Revitalisasi Tradisi Menenun Sulaman Karawo Berbahan Pelepah Pisang

  • 01 Des 2025 08:26 WIB
  •  Gorontalo

KBRN, Gorontalo : Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan seni dan budaya lokal dengan meraih hibah Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun Anggaran 2025. Program ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang bertujuan untuk mengkolaborasikan pelaku akademik, komunitas seni, dan masyarakat dalam rangka inovasi dan revitalisasi seni budaya Indonesia.

Empat dosen dari UNG, yaitu Dr. Hariana, S.Pd., M.Ds.; Syafriani, S.T., M.Ars.; Esta Larosa, S.Pd., M.Pd.; dan Wahyu Saputra, S.Pd., M.Arch., berhasil memperoleh pendanaan hibah tersebut dengan mengangkat tema "Inovasi Pemanfaatan Limbah Pelepah Pisang Menjadi Benang Ramah Lingkungan". Kegiatan ini melibatkan kolaborasi dengan TIAR Handycraft, sebuah mitra seni yang berfokus pada pengembangan kerajinan berbahan ramah lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Selain itu, pengrajin karawo juga turut serta dalam upaya revitalisasi tradisi sulam karawo yang khas dari Gorontalo.

Dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini, tim UNG melakukan demonstrasi tentang bagaimana mengolah limbah pelepah pisang menjadi serat dan benang. Proses ini meliputi tahapan pemilahan bahan, pembersihan, pengeringan, pewarnaan, hingga pemintalan manual yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Pemanfaatan limbah pelepah pisang ini sangat relevan mengingat tingginya produksi pisang di Provinsi Gorontalo.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2024, produksi pisang di daerah ini mencapai 64.542,16 kuintal atau sekitar 6.454 ton, yang menghasilkan limbah pelepah pisang dalam jumlah besar dan belum dimanfaatkan secara optimal.

Menurut Dr. Hariana, S.Pd., M.Ds, Pemilihan pelepah pisang sebagai bahan baku inovasi ini tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Dengan menghasilkan benang ramah lingkungan, kita berharap dapat mengurangi ketergantungan pada bahan sintetis, sekaligus memberikan dampak positif bagi para pengrajin lokal.

“Tak hanya soal limbah, kegiatan ini juga bertujuan untuk menghidupkan kembali seni sulam karawo, yang merupakan warisan budaya Gorontalo. Benang berbahan pelepah pisang yang dihasilkan diklaim memiliki keunggulan, yakni lebih kuat dan mengkilap dibandingkan benang sulam metalik sintetis yang biasa digunakan selama ini, ujar Dr. Hariana, salah satu dosen penggagas program ini.

“Seperti yang diungkapkan oleh salah satu pengrajin karawo, "Benang dari pelepah pisang ini lebih tahan lama dan memiliki kilap alami yang membuat hasil sulamannya lebih indah." Tambahnya

Selain itu, program ini juga turut serta dalam menghidupkan kembali tradisi menenun di Gorontalo yang telah lama terhenti. Penenun terakhir yang diketahui, Saida Puluhulawa dari Desa Barakati, meninggal pada tahun 2013 tanpa ada penerus yang jelas. Melalui pelatihan menenun yang diadakan, diharapkan dapat muncul generasi penerus yang tidak hanya menguasai keterampilan menenun, tetapi juga dapat menghidupkan kembali tradisi ini sebagai bagian dari identitas budaya Gorontalo.

Program hibah PISN ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mewujudkan sinergi antara dunia akademik, masyarakat, dan pelaku seni dalam upaya pelestarian dan pengembangan seni budaya Indonesia, khususnya yang ada di Gorontalo. (RA)


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....