Kadis PPPA-PMD Gorontalo: Penting Mendengar Suara Anak dalam Pembangunan
- 21 Agt 2026 07:22 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo - Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PPPA-PMD) Provinsi Gorontalo, Yana Yanti Suleman menekankan pentingnya memastikan suara dan pandangan anak benar-benar didengar serta menjadi bagian dari proses pembangunan daerah.
Menurut Yana, anak bukan hanya penerima manfaat pembangunan, tetapi juga merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, aspirasi, kebutuhan dan pandangannya terhadap berbagai persoalan yang menyangkut kehidupan mereka.
“Suara anak harus didengar, bukan sekadar didengarkan. Artinya, aspirasi yang disampaikan anak harus dipertimbangkan dan ditindaklanjuti dalam kebijakan maupun program pembangunan yang berkaitan dengan pemenuhan hak dan perlindungan anak,” kata Yana, Kamis, 20 Agustus /2026.
Pernyataan tersebut juga disampaikan Yana dalam Sosialisasi Peran Pelopor dan Pelapor (2P) Forum Anak yang dilaksanakan secara daring sehari sebelumnya.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat pemahaman pemerintah daerah, pendamping, serta Forum Anak mengenai pentingnya partisipasi anak dalam pembangunan.
Yana menegaskan, partisipasi anak tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial atau sekadar memberikan ruang kepada anak untuk berbicara.
Partisipasi yang bermakna harus memberikan kesempatan kepada anak untuk terlibat sejak proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan hingga evaluasi pembangunan, sesuai dengan usia, tingkat kematangan dan kapasitas anak.
Hal tersebut sejalan dengan Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 3 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Partisipasi Anak melalui Forum Anak, yang menegaskan bahwa negara menjamin hak anak untuk menyampaikan pandangan serta mewujudkan partisipasi anak dalam berbagai tahapan pembangunan.
“Kalau kita ingin membangun daerah yang benar-benar ramah anak, maka kita harus bertanya kepada anak: apa yang mereka rasakan, apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka takutkan dan apa yang mereka harapkan. Jangan sampai orang dewasa membuat kebijakan tentang anak tetapi tidak pernah bertanya kepada anak,” ujar Yana.
Ia juga menilai keberadaan Forum Anak memiliki posisi strategis sebagai ruang bagi anak untuk menyampaikan aspirasi sekaligus menjadi Pelopor dan Pelapor (2P).
Sebagai pelopor, anak diharapkan mampu menjadi contoh dan penggerak perubahan positif di lingkungan sekitarnya. Sementara sebagai pelapor, anak didorong untuk berani menyampaikan apabila menemukan persoalan yang mengancam pemenuhan hak dan perlindungan anak, dengan tetap memperhatikan keamanan dan perlindungan anak.
Karena itu, Yana meminta agar seluruh pihak, baik pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat, dunia usaha, media maupun lembaga lainnya, memberikan ruang partisipasi yang aman, inklusif dan ramah anak.
“Kita tidak boleh meminta anak berani bicara, tetapi ketika mereka bicara justru tidak dipercaya atau bahkan disalahkan. Tugas kita adalah menciptakan ruang yang aman agar anak berani menyampaikan pendapat dan merasa bahwa suara mereka memiliki arti,” jelasnya.
Menurutnya, suara anak juga harus menjadi salah satu sumber informasi penting bagi pemerintah dalam melihat persoalan di lapangan. Aspirasi anak dapat menjadi masukan dalam penyusunan program terkait pendidikan, kesehatan, lingkungan, perlindungan dari kekerasan dan perundungan, penggunaan teknologi digital, ruang bermain, hingga persoalan sosial lainnya.
Yana menambahkan, Suara Anak Indonesia tidak boleh hanya berhenti sebagai rekomendasi tahunan. Aspirasi tersebut perlu diterjemahkan menjadi program, kegiatan dan kebijakan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh anak.
“Dari suara anak menjadi kebijakan, dari kebijakan menjadi aksi, dan dari aksi kita pastikan benar-benar memberikan perubahan bagi kehidupan anak. Inilah makna partisipasi anak yang sesungguhnya,” katanya.
Ia berharap Forum Anak di Provinsi Gorontalo semakin kuat dan mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun lingkungan yang aman, inklusif dan ramah anak.
“Anak-anak Gorontalo bukan hanya masa depan Gorontalo. Mereka adalah bagian dari Gorontalo hari ini. Karena itu, suara mereka harus hadir dalam setiap proses pembangunan yang menentukan masa depan mereka," tutup Yana. (mcgorontaloprov/fahmi)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....