Sensus Ekonomi dan Cerita Jujur dari Teras Rumah Warga

  • 17 Jun 2026 12:46 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Suasana di Kelurahan Wumialo Timur, Kota Tengah Kota Gorontalo, terasa sedikit berbeda. Sejumlah petugas Sensus Ekonomi 2026 tampak menyusuri lorong-lorong permukiman warga, mengetuk pintu rumah satu per satu untuk melakukan pendataan, Rabu 17 Juni 2026. Namun yang terlihat bukan suasana wawancara yang tegang, melainkan percakapan hangat yang diselingi tawa. Di beberapa rumah, petugas dan responden bahkan sudah saling mengenal. Kedekatan itu membuat proses wawancara berlangsung lebih santai.

Pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan petugas dijawab dengan penuh keakraban, layaknya obrolan tetangga yang sedang berbincang di teras rumah.

Gelak tawa sesekali pecah ketika petugas mengingatkan kembali perjalanan usaha yang dijalankan responden. Ada yang bercanda soal omzet yang naik turun, ada pula yang menyelipkan cerita keseharian di tengah proses pendataan.

Suasana berubah sedikit berbeda ketika pembicaraan mulai menyentuh kondisi ekonomi rumah tangga. Beberapa warga terlihat tersenyum malu saat diminta menjelaskan pengeluaran keluarga, terutama biaya makan dan minum yang dikeluarkan dalam sepekan.

Ada yang sempat berpikir lama sebelum menjawab. Ada pula yang tertawa kecil sambil menoleh kepada anggota keluarga lainnya untuk memastikan angka yang disampaikan tidak keliru. Momen-momen seperti itu justru menghadirkan sisi manusiawi dalam proses pendataan yang selama ini identik dengan angka dan formulir.

Meski demikian, keterbukaan warga tetap menjadi kunci. Petugas dengan sabar menjelaskan bahwa seluruh informasi yang diberikan akan menjadi bagian penting dalam menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat secara utuh.

Salah seorang responden, Yudin Hasan, pemilik usaha bentor, mengaku merasa nyaman mengikuti proses wawancara karena petugas menjelaskan tujuan pendataan dengan baik.

“Karena petugasnya juga ramah dan sudah ada yang saya kenal, jadi tidak terasa seperti sedang diwawancarai. Lebih seperti sedang bercerita saja,” ucap Yudin Hasan.

Menurut Yudin, beberapa pertanyaan memang cukup rinci, termasuk menyangkut pengeluaran rumah tangga dan kebutuhan keluarga. Namun ia memahami data tersebut dibutuhkan untuk memperoleh gambaran kondisi masyarakat yang sebenarnya.

“Ada pertanyaan tentang biaya seragam anak sekolah, jujur pak, itu biaya besar setiap tahun kalua mengganti baju sekolah anak,” tambahnya.

Tak hanya aktivitas usaha, kebutuhan perlengkapan sekolah anak-anak juga menjadi bagian yang didata dalam Sensus Ekonomi 2026. Informasi tersebut menjadi salah satu indikator yang dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan rumah tangga dan kemampuan ekonomi keluarga.

Kepala BPS Kota Gorontalo, Sri Dewi Monoarfa, mengatakan Sensus Ekonomi 2026 bertujuan memperbarui data seluruh aktivitas usaha yang ada di Kota Gorontalo, mulai dari Usaha Mikro dan Kecil (UMK) hingga usaha berskala besar.

“Sensus Ekonomi 2026 tidak hanya memotret perkembangan usaha, tetapi juga memberikan gambaran terkini mengenai kondisi kesejahteraan masyarakat. Data ini sangat penting untuk mendukung perencanaan pembangunan yang tepat sasaran,” kata Sri Dewi Monoarfa.

Ia menjelaskan pelaksanaan sensus di Kota Gorontalo melibatkan 157 petugas yang tersebar di sembilan kecamatan. Di balik setiap data yang terkumpul, tersimpan cerita tentang perjuangan usaha, kebutuhan keluarga, tawa yang menghangatkan suasana, hingga rasa malu yang justru memperlihatkan sisi jujur kehidupan masyarakat sehari-hari.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....