MBG dan KDKMP, Prabowo Tuai Dukungan di Daerah

  • 11 Mei 2026 16:24 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.IC, Gorontalo - Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Pulau Miangas di Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara hingga Gorontalo memunculkan antusiasme besar dari masyarakat terhadap program-program pemerintah, khususnya Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Di Gorontalo, Presiden juga meresmikan Kampung Nelayan Merah Putih di Kelurahan Leato Selatan, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Gorontalo, Herwin Mopangga menilai, sambutan masyarakat terhadap program MBG menunjukkan adanya perbedaan cara pandang antara masyarakat perkotaan dan daerah pinggiran terhadap kebijakan pemerintah. Menurut Herwin, di sejumlah daerah seperti Gorontalo, Miangas dan Talaud, program MBG dipandang sebagai bentuk nyata kehadiran negara dalam membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi tersebut berbeda dengan kritik yang berkembang di kota-kota besar yang menilai program itu membebani anggaran negara.

“Bagi masyarakat daerah dengan pendapatan terbatas, MBG bukan sekadar program makan gratis, tetapi menjadi simbol kehadiran negara dalam membantu kebutuhan dasar masyarakat,” ujar Herwin

Ia menjelaskan, struktur ekonomi Gorontalo masih sangat dipengaruhi konsumsi rumah tangga dan sektor primer seperti pertanian, kehutanan dan perikanan. Meski pertumbuhan ekonomi Gorontalo pada Triwulan I Tahun 2026 tercatat cukup tinggi, masyarakat bawah masih sangat sensitif terhadap daya beli, harga pangan dan bantuan pemerintah.

Herwin menyebut, kondisi tersebut membuat program-program perlindungan sosial seperti MBG memperoleh dukungan besar dari masyarakat daerah. Menurutnya, antusiasme warga tidak bisa hanya dipandang sebagai fanatisme politik, tetapi berkaitan langsung dengan kondisi ekonomi masyarakat yang masih membutuhkan perlindungan sosial negara.

Selain MBG, program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih juga dinilai memiliki peluang memperkuat ekonomi daerah jika diintegrasikan dengan pengembangan sektor pertanian, perikanan, peternakan dan UMKM lokal.

Ia menilai, Gorontalo saat ini sedang membangun fondasi transformasi ekonomi melalui hilirisasi pertanian dan peternakan, pembangunan bendungan, pengembangan kawasan pangan hingga digitalisasi UMKM melalui sistem pembayaran QRIS.

Menurut Herwin, program MBG dan KDKMP tidak boleh berhenti hanya sebagai program bantuan sosial semata, tetapi harus diarahkan menjadi penggerak rantai pasok ekonomi lokal.

“Beras harus diserap dari petani daerah, ikan dari nelayan lokal, begitu juga telur dan ayam dari peternak rakyat. Kalau terintegrasi dengan ekonomi lokal, program ini bisa menjadi instrumen penggerak ekonomi daerah,” katanya

Ia juga menilai koperasi desa harus dikembangkan menjadi pusat ekonomi modern berbasis distribusi pangan, logistik hasil pertanian dan perikanan, hingga digitalisasi UMKM agar mampu menciptakan dampak ekonomi berkelanjutan di daerah.

Herwin menambahkan, perbedaan respons masyarakat daerah dan perkotaan terhadap program pemerintah menunjukkan masih adanya ketimpangan pembangunan di Indonesia. Menurutnya, sebagian masyarakat telah berbicara mengenai investasi dan produktivitas global, sementara masyarakat di wilayah pinggiran masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

“Indonesia bukan hanya kota besar, tetapi juga wilayah pesisir, kepulauan dan daerah pinggiran yang membutuhkan kehadiran langsung negara,” pungkasnya. (RA)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....