Boalemo Dilibatkan dalam Percepatan Pengembangan Bioetanol Nasional

  • 22 Sep 2026 14:37 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Pemerintah Kabupaten Boalemo ikut dilibatkan dalam upaya percepatan pengembangan bioetanol nasional yang digagas Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Keterlibatan tersebut ditandai dengan kehadiran Wakil Bupati Boalemo, Lahmuddin Hambali, dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pengembangan Bioetanol bersama 44 kepala daerah dari wilayah sentra produksi di Jakarta, Senin 21 September 2026.

Rapat dipimpin Menteri Pertanian Republik Indonesia Andi Amran Sulaiman. Pertemuan membahas kesiapan daerah dalam mendukung pengembangan kawasan bioetanol berbasis komoditas pertanian, seperti tebu, ubi kayu atau singkong, dan jagung.

Dalam rapat tersebut, Kementerian Pertanian menekankan pentingnya kesiapan sektor hulu. Pengembangan bioetanol tidak hanya membutuhkan pembangunan industri pengolahan, tetapi juga dukungan berupa ketersediaan lahan, bahan baku, produktivitas pertanian, hingga keterhubungan antara petani dan industri.

Sebanyak 44 pemerintah daerah dikonsolidasikan untuk memetakan potensi lahan, komoditas, serta kesiapan wilayah dalam mendukung kawasan produksi bahan baku bioetanol.

Pemerintah juga menyiapkan pengembangan lahan hingga 2 juta hektare sebagai bagian dari penguatan fondasi industri bioetanol nasional. Untuk komoditas tebu, kebutuhan lahannya diproyeksikan sekitar 700 ribu hingga 1 juta hektare.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari persiapan penerapan bahan bakar nabati, termasuk rencana peningkatan campuran bioetanol pada bensin hingga E20.

Wakil Bupati Boalemo Lahmuddin Hambali mengatakan, keikutsertaan Boalemo dalam agenda tersebut menjadi kesempatan bagi pemerintah daerah untuk memahami kebijakan pemerintah pusat sekaligus mengidentifikasi peluang yang sesuai dengan potensi daerah.

Menurutnya, pengembangan bioetanol dapat menjadi peluang untuk meningkatkan nilai tambah sektor pertanian dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, terutama petani.

“Program ini tidak hanya berbicara tentang energi, tetapi juga bagaimana sektor pertanian bisa memiliki nilai tambah dan memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat, khususnya para petani,” ujar Lahmuddin.

Ia menyebut potensi pertanian Boalemo perlu dipetakan secara menyeluruh sebelum diarahkan untuk mendukung program bioetanol. Hal itu mencakup komoditas yang tersedia, kesesuaian lahan, produktivitas petani, hingga kebutuhan pangan daerah.

Lahmuddin menegaskan, pemerintah daerah akan mengkaji setiap peluang secara cermat agar program yang nantinya dikembangkan dapat memberikan dampak nyata bagi Boalemo.

“Kita akan melihat potensi yang kita miliki di Boalemo, baik dari sisi komoditas maupun ketersediaan lahannya. Setiap peluang harus dikaji dengan baik agar program yang dikembangkan benar-benar memberikan dampak bagi daerah dan masyarakat,” katanya.

Pemkab Boalemo selanjutnya akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan pihak terkait untuk memetakan potensi daerah yang dapat diselaraskan dengan program pengembangan bioetanol nasional.

Lahmuddin berharap Boalemo tidak hanya menjadi penerima program, tetapi mampu mempersiapkan potensi daerah agar dapat berpartisipasi apabila memenuhi persyaratan yang ditetapkan pemerintah pusat.

“Kita ingin memastikan potensi yang ada di daerah bisa dipetakan dan dipersiapkan. Jika memenuhi persyaratan, Boalemo dapat mengambil bagian dalam program nasional ini,” tegasnya.

Pemerintah Kabupaten Boalemo akan melanjutkan pemetaan komoditas, lahan, dan kesiapan sektor pertanian sebagai bagian dari tindak lanjut program tersebut.

Sinergi pemerintah pusat dan daerah diharapkan dapat memperkuat keterhubungan antara pertanian, industri pengolahan, dan sektor energi, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani dan masyarakat di daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....