Gorontalo

Penguatan Surveilans Jadi Strategi Gorontalo Tekan Angka Kematian Ibu

  • 22 Agt 2026 10:24 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Penguatan surveilans merupakan bagian penting dalam membangun pelayanan kesehatan ibu yang responsif. Surveilans harus terintegrasi dengan pelayanan kesehatan keluarga berdasarkan siklus hidup, mulai dari kesehatan remaja, kesehatan reproduksi, kesehatan ibu, bayi dan balita hingga lanjut usia.

“Surveilans kesehatan ibu jangan berhenti pada kegiatan pencatatan dan pelaporan. Data harus dikumpulkan, diolah, dianalisis dan diinterpretasikan sehingga menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk menentukan respons dan tindakan nyata dalam mencegah kesakitan dan kematian ibu,” kata Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa saat menjadi narasumber pada Pertemuan Pendampingan Surveilans dan Evaluasi Program Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA) dalam Pelayanan Kesehatan dan Gizi Keluarga, Jumat, 21 Agustus 2026.

Kegiatan ini diikuti 75 peserta dari tiga kabupaten, yakni Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, Pohuwato, dan Bone Bolango. Peserta terdiri atas pengelola program kesehatan ibu di Dinas Kesehatan, penanggung jawab aplikasi Maternal Perinatal Death Notification (MPDN), serta seluruh bidan koordinator Puskesmas.

Dalam paparannya bertajuk “Penguatan Surveilans dan Respons Kesehatan Ibu sebagai Strategi Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu Tahun 2026”, Anang menjelaskan, kualitas data menjadi salah satu fondasi utama dalam pelaksanaan program.

Karena itu, proses desk review, verifikasi, monitoring dan evaluasi perlu dilakukan secara konsisten untuk memastikan data yang digunakan benar-benar menggambarkan kondisi pelayanan di lapangan. Data tersebut kemudian dapat menjadi dasar penyusunan kegiatan, intervensi dan penganggaran berbasis data.

Anang juga mendorong perubahan paradigma dalam pelaksanaan surveilans, dari yang selama ini lebih berorientasi pada pelaporan menjadi sebuah sistem peringatan dini dan pengambilan keputusan. Dalam pendekatan tersebut, data harus diolah menjadi informasi, dianalisis dan segera diikuti dengan respons yang tepat.

“Kita perlu mentransformasikan surveilans dari sekadar sistem pelaporan menjadi sistem peringatan dini dan pengambilan keputusan. Setiap data yang ditemukan harus mampu menjawab apa masalahnya, di mana risikonya, dan respons apa yang harus segera dilakukan untuk mencegah terjadinya kematian ibu,” tegasnya.

Lebih lanjut, Anang menekankan pentingnya menjalankan siklus surveilans secara utuh, mulai dari notifikasi, deteksi, verifikasi, analisis, respons, monitoring hingga evaluasi. Dengan siklus tersebut, setiap informasi mengenai kondisi kesehatan ibu dapat ditindaklanjuti secara cepat dan terukur.

Melalui kegiatan pendampingan ini, Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo mendorong penguatan kapasitas pengelola program kesehatan ibu, penanggung jawab MPDN dan bidan koordinator Puskesmas agar mampu meningkatkan kualitas surveilans serta memanfaatkan data secara optimal dalam perencanaan dan pelaksanaan intervensi.

Penguatan surveilans pada akhirnya bukan sekadar memperbaiki kualitas data, tetapi memastikan setiap informasi kesehatan ibu berujung pada keputusan dan tindakan yang lebih cepat, tepat, dan mampu menyelamatkan kehidupan. (mcgorontaloprov/ilb/md)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....