Biji Jenitri Tembus Pasar Dunia

  • 27 Jun 2026 17:39 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Di tengah beragam komoditas perkebunan Indonesia, terdapat satu tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi bukan karena buahnya, melainkan bijinya. Tanaman jenitri (Elaeocarpus ganitrus) telah lama dikenal sebagai penghasil biji berkualitas yang dimanfaatkan sebagai bahan baku tasbih, aksesori spiritual, hingga berbagai produk kerajinan bernilai jual tinggi. Keunikan tersebut menjadikan jenitri sebagai salah satu komoditas hasil hutan dan perkebunan yang memiliki prospek menjanjikan di pasar domestik maupun internasional.

Tidak seperti tanaman buah pada umumnya yang dipanen untuk dikonsumsi, buah jenitri justru dibiarkan matang hingga kulitnya melunak. Setelah itu, bijinya dipisahkan dari daging buah, dibersihkan, kemudian dijemur hingga benar-benar kering. Biji yang telah melalui proses tersebut memiliki tekstur keras, kuat, dan dihiasi alur-alur alami yang khas sehingga menjadi daya tarik utama bagi para perajin.

Menurut berbagai literatur botani, Elaeocarpus ganitrus merupakan tanaman yang tumbuh baik di wilayah tropis, termasuk Indonesia, India, Nepal, dan beberapa negara di Asia Tenggara. Pohon ini mampu mencapai tinggi lebih dari 20 meter dan dapat berproduksi selama puluhan tahun. Kondisi iklim tropis dengan curah hujan yang cukup menjadikan Indonesia sebagai salah satu daerah yang potensial untuk pengembangan budidaya jenitri.

Di pasar internasional, biji jenitri lebih dikenal sebagai rudraksha, yaitu biji yang banyak digunakan dalam tradisi spiritual masyarakat Hindu dan Buddha sebagai tasbih meditasi maupun perlengkapan ibadah. Permintaan dari negara seperti India, Nepal, hingga beberapa negara Asia lainnya terus meningkat setiap tahun. Hal ini membuka peluang ekspor bagi petani dan pelaku usaha Indonesia yang membudidayakan tanaman tersebut.

Selain dimanfaatkan sebagai perlengkapan spiritual, biji jenitri kini juga berkembang menjadi bahan baku industri kreatif. Berbagai produk seperti gelang, kalung, gantungan kunci, aksesori fesyen, hingga suvenir dibuat dari biji jenitri. Keunikan motif alami yang berbeda pada setiap biji membuat produk ini memiliki nilai estetika tinggi dan diminati oleh kolektor maupun wisatawan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta sejumlah penelitian dari perguruan tinggi menyebutkan bahwa pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, termasuk jenitri, dapat menjadi alternatif peningkatan pendapatan masyarakat tanpa harus merusak kelestarian hutan. Pengembangan komoditas seperti jenitri juga sejalan dengan upaya mendorong ekonomi hijau dan pemberdayaan masyarakat berbasis sumber daya lokal.

Di sejumlah daerah di Indonesia, seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga sebagian wilayah Sumatra, budidaya jenitri mulai berkembang karena dinilai memiliki prospek ekonomi yang baik. Perawatan tanaman ini relatif mudah, mampu tumbuh di dataran rendah hingga menengah, serta memiliki umur produktif yang panjang sehingga dapat menjadi investasi jangka panjang bagi petani.

Kisah jenitri menjadi bukti bahwa nilai suatu tanaman tidak selalu terletak pada buah yang dikonsumsi. Justru dari bijinya yang sederhana, tercipta peluang usaha bernilai tinggi yang mampu menembus pasar ekspor. Dengan pengelolaan yang baik, jenitri berpotensi menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan hasil hutan bukan kayu yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....