Kisah Made Saritani Sang Pengabdi di Daerah Terpencil

  • 23 Mei 2026 05:49 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo - Nama aslinya Made Kuat. Tapi bagi banyak orang, terutama di lingkungan kesehatan, dia lebih dikenal sebagai Made Saritani.

Bahkan di kontak ponsel Anang Otoluwa, Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, namanya juga begitu: Made Saritani.

"Saya memang sengaja menyematkan nama Saritani di belakang namanya. Sebab menurut saya, tidak banyak orang yang mampu membuat nama sebuah tempat ikut terkenal karena pengabdiannya. Di antara yang sedikit itu, Pak Made salah satunya," kata Anang Otoluwa, Jumat, 22 Mei /2026.

Anang menjadi saksi, sudah beberapa kali menyaksikan sendiri bagaimana Kepala Puskesmas yang bertugas di tempat terpencil itu membawa nama Saritani dikenal secara nasional.

Pertama, saat launching buku Pedoman Kerja Puskemas Integrasi Layanan Primer (ILP) oleh Kementerian Kesehatan, tahun 2024. Waktu itu, Puskesmas Saritani menjadi Terbaik 1 kategori puskesmas sangat terpencil dalam layanan ILP.

Anang hadir mendampingi Made menerima penghargaan yang diserahkan langsung oleh Budi Gunadi Sadikin Menteri Kesehatan. Saat itu Anang merasa betul-betul bangga, ternyata Puskesmas yang jalannya saja masih berlumpur ketika hujan bisa melahirkan prestasi tingkat nasional.

Kedua, saat kegiatan pelatihan kepemimpinan (PIM 2) tingkat nasional yang digelar Bapelkes Cilandak dan Kemenkes. Dari sekian banyak Puskesmas, penyelenggara memilih Puskesmas Saritani sebagai lokasi pembelajaran lapangan.

Anang sempat bertanay secara iseng kepadapanitia, "Kenapa pilih Saritani?”

Jawaban panitia sederhana, karena Puskesmas Saritani dianggap mampu menghadirkan pelayanan kesehatan ke semua warga meskipun berada di wilayah terpencil.

Mereka melihatnya dari berbagai laporan dan capaian di aplikasi pelayanan kesehatan.

“Prestasi Puskesmas Saritani sudah lama dalam pantauan radar kami”, kata Anang menirukan panitia.

Ketiga, hari ini, Anang kembali dibuat bangga oleh Pak Made ini. Made diundang menjadi pembicara pada kegiatan yang dilaksanakan Asosiasi Klinik Sulawesi Tengah, 21-22 Mei di Palu.

"Saya lihat daftar pembicaranya, banyak nama hebat disana. Bahkan Gubernur setempat dijadwalkan membuka acara," ujar Anang.

Anang lalu bertanya-tanya, apa sebenarnya yang membuat Pak Made berbeda? Apakah karena namanya “Kuat”, sehingga mentalnya ikut kuat? Atau karena terlalu lama hidup di daerah terpencil, sehingga dia menjadi kreatif?

Bagi yang belum pernah ke Desa Saritani, mungkin perlu sesekali mencoba perjalanan ke sana. Dari ibu kota kecamatan, jaraknya masih cukup jauh. Jalannya sebagian masih tanah liat. Ada jembatan yang kalau hujan deras, tidak bisa dilewati karena tenggelam di bawah air. Karenanya anda harus waspada jika kehujanan saat di puskesmas, bisa-bisa anda tidak bisa pulang.

Dan yang paling terkenal adalah sebuah tanjakan bernama “Bukit Penyesalan”. Konon, orang yang sudah sampai di bukit itu akan mulai menyesal. Jalan menuju bukit dan penurunannya rusak parah. Mau lanjut rasanya berat, mau kembali juga terasa tanggung. Akhirnya mereka “dipaksa” meneruskan perjalanan sambil menyesali keputusannya pergi ke Saritani.

Tapi cerita tentang sulitnya Saritani tidak pernah berhasil mengalahkan semangat Pak Made. Sudah bertahun-tahun dia mengabdi di sana. Hebatnya, saya belum pernah sekalipun mendengar dia meminta pindah. Jangankan minta pindah, mengeluh kepada saya saja hampir tidak pernah.

Padahal, jika Made mau banyak yang bisa dikeluhkan. Jaringan internet terbatas. Tenaga kesehatan kurang. Akses sulit. Tapi Made memilih mencari jalan keluar dibanding memperpanjang daftar keluhan.

Saat Puskesmas lain sibuk mengeluhkan internet lambat, dia mencari solusi dengan memasang Starlink. Ketika dokter kosong, dia tidak sibuk menyalahkan keadaan. Dengan dana kapitasi yang terbatas, dia berusaha mengontrak dokter sendiri agar pelayanan tetap maksimal.

Kiprah Made di atas mengajari Anang Otoluwa satu hal, ternyata yang membuat sebuah Puskesmas maju bukan semata-mata gedungnya, bukan juga letaknya. Tetapi semangat orang yang memimpinnya.

Anang mengungkapkan tekadang manusia terlalu cepat menyerah pada keadaan. Baru jalan yang sedikit rusak sudah merasa paling susah. Baru sinyal hilang beberapa jam sudah merasa tidak bisa bekerja. Baru tenaga kurang sedikit sudah merasa pelayanan mustahil dijalankan.

"Padahal di luar sana, ada orang-orang seperti Pak Made yang bekerja dalam keterbatasan tanpa kehilangan semangat,: ucap Anang.

Anang berfikir mungkin justru keterbatasan itu yang membuat Made bertambah semangat?

Made pernah cerita kepada Anang, sejak kecil hidupnya memang penuh perjuangan. Saat tamat SMP, untuk membantu ekonomi keluarga, Made melamar menjadi sopir kepada dr. Ilahude (Kepala Dinas Kesehatan saat itu). Tapi karena umurnya belum cukup 17 tahun, dia tidak diterima sebagai sopir.

Tapi penolakan itu mengantarkan dia bersentuhan dengan dunia kesehatan. Tidak jadi sopir, dia malah disekolahkan di SPK oleh dr. Ilahude. Dia pun tinggal bersama dr. Ilahude.

Sayang baru 2 tahun, dr. Ilahude harus pindah ke Surabaya. Sekali lagi, Made beruntung, ada Ida Oli’i yang menampungnya, hingga dia bisa menyelesaikan SPK.

Karena merasa hidupnya banyak terbantu, Made berusaha mengabdikan dirinya sekuat tenaga, agar kemudahan yang dia terima itu, terbalaskan dengan kerajinannya.

“Pendeknya apa saja yang disuruh, saya kerjakan dengan baik,” ujar Made kepada Anang.

Mungkin hidup keras itulah yang membentuk mentalnya. Karena orang yang terlalu sering dimudahkan, biasanya gampang menyerah. Sedangkan orang yang sejak awal terbiasa sulit, seringkali tumbuh menjadi pribadi yang tahan banting.

Dari Made Kuat ini Anang juga belajar, pengabdian tidak harus selalu dimulai dari tempat yang sempurna. Prestasi juga tidak harus menunggu fasilitas lengkap. Kadang yang dibutuhkan hanya satu hal: kemauan untuk tetap bekerja maksimal dalam keadaan apa pun.

"Saya kira daerah ini membutuhkan lebih banyak kepala Puskesmas seperti Made Saritani. Orang-orang yang tidak sibuk mencari justifikasi, tetapi sibuk mencari solusi. Bahkan prestasi," tutur Anang.(mcgorontaloprov)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....