Menenun Masa Depan: Revitalisasi Tenun Gorontalo

  • 29 Sep 2026 20:05 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo — Ketua Dekranasda Provinsi Gorontalo, Nani Mokodongan, menegaskan pentingnya menjaga keaslian warisan budaya di tengah gempuran inovasi.

Nani Molodongan mengimbau agar pembuatan sulaman khas Karawo tetap mematuhi aturan standar, khususnya konsistensi empat warna utama yang tidak boleh diubah atau dicampur secara berlebihan.

"Kerajinan Karawo kini semakin diminati di tingkat lokal, nasional, hingga mancanegara. Dorongan dari era digital serta kerja sama lintas sektor menjadi kunci agar perajin kita terus berdaya saing," ungkap Nani.

Pernyataan Nani Mokodongan ini disampaikan pada talkshow bertajuk "Merajut Warisan, Menenun Masa Depan: Revitalisasi Tenun Gorontalo melalui Harmoni Tenun dan Karawo" sukses digelar pada Selasa, 29 September 2026, pukul 13.00 – 14.00 WIB.

Ajang pameran kriya nasional kembali menjadi saksi penting bagi kebangkitan wastra Nusantara. Bertempat di Hall B Jakarta International Convention Center (JCC), Jakarta.

Dipandu oleh Sdr. Bevin Philip Pratama, selaku moderator, acara ini mengupas tuntas strategi strategis, riset mendalam, hingga inovasi kreatif dalam mengangkat kembali kekayaan budaya Gorontalo ke kancah nasional dan global.

Talkshow ini dilatarbelakangi oleh urgensi pelestarian warisan budaya Nusantara yang harus berjalan beriringan dengan tuntutan zaman.

Penguatan identitas lewat harmoni visual, peningkatan daya saing perajin lokal, serta dorongan agar sektor ekonomi kreatif daerah semakin mandiri menjadi fondasi utama dalam perbincangan ini.

Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo, Ciptoning Suryo Condro, memaparkan komitmen Bank Indonesia dalam mendorong ekonomi inklusif dan berkelanjutan melalui pengembangan wastra potensial daerah.

Melalui program riset "What's Next?", Bank Indonesia bersama para periset menelusuri sejarah lokal dan menemukan bukti bahwa Gorontalo memiliki tradisi tenun masa lampau yang luar biasa.

"Pengawinkan tenun khas Gorontalo yang baru dieksplorasi ini dengan kerajinan Karawo eksisting bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah (value added), memperluas lapangan kerja bagi para penenun, serta mendongkrak nilai jual ekspor wastra Gorontalo," ujar Ciptoning.

Inovasi perpaduan tersebut turut dikupas secara mendalam oleh Direktur Galeri UMKM Olaku sekaligus Owner UMKM Tiar, Isnawati Ilahude (Pemrakarsa "Tenun Kala"). Ia menceritakan bahwa inovasi ini bermula dari kegelisahan melihat kalangan sosialita yang jarang melirik Karawo berbahan katun biasa, sehingga dibutuhkan sentuhan bahan yang lebih berkelas.

Melalui uji coba panjang, Isnawati berhasil menemukan jenis tenun polos dengan kerapatan benang (lungsin/pakan) yang pas, sehingga sulaman Karawo tetap menonjol tanpa tereliminasi.

Hasil riset dan kreativitas ini melahirkan Tenun Kala, yang sukses menembus 20 besar Championship Inovasi Wastra 2026 tingkat nasional—membuktikan bahwa modernisasi fesyen dapat berjalan selaras tanpa menghilangkan identitas budaya Gorontalo. (mcgorontaloprov/Dony)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....