Ismet Mile Kerahkan OPD Hadapi Lonjakan Penyakit
- 15 Jul 2026 19:41 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID Gorontalo, Kabupaten Bone Bolango tengah menghadapi ancaman serius di sektor kesehatan. Lonjakan berbagai kasus penyakit menular dalam beberapa bulan terakhir membuat Pemerintah Kabupaten Bone Bolango meningkatkan status kewaspadaan dan mengerahkan seluruh perangkat daerah untuk terlibat dalam upaya pencegahan.
Pesan itu disampaikan Bupati Bone Bolango Ismet Mile didampingi Wakil Bupati Risman Tolingguhu dan Ketua TP PKK Bone Bolango Ruwaida Ismet Mile saat membuka kegiatan Koordinasi, Advokasi, dan Sosialisasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tingkat Kabupaten Bone Bolango Tahun 2026 di Hotel Amaris, Kota Gorontalo, Rabu (15/7/2026). D
Bupati Ismet Mile meminta seluruh aparatur pemerintah hingga tingkat paling bawah untuk mengoptimalkan peran masing-masing dalam mengendalikan penyebaran penyakit.
“Ini harus menjadi perhatian bersama. Jangan sampai kondisi ini berkembang menjadi wabah yang membahayakan daerah kita. Saya perintahkan seluruh aparat memaksimalkan tugas dan fungsi masing-masing karena persoalan kesehatan masyarakat bukan hanya tanggung jawab Dinas Kesehatan,”tegas Ismet.
Ismet menambahkan, langkah pencegahan harus diperkuat melalui koordinasi, advokasi, dan sosialisasi yang berkelanjutan. Bahkan, pemerintah daerah berkomitmen memperbesar alokasi anggaran untuk mendukung program pengendalian dan pencegahan penyakit.
“Kita akan memperkuat dukungan anggaran agar upaya pengendalian penyakit bisa berjalan lebih maksimal dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat,”ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bone Bolango, dr. Meyrin Kadir, memaparkan data yang menunjukkan situasi kesehatan masyarakat yang cukup memprihatinkan. Berdasarkan laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), sejumlah penyakit mengalami peningkatan signifikan.
Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tercatat mencapai 4.882 kasus, diare akut 1.244 kasus, suspek demam tifoid 298 kasus, pneumonia 303 kasus dengan dua kematian, Demam Berdarah Dengue (DBD) 47 kasus dengan dua kematian, suspek campak 22 kasus dengan satu kematian, serta gigitan hewan penular rabies sebanyak 52 kasus yang menyebabkan satu korban meninggal dunia.
Tak hanya itu, Bone Bolango juga menghadapi ancaman kembalinya malaria. Hasil penyelidikan epidemiologi menemukan lonjakan hingga 116 kasus malaria, padahal sebelumnya daerah tersebut mencatatkan status zero report.
Menurut dr. Meyrin, peningkatan kasus malaria dipicu oleh tingginya mobilitas pekerja tambang dari daerah endemis malaria yang masuk ke wilayah Bone Bolango. Kondisi ini dinilai dapat mengancam status eliminasi malaria yang selama ini telah berhasil dipertahankan.
“Jika tidak segera ditangani secara serius, status eliminasi malaria Bone Bolango berpotensi dicabut,”ungkapnya.
Dinas Kesehatan juga mengidentifikasi sejumlah faktor yang menjadi pemicu meningkatnya kasus penyakit di masyarakat. Mulai dari krisis sanitasi, rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menurunnya budaya kerja bakti membersihkan lingkungan, hingga kebiasaan membuang sampah sembarangan di sungai, selokan, lahan kosong, dan area persawahan.
Selain itu, tingginya kasus ISPA, pneumonia, dan tuberkulosis turut dipengaruhi kebiasaan merokok di dalam rumah serta buruknya ventilasi hunian. Masih banyak rumah tangga yang belum memiliki septic tank sesuai standar kesehatan, sementara keterbatasan armada pengangkut sampah membuat penanganan limbah rumah tangga belum optimal, terutama di wilayah pelosok.
Faktor lain yang turut berkontribusi adalah kebiasaan jajan sembarangan di sekolah dan tempat kerja yang memicu kasus diare serta tifoid, rendahnya kepatuhan vaksinasi rabies bagi hewan maupun korban gigitan, limbah peternakan yang tidak dikelola sesuai standar kesehatan, hingga masih adanya penolakan imunisasi di sejumlah kelompok masyarakat.
Melihat kompleksitas persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bone Bolango menilai pengendalian penyakit hanya dapat berhasil melalui kerja sama lintas sektor yang kuat. Keterlibatan seluruh organisasi perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan desa, dunia pendidikan, tokoh masyarakat, hingga masyarakat umum menjadi kunci untuk mencegah lonjakan kasus berkembang menjadi krisis kesehatan yang lebih besar.
“Gerakan preventif harus menjadi gerakan bersama. Persoalan kesehatan masyarakat tidak bisa dibebankan kepada Dinas Kesehatan semata. Semua pihak harus bergerak agar Bone Bolango terhindar dari ancaman wabah,”tutup dr. Meyrin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....