Tim IMTI Nilai Potensi Wisata Ramah Muslim Gorontalo

  • 05 Sep 2026 20:59 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo - Provinsi Gorontalo dinilai memiliki potensi kuat untuk dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata ramah muslim di Indonesia. Potensi tersebut tercermin dari kekayaan tradisi religi, kearifan lokal, serta budaya masyarakat yang berpijak pada falsafah “Adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan Kitabullah”.

Hal ini menjadi salah satu aspek yang dinilai Tim Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI saat melakukan penilaian di Provinsi Gorontalo. Tim tersebut diterima Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie dalam jamuan makan malam di Aula Rumah Jabatan Wagub, Jumat, 4 September 2026.

Wagub Idah menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas kedatangan Tim Penilai IMTI Kemenparekraf RI. Menurutnya, Gorontalo memiliki peluang besar untuk meningkatkan posisi dalam pemeringkatan Indonesia Muslim Travel Index. Terlebih sebelumnya, Gorontalo berada di peringkat ke-13 dan kemudian meningkat ke posisi ke-11.

“Peringkat Provinsi Gorontalo dalam Muslim Travel Index menunjukkan kemajuan yang baik. Dulu peringkat 13, terakhir sudah peringkat 11. Kami berharap pada tahun ini bisa masuk 10 besar,” ujar Idah.

Menurutnya, harapan tersebut bukan tanpa alasan. Gorontalo merupakan salah satu daerah di Indonesia dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Banyak budaya yang kemudian berubah menjadi destinasi wisata muslim di Gorontalo. Idah mencontohkan tradisi Walima yang dilaksanakan masyarakat Gorontalo dalam momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Pada momen Maulid Nabi Muhammad SAW sekarang ini, tim penilai bisa mengunjungi desa religi yang ada di Bongo, Kabupaten Gorontalo. Di sana akan ditemukan tradisi yang sampai saat ini masih dilaksanakan dan dipertahankan masyarakat Provinsi Gorontalo,” jelasnya.

Potensi lainnya, lanjut Idah, adalah tradisi Lebaran Ketupat yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Gorontalo. Menurutnya, momentum tersebut memiliki daya tarik tersendiri karena masyarakat tidak hanya berkumpul dan melaksanakan berbagai kegiatan, tetapi juga membuka rumah bagi siapa saja untuk menikmati hidangan khas Gorontalo.

Ia juga menyebut Mopotilolo sebagai salah satu kekayaan adat dan budaya yang dapat menjadi pertimbangan dalam penilaian IMTI. Mopotilolo merupakan upacara adat Gorontalo yang dilaksanakan untuk menyambut tamu, pejabat negara, maupun tamu kehormatan yang baru pertama kali datang ke daerah. Salah satu keunikan tradisi tersebut adalah pemberian sedekah kepada tamu yang disambut. Sedekah tersebut wajib diterima sebagai simbol doa dan keselamatan bagi tamu.

“Beberapa bulan lalu ketika kami menggelar upacara adat Mopotilolo untuk menyambut Presiden RI Bapak Prabowo Subianto. Saya sendiri menyampaikan kepada Pak Presiden untuk menerima sedekah itu, dengan artian secara adat sebagai simbol keselamatan bagi Pak Presiden,” tuturnya.

Idah menegaskan, berbagai tradisi tersebut menunjukkan bahwa potensi wisata ramah muslim di Gorontalo tidak hanya bertumpu pada destinasi wisata, tetapi juga pada kehidupan masyarakat, adat, budaya, serta tradisi religi yang masih hidup dan dilestarikan hingga saat ini.

“Bicara soal muslim atau religinya Gorontalo, masih sangat banyak. Maka dari itu, kami sangat bangga dan menyambut baik kehadiran tim penilai dari Kemenparekraf RI. Semoga yang kami sampaikan dalam pertemuan makan malam ini bisa menjadi masukan yang sangat positif untuk tim penilai,” pungkasnya. (mcgorontaloprov/echin)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....