Tikus Terdeteksi di Umur 13 HST, POPT dan Petani PM AAS Bergerak Cepat

  • 02 Sep 2026 13:52 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO>ID, Gorontalo — Upaya menjaga pertanaman padi dari serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) terus dilakukan melalui pengamatan rutin dan deteksi dini di lapangan. Langkah tersebut kembali dilakukan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Telaga di lokasi pertanaman PM AAS, Desa Luhu, Rabu, 2 September 2026.

Pengamatan yang dilakukan pada pertanaman padi sawah berumur 13 Hari Setelah Tanam (HST) tersebut menemukan adanya indikasi serangan serta populasi tikus di sejumlah titik pertanaman.

Temuan itu langsung ditindaklanjuti petugas POPT dengan memberikan rekomendasi pengendalian kepada petani. Rekomendasi tersebut menjadi dasar bagi petani untuk segera mengambil langkah pengendalian sebelum populasi tikus berkembang dan menimbulkan kerusakan yang lebih luas.

Merespons hasil pengamatan tersebut, petani di lokasi pertanaman PM AAS bergerak cepat melakukan pengendalian pada titik-titik yang terindikasi menjadi lokasi aktivitas tikus. Pengendalian dilakukan dengan menggunakan rodentisida berbahan aktif belerang yang oleh petani lebih dikenal sebagai “bom tikus”.

Pengendalian diarahkan pada lubang-lubang aktif yang ditemukan di sekitar areal pertanaman. Langkah cepat ini dilakukan untuk menekan populasi tikus sejak dini, terutama pada fase awal pertumbuhan tanaman padi yang masih rentan terhadap gangguan OPT.

Kepala UPTD Balai Perlindungan Tanaman (Balintan) DKPTPH Provinsi Gorontalo, Abd Wahid Lahay, menegaskan bahwa pengamatan lapangan dan respons cepat menjadi bagian penting dalam strategi perlindungan tanaman.

"Deteksi dini merupakan kunci dalam pengendalian OPT. Ketika keberadaan tikus dapat diketahui lebih awal, maka pengendalian bisa segera dilakukan sehingga potensi kerusakan tanaman dapat ditekan. Karena itu, sinergi POPT dan petani sangat penting untuk memastikan setiap indikasi serangan dapat segera direspons,” ujar Abd Wahid Lahay.

Menurutnya, pengendalian OPT tidak hanya bergantung pada tindakan setelah terjadi serangan, tetapi juga membutuhkan pengamatan secara rutin dan kewaspadaan petani terhadap setiap tanda keberadaan organisme pengganggu tanaman.

Respons cepat petani di lokasi pertanaman PM AAS menjadi contoh penting bahwa hasil pengamatan POPT akan lebih efektif apabila segera ditindaklanjuti di lapangan. Dengan pengendalian yang dilakukan sejak populasi tikus masih terdeteksi pada titik-titik tertentu, peluang berkembangnya serangan secara lebih luas dapat diminimalisir.

Ke depan, pengamatan secara berkala akan terus dilakukan sebagai bagian dari upaya perlindungan tanaman padi. Kolaborasi antara petugas POPT dan petani diharapkan mampu membangun sistem pengendalian OPT yang lebih cepat, tepat dan berkelanjutan.

Deteksi dini, rekomendasi tepat, dan respons cepat menjadi tiga langkah penting dalam menjaga pertanaman padi tetap sehat sekaligus mendukung keberhasilan produksi pangan di Provinsi Gorontalo. (mcgorontaloprov/oman)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....