Tenun Gorontalo yang Punah di Desa Barakati Kecamatan Batudaa
- 30 Sep 2026 19:36 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo - Jejak tenun tradisional Gorontalo kini hanya tersisa dalam ingatan keluarga penenun dan sejumlah hasil penelitian. Di Desa Barakati, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, tradisi menenun yang dahulu diwariskan antargenerasi kini telah berhenti.
Salah satu keluarga yang masih menyimpan cerita tentang tradisi tersebut adalah keluarga Sa’idah Puluhulawa. Welianti Payu, anggota keluarga penenun, mengatakan keterampilan menenun dahulu menjadi bagian dari kehidupan perempuan di lingkungannya.
Menurut Welianti, kemampuan menenun diwariskan dari orang tua kepada anak secara turun-temurun. Bahkan, terdapat anggapan di masyarakat pada masa itu bahwa perempuan perlu menguasai keterampilan menenun sebelum menikah.
“Harus belajar. Katanya harus belajar kalau cewek-cewek. Turun-temurun maksudnya,” ujar Welianti.
Proses pembuatan tenun pada masa lalu juga tidak sepenuhnya bergantung pada benang yang diproduksi pabrik. Welianti mengingat adanya kapas yang ditanam masyarakat, meski jumlahnya tidak banyak.
Kapas tersebut kemudian diproses untuk menjadi bahan benang yang digunakan dalam pembuatan kain.
Salah satu jenis tanaman kapas yang disebut dalam ingatan keluarga adalah Tiopo. Tanaman tersebut disebut memiliki serat yang kuat dan dahulu ditanam di sekitar kebun masyarakat.
Namun, tanaman tersebut kini tidak lagi dibudidayakan.
“Tidak diteruskan,” kata Welianti.
Menurut Welianti, proses menenun sendiri membutuhkan ketelitian dan keterampilan khusus. Sejumlah orang pernah belajar dari para penenun yang lebih tua, tetapi proses pewarisan itu tidak berlangsung hingga generasi berikutnya.
Di rumah keluarga tersebut, kini hanya tersisa satu hasil tenun yang menjadi salah satu bukti fisik dari tradisi yang pernah hidup di Barakati.
“Cuma ini yang tersisa. Yang saya punya,” ujar Welianti.
Sekretaris Desa Barakati Irma Hajamati mengatakan pemerintah desa saat ini tidak memiliki data lengkap mengenai penenun yang pernah ada di wilayah tersebut. Informasi tentang tradisi menenun lebih banyak diketahui melalui cerita masyarakat dan orang-orang tua.
“Kalau data itu kami tidak punya, cuma pernah dengar bahwa di Barakati itu memang ada penenun, tapi orangnya sudah meninggal,” kata Irma.
Cerita mengenai tanaman kapas untuk bahan tenun juga masih ditemukan dalam penuturan masyarakat terdahulu.
“Dari orang tua itu ada pohon Tiopo itu yang ditanam di hutan, di kebun-kebun begitu,” ujarnya.
Jejak tenun Barakati juga pernah diteliti akademisi I Wayan Sudana pada 2011. Saat melakukan penelitian, Sudana masih menemukan dua orang penenun di Desa Barakati.
Pada masa itu, menurut Sudana, para penenun menggunakan kapas yang diperoleh dari ladang sendiri. Kapas tersebut dipintal menjadi benang, sedangkan pewarna kain menggunakan bahan-bahan alam.
“Saya pernah melakukan riset tenun Gorontalo di Desa Barakati itu tahun 2011. Pada waktu itu ada dua penenun di sana,” ujar Sudana.
Produksi tenun ketika itu belum menjadi pekerjaan utama. Kain dibuat ketika ada pesanan dan kemudian dipasarkan di sekitar wilayah tersebut.
“Mereka menghasilkan tenun, dijual di sekitar situ. Tapi bukan merupakan pekerjaan tetap, karena tidak lancar pemasarannya,” katanya.
Sudana menilai persoalan utama yang menyebabkan tenun Gorontalo di Barakati akhirnya berhenti adalah hilangnya regenerasi.
Keterampilan tersebut pernah diajarkan kepada generasi muda, namun tidak banyak yang tertarik untuk melanjutkannya. Selain dianggap rumit, proses menenun juga membutuhkan peralatan khusus dan persiapan yang lebih besar.
“Tenun ini punah karena hilangnya regenerasi,” ujar Sudana.
Hilangnya regenerasi membuat pengetahuan mengenai teknik dasar menenun ikut terputus. Mulai dari pengolahan kapas, pemintalan benang, penyusunan benang, hingga proses membentuk kain tidak lagi dikuasai oleh generasi penerus di Barakati.
Sudana mengatakan, berdasarkan dokumen yang pernah ditelusurinya, keberadaan tenun Gorontalo memiliki sejarah yang panjang. Ia menyebut dokumentasi mengenai tenun Gorontalo menunjukkan keberadaannya sejak sekitar abad ke-19.
“Kalau kita lihat dokumen-dokumen yang ada, tenun Gorontalo itu sebenarnya telah ada sejak tahun 1800-an,” katanya.
Menurut Sudana, menghidupkan kembali tenun Gorontalo membutuhkan proses yang dimulai dari keterampilan paling dasar. Karena teknik menenun di Gorontalo telah terputus, generasi baru perlu mempelajarinya kembali dari awal.
“Kalau ingin tenun itu dibangkitkan harus ada lagi generasi yang dididik keterampilan dasar untuk menenun itu,” ujar Sudana.
Setelah keterampilan dasar dikuasai, pengembangan dapat diarahkan pada pencarian dan penerapan kembali motif-motif lokal Gorontalo. Produk tenun juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat saat ini agar keterampilan tersebut memiliki fungsi sekaligus peluang untuk berkembang.
“Setelah menguasai keterampilan dasar menenun itu, maka di situlah kita mulai menyisipkan motif-motif lokal Gorontalo,” kata Sudana.
Bagi Desa Barakati, hilangnya tradisi tenun bukan hanya kehilangan sebuah produk kerajinan. Yang ikut terputus adalah pengetahuan mengenai cara mengolah bahan alam menjadi benang, teknik membentuk kain, serta cerita yang menyertainya.
Kini, sebagian jejak tersebut masih tersimpan dalam ingatan keluarga penenun terakhir dan penelitian yang pernah dilakukan.
Sementara satu hasil tenun yang masih tersimpan di rumah keluarga menjadi pengingat bahwa sebelum akhirnya menghilang, tenun Gorontalo pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Barakati.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....