Gorontalo Didorong Percepat PSN Hilirisasi Ternak Ayam
- 02 Mei 2026 19:05 WIB
- Gorontalo
RRI.co.id, Gorontalo - Pemerintah Provinsi Gorontalo bersama pemerintah kabupaten/kota didorong memperkuat koordinasi dan kolaborasi dalam mempercepat pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN) hilirisasi ternak ayam. Langkah tersebut dinilai penting sebagai strategi antisipatif menghadapi potensi perlambatan ekonomi global, tekanan daya beli masyarakat, dampak konflik geopolitik di Timur Tengah, hingga pelemahan nilai tukar rupiah yang berpotensi memengaruhi harga pangan dan biaya produksi.
Dorongan itu disampaikan Dr. Herwin Mopangga, Local Expert Mitra Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Provinsi Gorontalo usai mengikuti Forum Koordinasi Fiskal dan Moneter antara jajaran Kemenkeu Satu, Bank Indonesia, dan Pemerintah Provinsi Gorontalo, Kamis 30 April 2026, di Aula Kanwil DJPb, Kota Gorontalo.
Menurut Herwin, Gorontalo yang masih menghadapi keterbatasan kapasitas fiskal, tingginya ketergantungan pada transfer pusat, serta struktur ekonomi berbasis komoditas primer bernilai tambah rendah, membutuhkan percepatan proyek produktif yang mampu menciptakan dampak ekonomi luas dan cepat.
“Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, daerah seperti Gorontalo tidak cukup hanya mengandalkan konsumsi rumah tangga dan belanja rutin pemerintah. Kita membutuhkan mesin pertumbuhan baru yang nyata, salah satunya melalui hilirisasi ternak ayam yang terintegrasi dari hulu sampai hilir,” ujarnya
Ia menjelaskan, konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga energi dunia dan biaya logistik internasional. Sementara pelemahan rupiah dapat meningkatkan harga bahan baku impor seperti pakan ternak, bibit, obat hewan, serta komponen industri lainnya. Kondisi ini dinilai dapat menekan margin usaha, meningkatkan harga pangan domestik, dan melemahkan daya beli masyarakat jika tidak diantisipasi sejak dini.
Karena itu, percepatan hilirisasi ternak ayam dinilai strategis karena menyentuh langsung sektor riil dan kebutuhan pokok masyarakat. Industri ayam ras memiliki rantai ekonomi panjang, mulai dari jagung sebagai bahan baku pakan, peternakan rakyat, rumah potong unggas, distribusi dingin, industri makanan, hingga perdagangan ritel.
Herwin menilai Gorontalo memiliki modal dasar kuat untuk menjadi pusat industri unggas di kawasan timur Indonesia. Daerah ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi jagung nasional, sementara jagung merupakan komponen utama bahan baku pakan ternak. Dengan pasokan jagung lokal yang besar, biaya produksi pakan dapat ditekan dan ketergantungan pada pasokan luar daerah bisa dikurangi.
“Selama ini jagung banyak keluar daerah sebagai bahan mentah. Nilai tambah terbesar justru dinikmati daerah lain yang memiliki industri pakan dan peternakan. Ini yang harus dibalik. Gorontalo harus masuk ke fase industrialisasi berbasis jagung,” tegasnya.
Selain memperkuat struktur ekonomi daerah, percepatan proyek hilirisasi juga dinilai relevan dengan agenda percepatan penyerapan anggaran pemerintah, baik APBN maupun APBD. Proyek strategis produktif disebut akan menciptakan dampak ganda, yakni meningkatkan realisasi belanja negara dan daerah sekaligus mendorong penciptaan lapangan kerja, pendapatan masyarakat, serta penerimaan pajak ke depan.
“Setiap rupiah anggaran yang masuk ke proyek produktif akan berputar ke masyarakat melalui tenaga kerja, bahan bangunan, transportasi, jasa konstruksi, dan konsumsi rumah tangga. Dampaknya jauh lebih besar dibanding belanja administratif,” katanya.
Ia menambahkan, industri unggas juga berpotensi menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar, mulai dari sektor budidaya, pengolahan, logistik, pemasaran, hingga usaha kuliner turunan.
Agar proyek berjalan cepat, Herwin menilai dibutuhkan kerja bersama antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, terutama dalam penyediaan lahan, kepastian tata ruang, pembangunan infrastruktur jalan, listrik, air, kemudahan perizinan investasi, dukungan pembiayaan peternak plasma dan UMKM, penguatan SDM vokasi peternakan modern, serta integrasi jagung lokal dengan industri pakan.
“Kalau provinsi dan kabupaten/kota bergerak sendiri-sendiri, proyek akan lambat. Tapi kalau bergerak bersama dengan satu peta jalan, Gorontalo bisa menjadi episentrum industri unggas Indonesia Timur,” ujarnya.
Percepatan hilirisasi ayam juga dinilai penting dari sisi pengendalian inflasi. Daging ayam dan telur merupakan komoditas utama masyarakat yang berkontribusi besar terhadap indeks harga konsumen. Jika pasokan lokal kuat, ketergantungan pada pasokan luar daerah dapat berkurang sehingga gejolak harga lebih mudah dikendalikan.
Herwin menegaskan momentum saat ini tidak boleh disia-siakan. Di tengah ketidakpastian global, daerah harus bergerak cepat menciptakan sumber pertumbuhan domestik baru.
“Gorontalo tidak boleh hanya menjadi penonton dan pemasok bahan mentah. Kita harus naik kelas menjadi pusat produksi pangan modern dan industri unggas nasional. Ini momentum untuk melompat,” pungkasnya. (RA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....