Petani Lokal Disiapkan Jadi Penopang Pasokan Sayur dan Buah untuk Program MBG

  • 29 Agt 2026 09:52 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka peluang bagi petani lokal untuk menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan pangan.

Hal inilah yang terus didorong oleh Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DKPTPH) Provinsi Gorontalo melalui penguatan produksi hortikultura dan pendampingan petani yang telah menjalin kerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

"DKPTPH Provinsi Gorontalo sudah berkoordinasi dan mendampingi Kelompok Tani Maju Bersama di Kelurahan Hutuo, Kecamatan Limboto, dan SPPG Hutuo. Koordinasi serupa juga dilakukan bersama Kelompok Tani Bawastra, Kecamatan Mootilango, dengan SPPG Paris Mootilango," kata Bakri Hasan Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura DKPTPH Provinsi Gorontalo, Jumat, 28 Agustus 2026.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan kebutuhan sayuran dan buah-buahan untuk SPPG dapat dipenuhi dari produksi petani lokal secara berkelanjutan.

Para petani yang selama ini bergerak di bidang hortikultura didorong untuk menjaga kontinuitas produksi, baik dari sisi jumlah maupun kualitas, sehingga pasokan bahan pangan segar untuk kebutuhan MBG dapat tersedia sesuai kebutuhan.

Bakri Hasan mengatakan petani lokal memiliki peran strategis dalam mendukung keberhasilan MBG.

“Petani kita jangan hanya menjadi produsen, tetapi harus menjadi bagian dari rantai pasok MBG. Karena itu, kami melakukan pendampingan agar produksi mereka bisa menyesuaikan kebutuhan SPPG, baik dari jenis komoditas, jumlah maupun kontinuitas pasokannya,” ujar Bakri.

Menurut Bakri, pola kerja sama antara petani dan SPPG menjadi salah satu langkah untuk menciptakan pasar yang lebih pasti bagi produk hortikultura lokal. Dengan adanya kepastian kebutuhan, petani dapat merencanakan pola tanam dan produksi dengan lebih baik.

“Kalau kebutuhan SPPG sudah bisa dipetakan, petani bisa mengatur waktu tanam dan jenis komoditas yang akan diproduksi. Ini yang ingin kita bangun, sehingga sayur dan buah yang dihasilkan petani memiliki pasar dan dapat langsung dimanfaatkan untuk kebutuhan MBG,” jelasnya.

Untuk memperkuat kemampuan produksi petani, DKPTPH juga menyiapkan bufferstock benih hortikultura berupa 1.793 sachet benih sayuran dan buah bermutu serta bersertifikat.

Benih tersebut antara lain cabai rawit merah, sawi, kangkung darat, kacang panjang, tomat, ketimun, serta semangka. Benih yang disediakan merupakan benih yang telah bersertifikat dan terdaftar pada Kementerian Pertanian RI serta belum memasuki masa kedaluwarsa.

Dukungan benih tersebut diharapkan dapat membantu petani menjaga kesinambungan produksi sekaligus meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.

Sasaran pengembangan tidak hanya kelompok tani, tetapi juga petani, BPP, pesantren, PKK, kelompok wanita tani serta masyarakat yang berada di lokasi maupun desa penyangga SPPG. Pelaku UMKM lokal yang terlibat dalam rantai pasok pangan juga menjadi bagian dari ekosistem yang dikembangkan.

Bakri menegaskan, keberhasilan program MBG di daerah perlu dibangun bersama dengan melibatkan potensi pertanian lokal.

“Kita ingin MBG memberikan manfaat yang lebih luas. Bukan hanya anak-anak mendapatkan makanan bergizi, tetapi petani di daerah juga mendapatkan peluang pasar. Kalau produksi dan kebutuhan bisa kita hubungkan dengan baik, maka program ini sekaligus dapat menggerakkan ekonomi masyarakat,” katanya.

Melalui penguatan produksi hortikultura dan sinergi antara petani dengan SPPG, DKPTPH Provinsi Gorontalo berharap kebutuhan sayuran dan buah untuk program MBG secara bertahap dapat dipenuhi dari hasil produksi petani lokal.

Dengan demikian, program MBG tidak hanya menjadi program pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi peluang untuk memperkuat sektor pertanian, menciptakan pasar bagi petani, dan membangun rantai pasok pangan lokal yang berkelanjutan di Provinsi Gorontalo. (mcgorontaloprov/oman)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....