Serangan Drone Perburuk Kondisi Reaktor Chernobyl
- 28 Apr 2026 09:24 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo - Kondisi keamanan di area bekas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl kini menjadi perhatian serius setelah struktur pelindung reaktornya dilaporkan mengalami kerusakan yang cukup signifikan.
Reaktor yang meledak pada 26 April 1986 itu sebelumnya telah ditutup secara permanen guna mencegah kebocoran zat radioaktif ke udara. Namun, konflik yang masih berlangsung antara Rusia dan Ukraina disebut turut memperburuk kondisi fasilitas tersebut. Serangan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir dinilai mulai melemahkan ketahanan bangunan yang selama puluhan tahun berfungsi sebagai pelindung utama dari ancaman radiasi bagi masyarakat di Ukraina, Belarus, hingga Rusia.
Dilansir dari Nationalgeographic.co.id Situasi ini muncul bertepatan dengan momentum peringatan 40 tahun tragedi nuklir Chernobyl, bencana yang dikenal sebagai salah satu kecelakaan nuklir paling parah dalam sejarah dunia. Struktur yang dibangun untuk mengurung sisa radiasi kini dilaporkan mengalami penurunan kualitas yang cukup mengkhawatirkan.
Hal ini memunculkan pertanyaan besar mengenai potensi bahaya yang mungkin terjadi apabila bangunan pelindung tersebut terus mengalami kerusakan. Banyak pihak menyoroti apakah struktur itu masih mampu menjalankan perannya dalam menahan paparan radiasi.
Ancaman Kerusakan Struktur dan Risiko Radiasi
Setelah ledakan besar pada tahun 1986, pemerintah Uni Soviet saat itu membangun pelindung darurat berupa konstruksi beton dan baja yang dikenal sebagai sarkofagus, untuk menutup reaktor yang rusak parah.
Sebagai langkah perlindungan jangka panjang, pada November 2016 dipasang kubah baja modern bernama New Safe Confinement (NSC). Proyek ini menelan biaya sekitar 1,5 miliar euro atau setara kurang lebih Rp30 triliun.
Namun, laporan terbaru dari Euronews menyebutkan bahwa fasilitas tersebut kini menghadapi ancaman baru setelah terkena serangan drone Rusia pada Februari tahun lalu.
Data dari International Atomic Energy Agency (IAEA) menunjukkan bahwa serangan itu memang tidak menghancurkan struktur utama secara total, tetapi menyebabkan kerusakan pada lapisan baja pelindungnya.
Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, dalam kunjungannya menyampaikan bahwa sistem keselamatan utama mengalami penurunan fungsi.
"Struktur pelindung tersebut telah kehilangan fungsi keselamatan utamanya, termasuk kemampuan untuk mengisolasi material berbahaya, meskipun sistem pemantauan serta penopang utama bangunan masih tetap berfungsi," jelasnya.
Kondisi ini membuat dunia internasional kembali menaruh perhatian pada keselamatan kawasan Chernobyl, mengingat dampak kebocoran radiasi dapat meluas lintas negara jika tidak segera ditangani.
Sumber: Nationalgeographic.co.id
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....