Studi: Hobi Seru ini Bantu Melindungi Kesehatan Otak untuk Paruh Baya
- 11 Mei 2026 14:54 WIB
- Gorontalo
Poin Utama
- Hobi aktif dapat membantu menjaga kesehatan otak sejak usia paruh baya.
- Kombinasi aktivitas fisik, sosial, dan mental lebih bermanfaat bagi kognisi.
- Depresi, cedera otak, diabetes, hipertensi, dan kurang tidur dapat mengganggu otak.
RRI.CO.ID, Gorontalo - Hobi menyenangkan ternyata dapat membantu menjaga kesehatan otak sejak usia paruh baya. Studi baru menyoroti manfaat musik, olahraga, membaca, bepergian, dan bersosialisasi.
Penelitian ini terbit pada Selasa, 21 April 2026. Studi tersebut dimuat dalam Alzheimer’s & Dementia: Diagnosis, Assessment & Disease Monitoring.
Peneliti menganalisis data 700 orang berusia 40 hingga 59 tahun. Peserta berasal dari Irlandia dan Inggris dengan kondisi kognitif yang sehat.
Sekitar sepertiga peserta memiliki risiko genetik penyakit Alzheimer pada usia lanjut. Namun, aktivitas merangsang tetap berkaitan dengan kesehatan kognitif yang lebih baik.
Kegiatan yang dinilai meliputi berlatih alat musik, membaca, berolahraga, dan bepergian. Aktivitas lain mencakup belajar bahasa kedua, membuat seni, dan bertemu keluarga atau teman.
“Kami terkejut melihat bahwa aktivitas sehari-hari yang merangsang secara signifikan meningkatkan kognisi di usia paruh baya, beberapa dekade sebelum penurunan kognitif terkait usia terjadi,” kata peneliti senior Lorina Naci, seorang profesor psikologi di Trinity College Dublin di Irlandia.
“Yang terpenting, kami melihat bahwa manfaat yang lebih besar diperoleh dari kombinasi berbagai aktivitas, bukan hanya satu aktivitas saja,” kata Naci dalam siaran pers.
“Hasil kami menunjukkan bahwa variasi adalah kunci dan kombinasi stimulasi fisik, sosial, dan mental paling efektif untuk meningkatkan kesehatan otak,” katanya.
Studi ini juga menyoroti beberapa faktor risiko bagi kesehatan otak. Gejala depresi dan cedera otak traumatis disebut sebagai faktor paling berbahaya.
Faktor lain meliputi diabetes, tekanan darah tinggi, kurang tidur, dan gangguan pendengaran. Peneliti menilai faktor tersebut perlu dikelola sejak usia paruh baya.
“Penelitian ini sangat bermanfaat: Penelitian ini menunjukkan bahwa terlibat dalam beragam aktivitas yang merangsang – seperti bersosialisasi, mempelajari keterampilan baru, tetap aktif secara fisik, dan memelihara kesehatan mental – dapat secara aktif memperkuat ketahanan kognitif beberapa dekade sebelum gejala apa pun muncul, bahkan bagi mereka yang memiliki risiko genetik dan riwayat keluarga demensia,” kata Naci.
Temuan ini tidak berarti hobi tertentu pasti mencegah Alzheimer atau demensia. Studi tersebut menunjukkan keterkaitan antara aktivitas merangsang dan kesehatan otak.
“Hal ini juga menunjukkan bahwa pemerintah yang serius dalam mengurangi beban demensia di masa depan perlu memprioritaskan intervensi gaya hidup di usia pertengahan, termasuk dukungan kesehatan mental, manajemen risiko kardiovaskular, pencegahan cedera otak, dan akses ke program pembelajaran seumur hidup dan keterlibatan masyarakat,” tambah Naci.
Masyarakat dapat memulai dari kebiasaan sederhana yang mudah dilakukan.
Membaca, berjalan kaki, bermain musik, dan menjaga relasi sosial dapat menjadi pilihan.
Peneliti masih akan mengikuti peserta untuk melihat perkembangan faktor risiko tersebut.
Berita ini diolah dan disunting dengan melibatkan teknologi AI.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....