Ekonomi Digital dan Tantangan UMKM di Gorontalo

  • 13 Des 2025 15:28 WIB
  •  Gorontalo

KBRN, Gorontalo : Ekonomi digital yang berkembang pesat saat ini menawarkan peluang besar bagi pelaku usaha, termasuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), untuk memperluas jangkauan pasar mereka. Namun, untuk memanfaatkan potensi tersebut, dibutuhkan kesiapan dari berbagai pihak, terutama dalam hal pengumpulan data dan pemahaman terhadap kemampuan adaptasi UMKM terhadap digitalisasi.

Prof. Fahrudin Olilingo, pakar ekonomi dan akademisi dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengatakan, perkembangan ekonomi digital saat ini sangat pesat, terutama dalam kaitannya dengan pasar yang dapat dijangkau. Dirinya, menekankan pentingnya pemahaman tentang bagaimana ekonomi digital dapat membuka peluang besar, khususnya dalam pemasaran produk dan layanan. Hal ini tentu menjadi tantangan sekaligus peluang bagi UMKM untuk berkembang lebih luas, mengingat potensi pasar internasional yang dapat dijangkau.

"Kecenderungan saat ini ekonomi digital itu berkembang sangat pesat, terutama berkaitan dengannya market, dan ini tentu sangat dibutuhkan data ini, sejauh mana kita memiliki kemampuan untuk mengantisipasi market ke depan. Sebab, dengan ekonomi digital itu, market bisa terbuka tidak hanya di daerah atau regional, bahkan internasional." Ujar Fahrudin

Lebih lanjut, Fahrudin menyampaikan, untuk memanfaatkan peluang ini, UMKM perlu memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan yang dituntut oleh digitalisasi. Namun, dalam pengumpulan data terhadap pelaku UMKM, Prof. Fahrudin mengingatkan pentingnya penyusunan pertanyaan yang tepat dan tidak berbelit-belit.

"Sejauh mana masyarakat bisa memanfaatkan digitalisasi, itu menjadi penting. Jika kita melakukan pendataan terhadap UMKM, seberapa besar mereka memiliki kemampuan untuk mengantisipasi atau melakukan kegiatan digitalisasi dalam bisnisnya?" jelasnya

"Dalam melakukan pertanyaan kepada pelaku UMKM, sebaiknya jangan terlalu rumit. Sudah ada polanya, sudah ada pertanyaan dari BPS pusat, tetapi kami biasa juga melakukan riset-riset. Jika perlu, pertanyaannya sampai 34 halaman, itu biasanya masyarakat akan bosan, dan akhirnya mereka akan menjawab soal-soal asal-asalan," ujar Fahrudin

Ia menambahkan, penyusunan instrumen survei yang efektif sangat krusial.

"Jadi, ini harus dihindari: jangan terlalu banyak pertanyaan, dan yang kedua, jangan terlalu rumit-rumit. Ini yang harus dipahami agar data yang diperoleh benar-benar menggambarkan kondisi UMKM," tandasnya.

Melihat kecenderungan ini, Prof. Fahrudin berharap agar pemerintah dan lembaga terkait terus mengedukasi serta memfasilitasi UMKM untuk beradaptasi dengan ekonomi digital. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekonomi lokal dan memberikan kesempatan lebih besar bagi UMKM untuk berkembang di pasar global. (RA)


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....