Puluhan Siswa SMAN 1 Dengilo Ikuti Asesmen Psikologi

  • 08 Agt 2026 18:49 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo - Sebanyak enam orang siswa terindikasi mengalami stres dikarenakan permasalahan yang dialaminya di lingkungan keluarga yang kurang harmonis.

Mereka acap menyaksikan perselisihan dan pertengkaran terjadi pada kedua orangtuanya. Perselisihan ini terjadi akibat faktor ekonomi ataupun dugaan perselingkuhan yang dilakukan salah satu orangtua atupun masalah internal keluarga lainnya.

Sehingga membuat para siswa tersebut merasa tidak tenang, merasakan stres di lingkungan tempat tinggalnya.

Ini merupakan hasil skrining yang terhadap 50 siswa SMAN 1 Dengilo Pohuwato yang dilaksanakan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PPPA-PMD) Provinsi Gorontalo.

“Selain enam siswa, juga terdapat seorang siswa yang diberikan konseling menceritakan keadaan keluarganya yang sangat kurang mampu, sehingga dia pernah mengalami bullying pada masa sekolah SD dan SMP,” kata Kepala PPPA-PMD Provinsi Gorontalo Yana Yanti Suleman, Jumat (7/8/2026).

Akibat bullying ini berimbas pada sikap dan pola perilakunya yang menarik diri dari lingkungan pergaulan, ia lebih suka menyendiri akibat trust issue kepada orang lain. Siswa tersebut berpikir jika memiliki teman akan membuatnya mendapatkan bully dan tersakiti lagi.

Yanti juga mengungkap empat siswa lain yang diberikan penanganan, terindikasi memiliki permasalahan ketidakharmonisan hubungan dengan orangtua, baik salah satu atau kedua orang tuanya sehingga menciptakan rasa sedih yang mendalam. Dengan keadaan seperti ini membuat mereka beranggapan tidak lagi ada sandaran hidupnya, tidak adanya kasih sayang dan tidak ada yang perduli dengan hidupnya.

“Bayang-bayang pikiran seperti ini yang akhirnya menciptakan bentuk gangguan psikis bagi para siswa ini, di antaraya mengalami gangguan seperti stres, takut atau kecemasan,” ujar Yana.

Dari skrining ini juga diketahui satu siswa memiliki orang tua yang sakit parah, bahkan ayahnya sudah lebih dari satu tahun bolak-balik ke Sulawesi Utara untuk berobat, sudah lebih dari 5 bulan ia belum bertemu dengan ayahnya. Dikarenakan

Siswa ini memiliki ketergatungan yang tinggi dengan perhatian dan kasih dari ayahnya, namun dengan keadaan saat ini akhirnya berimbas pada pada dirinya yang menjadi rapuh, sering merasa kosong, dan mengalami kecemasan dikarenakan overthinking dengan keadaan saat ini.

“Kondisi ini berimbas pada prestasi belajar siswa,” ucap Yana.

Para siswa yang mengalami beragam permasalahan ini drberikan konseling dan penguatan dalam bentuk advice and giving yang dapat meminimalisir, mengobati, atau memberikan solusi (jalan keluar) dari permasahan dan gangguan.

Berdasarkan hasil konseling yang telah dilaksanakan, psikolog pemeriksa merekomendasikan untuk guru BK melakukan pengawasan pada 12 siswa, dan dapat melakukan pendampingan lanjutan di lingkungan sekolah untuk melihat perkembangan lebih lanjut dari kesembilan siswa. (mcgorontaloprov/yasir)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....