Kontingen Sumsel Menyapa Shery hingga Susuri Jejak Soekarno

  • 22 Jun 2026 06:59 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo - Bone Bolango, InfoPublik - Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII ternyata tidak hanya menghadirkan ruang belajar bagi petani dan nelayan dari seluruh Indonesia.

Di sela-sela padatnya agenda nasional tersebut, sejumlah peserta memilih mengenal Gorontalo dengan cara yang berbeda: menyusuri laut, mendaki benteng tua, hingga menapak jejak sejarah bangsa.

Minggu pagi, sehari setelah pembukaan PENAS XVII, rombongan peserta dari Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, meninggalkan hiruk-pikuk arena kegiatan.

Sebanyak 12 orang dari total 29 anggota kontingen memulai perjalanan wisata yang membawa mereka mengenal sisi lain Gorontalo yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita.

Perjalanan dimulai dari pesisir selatan Gorontalo. Air laut yang tenang di Desa Olele, Kabupaten Bone Bolango, menjadi persinggahan pertama.

Di kawasan yang dikenal dengan wisata hiu paus itu, para peserta menyaksikan langsung kekayaan laut Gorontalo yang selama ini menjadi daya tarik wisata bahari.

Bagi sebagian peserta, pengalaman tersebut menjadi momen yang tidak terlupakan. Laut yang jernih, bentangan karang, serta suasana pesisir yang tenang menghadirkan kesan berbeda dibandingkan daerah asal mereka.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Kota Gorontalo. Di Makam Aulia Male Ta Ilayabe, rombongan menikmati suasana religius yang kental.

Di tempat itu, mereka tidak hanya berziarah, tetapi juga mendengarkan kisah penyebaran Islam di Gorontalo yang telah berlangsung berabad-abad.

Dari lokasi religi, rombongan bergerak menuju Benteng Otanaha di kawasan Dembe. Ratusan anak tangga yang mengarah ke benteng tua peninggalan sejarah itu seolah menjadi pintu menuju masa lalu.

Dari puncak benteng, hamparan Danau Limboto dan Kota Gorontalo terlihat membentang luas.

Ketua rombongan Kabupaten Banyuasin, Saiful Lizan, mengaku kunjungan tersebut membuka pandangannya tentang Gorontalo.

“Kami ingin mengetahui lebih dekat objek-objek wisata yang ada di Gorontalo. Ternyata daerah ini memiliki banyak destinasi menarik, baik wisata alam, sejarah maupun religi,” ujarnya, Minggu, 21 Juni 2026

Perjalanan kemudian membawa rombongan ke Kecamatan Iluta, lokasi pendaratan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, ketika berada di Gorontalo. Tempat tersebut menghadirkan cerita sejarah yang memperkaya pengalaman para peserta di luar agenda utama PENAS.

Destinasi terakhir yang dikunjungi adalah Monumen Patung Habibie di Desa Isimu Raya, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo. Patung yang menjadi simbol penghormatan terhadap Presiden ketiga Republik Indonesia itu menjadi lokasi favorit peserta untuk berfoto dan mengabadikan perjalanan mereka.

Bagi para delegasi, kunjungan tersebut bukan sekadar wisata. Mereka membawa pulang cerita tentang daerah yang menjadi tuan rumah PENAS XVII, tentang masyarakatnya, sejarahnya, hingga keindahan alamnya.

Petugas pendamping sekaligus penanggung jawab pemondokan, Marwan Antuta, mengatakan kunjungan wisata para peserta menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan Gorontalo kepada tamu dari berbagai daerah.

Menurutnya, para delegasi tidak hanya datang untuk mengikuti kegiatan pertanian dan perikanan, tetapi juga berkesempatan mengenal budaya serta potensi daerah yang mereka kunjungi.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial, Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi Gorontalo, Reflin Buata, menjelaskan bahwa setiap kontingen yang ingin mengunjungi destinasi wisata mendapat pendampingan dari petugas pemondokan yang telah ditugaskan panitia.

“Petugas penanggung jawab pemondokan mendampingi para delegasi untuk memastikan perjalanan berlangsung lancar sekaligus memberikan informasi mengenai lokasi wisata yang dikunjungi,” kata Reflin.

Di tengah pelaksanaan PENAS XVII yang dipenuhi diskusi, temu usaha, dan pertukaran pengetahuan, perjalanan para peserta asal Sumatera Selatan itu menghadirkan cerita lain.

Bahwa sebuah pertemuan nasional tidak hanya meninggalkan catatan tentang pertanian dan perikanan, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya pengalaman baru dan promosi pariwisata daerah.

Ketika para delegasi kembali ke daerah asalnya nanti, mereka tidak hanya membawa hasil diskusi dari arena PENAS, melainkan juga cerita tentang hiu paus di Olele, senja di Benteng Otanaha, jejak Soekarno di Iluta, dan keramahan Gorontalo yang mereka temui sepanjang perjalanan. (mcgorontaloprov/ppid)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....