomi lokal yang tak ternilai harganya.

Prof. Femy lebih lanjut menekankan bahwa perempuan pesisir memiliki potensi besar untuk terlibat dalam berbagai aspek teknis dan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi. Beberapa peran strategis yang bisa dimainkan oleh perempuan pesisir antara lain:

Monitoring & Pengawasan: Perempuan dapat berperan sebagai "mata" yang menjaga kelestarian kawasan konservasi, melakukan pengawasan secara langsung terhadap ekosistem pesisir, serta melaporkan perubahan atau kerusakan yang terjadi.

Edukasi & Advokasi: Perempuan bisa mengampanyekan pentingnya lingkungan sehat kepada komunitas mereka, memberikan pendidikan tentang konservasi kepada keluarga dan masyarakat sekitar, serta menginspirasi tindakan ramah lingkungan.

Ekowisata Bahari: Mengelola potensi wisata berbasis alam yang berkelanjutan, memberikan peluang ekonomi baru bagi perempuan pesisir, dan memperkenalkan keindahan alam kepada dunia luar dengan tetap menjaga kelestarian alam.

Pengendalian Sampah Laut: Perempuan bisa memimpin gerakan kebersihan di lingkungan pesisir, mendidik anak-anak dan masyarakat untuk menjaga kebersihan laut dari sampah, serta mendorong praktik pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.

Salah satu hal penting yang disoroti oleh Prof. Femy adalah pentingnya perspektif perempuan dalam perencanaan tata ruang laut. Perempuan yang sehari-harinya berinteraksi langsung dengan laut memiliki pengetahuan dan pengalaman yang tak ternilai harganya, yang dapat berkontribusi pada kebijakan pengelolaan KKP yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat lokal.

"Ketika perempuan dilibatkan, akan tumbuh rasa memiliki (sense of belonging) dan tanggung jawab bersama. Ini bukan hanya soal keadilan sosial, tetapi soal bagaimana kita memastikan sumber daya laut tetap ada untuk masa depan," tambah Prof. Femy.

Pemberdayaan perempuan pesisir, menurut Prof. Femy, tidak hanya berdampak pada keberlanjutan ekosistem laut, tetapi juga pada penguatan ekonomi lokal. Dengan mendorong diversifikasi usaha berbasis konservasi, perempuan pesisir dapat meningkatkan ketahanan komunitas mereka dalam menghadapi berbagai tantangan lingkungan dan ekonomi yang semakin kompleks.

"Dengan melibatkan perempuan dalam pengelolaan kawasan konservasi, kita tidak hanya memberi mereka kesempatan untuk memperkuat ekonomi keluarga, tetapi juga untuk menjadi agen perubahan yang dapat membantu menjaga keberlanjutan sumber daya alam kita," jelas Prof. Femy. (RA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....