Unik, Dosen IAIN Manado Kunjungi Perpustakaan Bersama Informan Polahi
- 06 Agt 2026 15:56 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo - Perpustakaan Umum H.B. Jassin, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo, menerima kunjungan dosen Fakultas Tarbiyah Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado, Rabu, 5 Agustus 2026.
Kunjungan tersebut menjadi menarik karena dosen datang bersama seorang informan yang merupakan bagian dari komunitas orang Polahi untuk mendukung penelitian mengenai bahasa dan budaya.
Dosen tersebut adalah Zainuddin Soga, yang melakukan penelitian terhadap bahasa yang digunakan oleh masyarakat Polahi. Dalam kunjungannya, Zainuddin membawa Haliya Palowa, yang disebut merupakan anak dari Bakiki Mani dan Nakiki serta generasi keempat dari garis keturunan keluarga Polahi.
Kunjungan tersebut diterima dengan baik oleh Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo, Ridwan Hemeto. Pertemuan berlangsung sebagai bagian dari upaya pemanfaatan perpustakaan sebagai ruang pembelajaran, penelitian, sekaligus penggalian informasi mengenai bahasa dan budaya lokal Gorontalo.
Dalam proses penelitian, Zainuddin memperoleh sejumlah informasi menarik mengenai kehidupan, kebiasaan, bahasa, serta tradisi masyarakat Polahi yang disampaikan oleh Haliya berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya.
Haliya disebut berasal dari kawasan Pegunungan Boliyohuto, tepatnya dari perkampungan Balangga. Di kawasan tersebut terdapat dua perkampungan yang dikenal sebagai Balangga dan Mohulo. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dalam penelitian, keluarga Haliya disebut masuk ke kawasan pegunungan karena peristiwa Perang Panipi. Namun, informasi mengenai latar belakang tersebut masih memerlukan penelusuran dan kajian lebih lanjut.
Salah satu hal yang menarik perhatian dalam penelitian adalah pola transaksi dan kepemilikan barang. Menurut keterangan Haliya, apabila mereka hendak membeli sesuatu, termasuk ikan, barang yang dibeli harus sesuai dengan kebutuhan atau kesepakatan awal. Demikian pula ketika memberikan sesuatu kepada orang lain, barang tersebut harus diterima oleh orang yang memang dituju. Dalam transaksi hasil penjualan, harga yang telah ditetapkan juga menjadi patokan yang harus diterima sesuai kesepakatan.
Penelitian tersebut juga mengungkap sejumlah kebiasaan masyarakat Polahi yang berbeda dengan kehidupan masyarakat pada umumnya. Salah satunya adalah kebiasaan membawa benda tajam dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Sementara ketika kembali ke kawasan pegunungan, menurut keterangan Haliya, mereka masih menggunakan daun tombito sebagai salah satu pakaian utama. Saat berada di kawasan pemukiman di luar gunung, mereka telah menggunakan pakaian sebagaimana masyarakat pada umumnya.
Dalam aspek kehidupan sosial, Haliya menyampaikan bahwa komunitas Polahi yang menjadi bagian dari latar belakang keluarganya tidak memiliki struktur ketua suku sebagaimana organisasi masyarakat pada umumnya. Ia juga menceritakan adanya aturan tertentu ketika terjadi kematian, termasuk meninggalkan rumah yang sebelumnya ditempati oleh orang yang meninggal. Berbagai informasi tersebut menjadi bagian yang menarik untuk diteliti lebih lanjut dari perspektif bahasa, antropologi, dan budaya.
Dari sisi kepercayaan, Haliya saat ini telah memeluk agama Islam. Ia mengaku telah menjalankan sholat, meskipun pemahamannya terhadap tata cara ibadah tersebut masih terbatas pada mengikuti gerakan sholat.
Hal menarik lainnya adalah bahasa yang digunakan. Dalam komunikasi sehari-hari, Haliya masih menggunakan bahasa Gorontalo yang menurut penuturan peneliti relatif belum banyak bercampur dengan bentuk bahasa Gorontalo modern. Kondisi ini menjadi salah satu alasan penting dilakukannya penelitian karena bahasa tersebut berpotensi menyimpan kosakata, struktur, dan bentuk tuturan yang dapat menjadi bagian dari dokumentasi bahasa lokal.
Selain bahasa, penelitian juga mencatat sejumlah kebiasaan terkait makanan. Menurut keterangan Haliya, dari berbagai jenis hewan yang dikonsumsi, masyarakat dalam lingkungan keluarganya tidak mengonsumsi monyet karena hewan tersebut dianggap sebagai teman dan memiliki kemiripan dengan manusia.
Informasi mengenai perkawinan dalam komunitas tersebut juga menjadi bagian dari penelitian. Haliya menceritakan adanya praktik perkawinan antarkerabat dalam lingkungan komunitas pada masa lalu. Sementara dalam kehidupan Haliya saat ini, ia telah tinggal bersama pasangan di wilayah Telaga, tepatnya di Desa Tenggela, Kecamatan Tilango.
Kunjungan dosen bersama informan Suku Polahi tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca dan meminjam buku, tetapi juga dapat menjadi ruang bertemunya pengetahuan, penelitian, dokumentasi, serta kekayaan budaya lokal.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo, Ridwan Hemeto, menyambut baik kegiatan penelitian tersebut. Menurutnya, perpustakaan memiliki peran penting dalam mendukung akademisi dan peneliti untuk menggali berbagai sumber pengetahuan, termasuk mengenai bahasa, sejarah, dan budaya lokal yang berkembang di Gorontalo.
Dokumentasi bahasa dan budaya lokal juga memiliki keterkaitan erat dengan tugas perpustakaan dalam menyediakan sumber informasi bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Berbagai pengetahuan yang masih tersimpan dalam ingatan dan pengalaman masyarakat perlu didokumentasikan secara baik agar tidak hilang seiring perubahan zaman.
Kegiatan tersebut sejalan dengan arah pembangunan Pemerintah Provinsi Gorontalo di bawah kepemimpinan Gubernur Gusnar Ismail dan Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie, khususnya dalam penguatan kualitas sumber daya manusia, peningkatan literasi, serta pelestarian dan pengembangan budaya daerah.
Penelitian mengenai bahasa dan kehidupan masyarakat Polahi juga menjadi momentum untuk mendorong kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, perpustakaan, peneliti, dan masyarakat dalam mendokumentasikan kekayaan budaya Gorontalo.
Melalui perpustakaan, berbagai hasil penelitian mengenai bahasa dan budaya lokal diharapkan dapat dihimpun menjadi sumber pengetahuan yang dapat diakses oleh masyarakat. Dengan demikian, kekayaan bahasa dan budaya Gorontalo tidak hanya menjadi pengetahuan yang diwariskan secara lisan, tetapi juga dapat terdokumentasi dan dipelajari oleh generasi mendatang. (mcgorontaloprov/ppid)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....