Harga Bahan Baku Diprediksi Naik, UMKM Mulai Waspada Tekanan Inflasi

  • 03 Jun 2026 20:28 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo - Pelaku usaha kecil dan menengah mulai diminta meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi tekanan inflasi pada periode Juni hingga September 2026. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan kenaikan harga bahan baku di sejumlah sektor produksi dan distribusi yang berpotensi memengaruhi biaya usaha masyarakat.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius, terutama bagi UMKM berbasis produksi seperti usaha makanan, minuman, kerajinan, hingga produk rumah tangga. Kenaikan biaya bahan baku dinilai dapat menekan margin keuntungan pelaku usaha di tengah kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya stabil.

Berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia periode Maret 2026, Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk Juni 2026 tercatat naik menjadi 175,6 dari sebelumnya 157,4 pada Mei 2026. Sementara untuk September 2026 diperkirakan mencapai 163,2, lebih tinggi dibanding Agustus 2026 sebesar 157,2.

Kenaikan indeks tersebut menunjukkan semakin kuatnya keyakinan pelaku usaha ritel terhadap potensi naiknya harga barang dalam beberapa bulan mendatang. Tekanan utama dipicu meningkatnya biaya bahan baku yang mulai dirasakan di tingkat produsen dan distributor.

Situasi ini diperkirakan berdampak langsung pada sejumlah sektor usaha yang sangat bergantung pada bahan baku pangan maupun produk impor. Usaha makanan dan minuman olahan menjadi salah satu sektor paling rentan karena bergantung pada harga tepung, gula, minyak goreng, hingga kemasan plastik yang sensitif terhadap fluktuasi pasar.

Selain itu, usaha rumah tangga berbasis produk kimia seperti sabun, deterjen, hingga produk perawatan diri juga diprediksi ikut terdampak apabila harga bahan baku industri mengalami kenaikan. Kondisi serupa berpotensi dirasakan pelaku usaha yang menggunakan bahan baku impor apabila nilai tukar rupiah mengalami pelemahan.

Di sisi lain, Bank Indonesia juga memperkirakan penjualan eceran justru mengalami perlambatan pada periode yang sama. Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Juni 2026 diproyeksikan turun menjadi 136,8 dibanding Mei 2026 sebesar 147,2.

Untuk September 2026, IEP bahkan diprediksi turun menjadi 137,8 dari sebelumnya 162,4 pada Agustus 2026. Penurunan tersebut dipengaruhi faktor musiman seperti pengeluaran rumah tangga untuk pendidikan serta normalisasi konsumsi masyarakat setelah periode libur panjang.

Kondisi tersebut menciptakan tekanan ganda bagi pelaku UMKM. Di satu sisi biaya produksi berpotensi meningkat, sementara di sisi lain penjualan diperkirakan melambat. Pelaku usaha pun mulai didorong melakukan penyesuaian strategi agar tetap mampu menjaga kestabilan usaha.

Pelaku UMKM diharapkan mulai melakukan efisiensi biaya produksi, pengaturan stok bahan baku, hingga penyesuaian harga secara bertahap agar tidak terlalu membebani konsumen. Langkah antisipasi dinilai penting agar usaha kecil tetap mampu bertahan menghadapi dinamika ekonomi dalam beberapa bulan ke depan.

Pewarta: Anwar Perambahan

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....